AS Keliru Besar di Somalia | Fokus | DW | 10.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

AS Keliru Besar di Somalia

Dunia mengecam serangan Amerika di Somalia. Waktu yang tidak tepat dan tindakan yang tak layak, dinilai cuma akan memperparah masalah.

default

Dalam hari-hari terakhir ini, angkatan udara AS melancarkan sejumlah serangan terhadap tersangka teroris, di mana juga warga sipil menjadi korban. Nampaknya serangan itu tidak dibicarakan sebelumnya dengan PBB. Serangan itu hanya akan mendatangkan lebih banyak teror dan kekerasan, demikian kesimpulan Ludger Schadomsky dalam komentarnya.

Selama ini hanyalah Abdirizak Hassan, pejabat kantor presiden transisi Somalia, Abdullahi Yusuf, dan seorang petugas dinas rahasia AS yang tidak disebut namanya, yang mengemukakan bahwa AS berhasil mencapai sasarannya. Setidaknya Fazul Abdullah Mohammad, yang dianggap mendalangi serangan terhadap kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania, tewas dalam serangan di selatan Somalia itu. Tidak mudah untuk percaya sepenuhnya. Tetapi yang sudah pasti adalah kerugian politik yang diakibatkan serangan tersebut. Semua pihak mengecamnya.

Aksi yang dijalankan AS merupakan tamparan bagi semua pihak yang lebih mengutamakan dialog daripada konfrontasi. Keputusan yang diambil di Nairobi pekan lalu, yakni meluaskan pemerintahan sementara menjadi pemerintah kesatuan nasional, imbauan agar Ethiopia segera menarik pasukannya dan juga pembiayaan lanjutan pasukan perdamaian Uni Afrika, merupakan pertanda, bahwa dunia internasional mulai menemukan semacam road map bagi Somalia dan Tanduk Afrika.

Serangan udara dengan sejumlah korban sipil merupakan pukulan bagi politik tersebut. Tidak penting lagi, apakah pesawat tempur Etiopia akan terlibat dalam serangan selanjutnya. Baik AS maupun Etiopia sudah dianggap sebagai agresor Kristen di negara yang 99 persen penduduknya beragama Islam. Seruan untuk berjihad tak lama lagi pastilah akan berdampak luas di kalangan kaum muda Somalia, yang menganggur, tak punya masa depan, dan nantinya mudah menjadi radikal dan fanatik. Itu akan menyuburkan serangan bunuh diri di Nairobi atau Addis Abeba, yang sebenarnya justru hendak dicegah.

AS memang berhak melacak pelaku serangan terhadap kedutaannya di Kenya dan Tanzania. Tetapi tujuan itu tidak dapat menghalalkan sarana yang digunakan di sebuah negara seperti Somalia. Kecaman dari pemerintah Norwegia kiranya tepat sekali: "Terorisme internasional harus diperangi lewat pengadilan."

Awal tahun 90-an, intervensi kemanusiaan AS di Tanduk Afrika masih menyandang motto "restoring hope" - pemulihan harapan. Kepada warga Somalia hendak dikembalikan harapan untuk memiliki kehidupan yang manusiawi. Misi itu mengakibatkan tewasnya 18 serdadu AS dan timbulnya trauma, yang sampai sekarang mempengaruhi politik luar negeri AS di Afrika. Setidaknya sejak serangan udara terbaru ini, jelaslah misi "Enduring Freedom", akan terungkap sebagai ilusi belaka. Siapa yang tidak mau memahami masalah dasar yang ada di sana, baik itu menyangkut politik, agama maupun penarikan batas negara secara sewenang-wenang, tentunya tidak bisa memberikan kebebasan berkesinambungan.

Diskualifikasi diri sendiri yang dilakukan AS dan gertakan ompong dari wakil Uni Afrika, kini justru membuka peluang bagi Eropa untuk membuktikan kemampuan sebagai penengah. Perjalanan komisaris Uni Eropa Louis Michel ke Somalia setelah terjadi tembak-menembak, hendaknya bukan merupakan upaya terakhir yang dilakukan Brussel dalam kasus Somalia. Dengan Jerman sebagai pemimpin, UE mempunyai jalur hubungan baik dengan Addis Abeba. Karena di sanalah letak kunci penyelesaian krisis Tanduk Afrika. Berlin, tanganilah!