AS Ingin Resolusi DK PBB Atas Iran | Fokus | DW | 13.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

AS Ingin Resolusi DK PBB Atas Iran

Sejak hari Rabu (12/7) kemarin, Dewan Keamanan punya isu mendesak. Masalah Korea Utara dan konflik Israe- Palestina harus menunggu.

John Bolton: Iran harus hentikan program pengayaan uranium

John Bolton: Iran harus hentikan program pengayaan uranium

Setelah Iran tidak memeberikan tanggapan positif pada usulan negara-negara Barat, dewan tertinggi di PBB itu harus membicarakan satu hal: sengketa program atom Iran. Ketua Dewan Keamanan saat ini, Jean Marc de la Sabliere menerangkan, masalah Iran sekarang ada di tangan Dewan Keamanan.

Sekarang Dewan Keamanan akan memutuskan, apa yang harus dilakukan Iran. Duta Besar Amerika Serikat di PBB John Bolton menegaskan sekali lagi tuntutannya, pertama-tama Iran harus diwajibkan menghentikan program pengayaan uraniumnya.

Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara itu sudah punya sebuah rancangan resolusi. Hanya rancangan ini bulan Mei lalu ditolak oleh Cina dan Rusia, yang punya hak veto. Setelah konsultasi lima anggota tetap Dewan Keamanan di Paris minggu ini, kelihatannya beberapa hal sudah bisa diselesaikan. Jadi, Duta Besar Amerika Serikat di PBB, John Bolton bernada lebih optimis. Ia mengharapkan, awal minggu depan Dewan Keamanan sudah bisa membahas hal ini.

Bolton bahkan mengharapkan pemungutan suara di Dewan Keamanan sudah bisa dilakukan Rabu depan. Rancangan resolusi yang ada sedikit diubah dan dibagi menjadi 2 bagian. Pertama tama ultimatum, baru kemudian sanksi. Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, John Bolton meneranngkan:

John Bolton: „Kami akan menegaskan, dan ini yang akan dirundingkan di Dewan Keamanan, bahwa Iran hanya punya waktu terbatas untuk bereaksi.Kalau tuntutan ini tidak dipenuhi, tahap selanjutnya sudah jelas adalah sanksi ekonomi.“

John Bolton selanjutnya menerangkan, tinggal 2 kemungkinan bagi Iran. Yang pertama adalah membuka babak hubungan baru dengan Amerika Serikat dan Barat, kalau Iran sudah menghentikan program pengayaan uraniumnya. Yang kedua, menghadapi isolasi politik dan tekanan ekonomi.

Apakah pernyataan Amerika Serikat hanya suatu langkah meningkatkan tekanan diplomatik, ataukah memang Rusia dan Cina sudah mengisyaratkan dukungan, tidak diketahui jelas. Ini baru bisa terlihat pada beberapa hari mendatang, kalau debat dibuka tentang resolusi terhadap Iran.