AS Hapuskan Hutang Liberia | Fokus | DW | 14.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

AS Hapuskan Hutang Liberia

Pada Pembukaan Konferensi Negara Donor Liberia di Washington yang disponsori oleh Bank Dunia, PBB, UE dan AS, dirembukkan langkah-langkah untuk membantu negara Afrika yang 14 tahun mengalami perang saudara.

Perang telah mengakibatkan rusaknya infrastruktur, pengangguran dan tuna aksara yang tinggi.

Presiden Liberia, Ellen Johnson Sirleaf mengatakan, masalah paling serius di negaranya adalah hutang yang sangat besar. Oleh karena itu, Sirleaf mengharapkan, Konferensi Negara Donor Liberia yang berlangsung di Washington dapat menemukan jalan untuk mengurangi beban hutang negara tersebut yang berjumlah sekitar 3, 7 milyar dollar Amerika Serikat. Banyak investor takut menanam modal akibat kondisi hutang itu. Penghapusan hutang dapat memberikan sinyal kepada pebisnis bahwa mereka dapat kembali ke Liberia. Demikian menurut Presiden Liberia Sirleaf. Selanjutnya ia mengatakan: „Terlalu banyak waktu terbuang untuk menulis surat dan menelpon para pemilik saham dan meminta agar menghapuskan hutang yang dipinjam pemerintahan pada masa lalu. Karena bunga yang tinggi, hutang itu kini sudah meningkat tiga kali lipat .“

Amerika Serikat adalah mitra dagang terpenting Liberia. Pada pembukaan Konferensi Negara Donor Liberia, Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice tidak hanya menjanjikan bantuan keuangan, tetapi juga penghapusan hutang. Rice: "Amerika Serikat sekarang dapat saja menuntut dari Liberia pengembalian hutang sebesar 391 juta dollar. Tetapi kami menghapuskan keseluruhan hutang tersebut, sesuai dengan kebijakan bagi negara-negara yang dililit hutang.“

Johnson Sirleaf selalu menekankan, masih banyak yang harus dikerjakan. Tetapi dia tampaknya bangga atas hasil yang telah tercapüai. Sejak tiga setengah tahun ini Liberia tenang. Angkatan bersenjata pemerintahan sebelumnya sudah dibubarkan dan yang baru sedang dibangun. Dalam kurun waktu beberapa bulan, pemerintah berhasil memperbaiki anggaran dasarnya dan memicu perkembangan ekonomi dalam berbagai sektor. Investasi asing dalam jumlah milyaran dollar, mulai masuk, misalnya perusahaan baja raksasa Arcelor Mittal.

Presiden Liberia, Johnson Sirleaf menyatakan terimakasihnya terutama atas dukungan Bank Dunia yang memungkinkan pembangunan jalan, bandara dan proyek air bersih. Dia menambahkan, baginya adalah penting untuk secepat mungkin menepati janji kepada warga Liberia dan dia juga tidak menyukai proses birokrasi yang terlalu menyita waktu.

Dalam Konferensi Negara Donor Liberia tersebut, Uni Eropa diwakili oleh komisaris urusan pembangunan dan bantuan kemanusiaan, Louis Michel. Dia tidak hanya menjanjikan bantuan keuangan, tetapi juga mengupayakan agar dana itu dapat lebih cepat dicairkan. Michel mengatakan: “Ini berarti bahwa tim kami di Liberia harus diperkuat, Ini akan cepat saya laksanakan, supaya kami dapat menyerahkan bantuan keuangan itu segera.”

Johnson Sirleaf selanjutnya mengemukakan, supaya perang tidak lagi berkobar di Liberia, pemerintah dan masyarakat internasional harus bertindak pada saat-saat yang menentukan ini. Kebijakan bersama pada bulan-bulan dan tahun mendatang akan menentukan masa depan Liberia.

Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional, IMF, Rodrigo Rato juga mendesak penyelesaian masalah hutang Liberia secepatnya. Dalam hal ini IMF mengusulkan penggunaan sebagian dari sumber khusus untuk membantu pembayaran hutang Liberia sejumlah 800 juta dollar.

Kesan pertama yang terlihat adalah, masayarakat internasional berkomitmen membantu Liberia agar berhasil. Dan negara itu mengambil untung dari presidennya yang pernah menjadi manager di Bank Dunia dan masih punya hubungan dan pengaruh di lembaga keuangan yang maha penting itu.