AS dan Jerman Puas Hasil Konferensi Irak | Fokus | DW | 04.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

AS dan Jerman Puas Hasil Konferensi Irak

Konferensi Irak di Sharm el Sheik, Mesir berakhir hari Jumat (04/05).

Menlu AS Condoleeza Rice dalam Konferensi Irak

Menlu AS Condoleeza Rice dalam Konferensi Irak

Sejak awal, optimisme digembar-gemborkan pada semua peserta konferensi. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleeza Rice malah melontarkan pernyataan bercanda ketika seorang wartawati bertanya mengapa ia belum bertemu dengan menteri luar negeri Irak. Pertanyaannya waktu itu adalah „Apakah Anda mengejar-ngejarnya dan jadinya dia menolak Anda.“ Condoleeza Rice menjawab:

„Mengapa? Harusnya Anda bertanya pada dia, tapi biasanya saya tidak pernah mengejar-ngejar orang.“

Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier juga sangat puas dengan hasil konferensi.

„Konferensi ini diselenggarakan pertama kalinya untuk membuka dialog langsung antara negara tetangga Irak dan Irak sendiri. Dan dialog antar negara-negara tetangga Irak juga baru dilakukan dan saya rasa, yang penting adalah karena sangat banyaknya masalah di Irak. Dan situasi keamanan di sana sangat parah. Saat ini terdapat sikap optimis bahwa kami juga berusaha untuk menemukan solusi universal dan untuk itu pendapat negara tetangga sangat penting.“

Mengenai itu Menteri Luar Negeri Iran Manucher Mottaki, menyerang politik Irak Amerika Serikat dengan kritik tajam dan mengecam pendudukan Irak yang tidak adil. Tapi Menteri Luar Negeri Iran Mottaki akhirnya turut menandatangani pernyataan masyarakat secara menyeluruh untuk Irak yang dapat mewujudkan rekonsiliasi nasional dan stabilitas jangka panjang serta pentingnya membentuk angkatan bersenjata Irak. Menteri Luar Negeri Mesir Ahmed Abul Gheit:

„Pernyataan itu menekankan betapa pentingnya untuk membantu pemerintah Irak membangun angkatan bersenjata yang menyatukan semua kelompok etnis dan agama. Itu akan mengakhiri mandat tugas pasukan internasional dan memerlukan permintaan pemerintah Irak dengan persetujuan Dewan Keamanan PBB, dan sesuai dengan jadwal waktu yang cocok bagi Irak.“

Di masa depan, tiga kelompok kerja dibentuk untuk menangani masalah pengawasan perbatasan, pengembalian sekitar dua juta pengungsi dan mengatasi kesulitan impor bahan energi dari negara tetangga.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rice sekali lagi menekankan peranan negara tetangga bagi stabilitas Irak:

„Saat ini negara tetangga memiliki kesempatan untuk memenuhi kewajiban yang telah disetujui mereka. Terobosan yang dilakukan hari ini adalah seluruh negara tetangga Irak hadir dalam satu ruangan, bersama masyarakat internasional untuk turut serta mengembalikan stabilitas di Irak.“

Rice juga menyinggung pertemuannya dengan menteri luar negeri Suriah. Terdapat kemajuan mengenai masalah pengawasan perbatasan. Selain itu juga perundingan di tingkat kedutaan besar dengan Iran juga sudah dilakukan. Amerika Serikat menuding Suriah dan Iran mendukung bagi kelompok perlawanan di Irak. Sebagai Kedua negara itu berperan penting dalam stabilitas nasional Irak. Menteri Luar Negeri Jerman Steinmeier:

„Arab Saudi kemarin menentukan program ‚Irak Compact’ yang berisi pemberian bantuan ekonomi internasional dan memegang janji pemerintah Irak untuk konsolidasi, dan stabilisasi dalam negeri. Suatu peranan yang sangat penting dan mereka hari ini diminta untuk memprioritaskan proses rekonsiliasi nasional dan peluang keberhasilannya tergantung dari bantuan internasional selanjutnya.”