AS Bersiap Tingkatkan Kemampuan Senjata Nuklir di Jerman | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 26.03.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Nuklir

AS Bersiap Tingkatkan Kemampuan Senjata Nuklir di Jerman

AS telah menyimpan bom nuklir di seluruh Eropa termasuk Jerman untuk mencegah serangan dari Rusia. Di 2010, parlemen Jerman telah menyuarakan penarikan bom nuklir itu, namun kini bom justru menjalani proses modernisasi.

Kampanye Perdamaian Jerman di Pangkalan Udara Büchel | Protes terhadap senjata nuklir di Eifel (picture-alliance/dpa/T. Frey)

Selalu ada protes rutin terhadap nuklir Amerika yang disimpan di kota kecil Büchel

Jika dilihat dari atas ketinggian, ladang-ladang di sekitar pangkalan udara Büchel membentang seperti selimut hasil tambal sulam berwarna cokelat kehijauan, diselingi oleh desa-desa kecil dan hutan. Inilah yang membentuk wilayah Eifel di Jerman barat.

Coba lihat lebih dekat pada citra satelit, Anda akan dapat melihat beberapa lusin hangar pesawat yang disamarkan. Tersembunyi jauh di bawah hangar pesawat itu terdapat sebuah rahasia yang dijaga ketat: ruang bawah tanah yang menampung bom nuklir Amerika Serikat (AS) yang berasal dari Perang Dingin.

Sebuah rahasia negara

Belum diketahui berapa jumlah pasti bom yang disimpan di ruang bawah tanah pangkalan udara itu. Menurut perkiraan, jumlahnya berkisar antara 15 hingga 20, dan di mana saja lokasi mereka, itu menjadi sebuah rahasia negara. Sangat rahasia, sampai-sampai penduduk setempat seperti Elke Koller, seorang pensiunan apoteker, hanya mengetahui keberadaan bom tersebut melalui laporan media pada pertengahan 1990-an, padahal dirinya telah menjadi anggota Partai Hijau lokal pada saat itu.

Kepada DW, dia mengatakan bahwa keberadaan bom tersebut muncul sebagai sebuah “kejutan luar biasa”. Sejak saat itu, dia pun menjadi aktivis veteran, yang mengorganisir pawai dan demonstrasi lokal melawan keberadaan bom tersebut.

Pemerintah Jerman tidak pernah secara resmi mengonfirmasi keberadaan bom nuklir di Büchel. Jika mereka secara resmi mengakui lokasi bom itu, anggota parlemen berisiko mengenakan tuntutan dengan alasan membocorkan rahasia negara.

Sebagai catatan, pemerintah Jerman hanya mengakuinya secara resmi sebagai sebuah “nuclear sharing agreement” atau dalam Bahasa Indonesia “perjanjian nuklir bersama”.

Pangkalan Angkatan Udara Büchel (Google Earth)

Pangkalan udara Büchel di wilayah Eifel di Jerman Barat dari atas ketinggian

AS aktifkan bom, Jerman yang meluncurkan

Dalam sebuah skenario serangan nuklir, tentara AS penjaga bom yang terletak di pangkalan udara Jerman, apabila mendapat perintah untuk menembak setiap penyusup, akan bekerja menempelkan bom ke jet tempur milik Jerman dan mengaktifkan kodenya. Kemudian, kru-kru pesawat dari Jerman akan melancarkan “misi serangan”, yaitu mengirimkan bom AS ke tujuan mereka.

Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, maka hal itu akan menjadi yang pertama kali bagi para kru pesawat berada dekat dengan bom yang dijaga ketat, demikian menurut seorang pilot yang tidak ingin disebutkan namanya, yang berbicara kepada DW. Ia mengakui bahwa mereka hanya berlatih dengan replika saja.

Perjanjian nuklir ini, di mana bom milik AS dijaga ketat oleh tentara AS di pangkalan Jerman, namun diterbangkan oleh kru dan pesawat dari pasukan militer Jerman, Bundeswehr, mengingatkan kita kembali pada Perang Dingin dan strategi pencegahan nuklir NATO, untuk mencegah serangan dari Soviet Union. Bahkan saat ini, pendekatan nuklir dari NATO masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyusunan strategi nuklir tersebut.

Pada intinya, perjanjian nuklir bersama ini memungkinkan negara-negara anggota aliansi militer yang tidak memiliki senjata nuklir, untuk ikut serta dalam perencanaan dan pelatihan penggunaan senjata nuklir oleh NATO. Selain itu, para pejabat berpendapat bahwa pandangan negara-negara tersebut juga dapat diperhitungkan oleh negara-negara dengan kemampuan nuklir, termasuk AS.

Jumlah pasti bom Amerika yang disimpan di Eropa masih belum diketahui, namun menurut perkiraan jumlahnya sekitar 150 bom. Jerman, Belgia, Belanda, dan Italia adalah bagian dari “perjanjian nuklir bersama” tersebut. Selain bom yang berada di tanah Italia, semua bom dipastikan terletak dalam jarak beberapa ratus kilometer satu sama lain.

2010: Parlemen Jerman desak pemerintah tarik bom AS

Pada bulan Maret 2010, parlemen Jerman, Bundestag, mengeluarkan resolusi lintas partai yang mendesak pemerintah agar “tanpa ragu” bekerja untuk membuat sekutu Amerika-nya menarik semua senjata nuklir dari Jerman.  Hal itu mengikuti seruan Presiden AS, Barack Obama saat itu untuk menciptakan dunia tanpa senjata nuklir.

Namun, satu dekade setelahnya, tujuan itu tampaknya semakin sulit diwujudkan. Hal ini diperlihatkan dengan adanya aneksasi Krimea oleh Rusia pada tahun 2014 dan juga investasi pada rudal berkemampuan nuklir jarak menengah. Alih-alih menarik bom, militer AS kini justru akan memodernisasi dan memperbaruinya.

Di kantornya di Bundestag, Tobias Lindner, anggota parlemen dari Partai Hijau yang menjadi oposisi, dengan nada meremehkan menyebut perjanjian nuklir bersama Jerman sebagai “sumbangan simbolis kuno, mahal dan berbahaya agar bisa bersuara di dalam NATO”.

Dihadapkan dengan apa yang ia sebut “pertahanan udara Rusia yang canggih,” NATO seharusnya berinvestasi dalam sistem pertahanan rudal modern dan sensor pengintaian, ujarnya.

Menurut Lindner, Rusia tidak akan terkesan dengan bom yang diterbangkan oleh jet tornado milik Jerman, yang sejatinya pertama kali diperkenalkan pada 1980-an. Armada tornado Jerman ini sudah mendekati akhir masa simpannya, dan biaya untuk pemeliharan armada untuk misi nuklir ini juga meroket tinggi. 

Pangkalan Udara Jerman Büchel (Getty Images/T. Lohnes)

Jet Tornado Jerman melintas di atas pangkalan udara Büchel

Tingkat pembagian informasi tidak jelas

Lindner melanjutkan bahwa meskipun dirinya menjadi anggota komite pertahanan parlementer, dia tidak tahu pembagian informasi seperti apa sebenarnya yang dilakukan oleh negara-negara nuklir, terutama AS dan Jerman. Pemerintah menurutnya tidak memberi tahu parlemen, bahkan secara rahasia, mengenai hal-hal yang dibahas dalam Kelompok Perencanaan Nuklir.

Kelompok Perencanaan Nuklir terdiri dari menteri pertahanan semua negara anggota NATO, kecuali Prancis.

Di sisi lain, tidak dapat dipastikan apakah argumen yang disampaikan oleh pejabat dan politisi dari Jerman yang mendukung pembagian nuklir itu didengar atau tidak.

“Itu hanyalah sebuah fantasi,” kata Hans Kristensen, Direktur Proyek Informasi Nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika dan seorang pakar terkemuka tentang nuklir dan senjata.

“Saya belum pernah mendengar ada orang di Angkatan Udara AS, Komando Strategis atau Departemen Pertahanan mengatakan bahwa mereka mempertimbangkan pandangan khusus dari Jerman tentang penggunaan senjata nuklir,” katanya kepada DW.

Seandainya Jerman menarik diri dari kesepakatan bersama pun, “Jerman memiliki kemampuan yang sama persis untuk mempengaruhi pemikiran AS” tentang masalah nuklir seperti sekarang ini, ujarnya.

Heinrich Brauss, pensiunan Letnan Jenderal militer Jerman, yang menjabat sebagai Asisten Sekjen NATO untuk Kebijakan dan Perencanaan Pertahanan sampai 2018, mengemukakan pendapat berbeda.

Jika Jerman memutuskan untuk menarik diri, negara-negara Eropa lain dalam perjanjian bersama kemungkinan besar akan mengikuti langkah tersebut, katanya kepada DW.

“Itu akan mengguncang perjanjian nuklir bersama NATO, atau bahkan mungkin menyebabkan bubar sepenuhnya”.

Pada gilirannya, dia percaya bahwa AS akan jauh berkurang membagikan informasi mengenai hal-hal kebijakan dan perencanaan nuklir: “Yang terburuk, kita akan sepenuhnya terputus dari informasi orang dalam mengenai keamanan kita sendiri”, ujarnya.

Bom termahal yang pernah dibuat AS

Meskipun saat ini mayoritas warga menentang senjata nuklir, Jerman tampaknya tidak mungkin menarik diri dari perjanjian nuklir bersama dalam waktu dekat.

Sebaliknya, Jerman bersiap menerima bom-bom modern. Senjata nuklir yang disimpan di Büchel, menurut Kristensen adalah tipe B-61-3 atau B-61-4, yang diperkenalkan pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Kini, bom tersebut telah mendekati akhir siklus mereka.

Program modernisasi, di mana bom-bom tua akan dibongkar dan yang baru akan dikirim ke situs militer Amerika di AS dan seluruh dunia, menelan biaya yang sangat mahal.

“Ini adalah bom gravitasi termahal yang pernah dibuat oleh AS,” kata Kristensen. “Beberapa orang bahkan telah menghitung bahwa akan lebih murah membuat bom dengan emas murni”.

Bom baru dengan nama B-61-12 itu akan memiliki “kemampuan yang ditingkatkan secara signifikan,” ujar Kristensen. Bom dilengkapi dengan kit ekor, yang memungkinkannya untuk diluncurkan dan mencapai sasarannya dengan lebih akurat.

B61-12 (Sandia National Laboratory)

B61-12 adalah "bom gravitasi paling mahal yang pernah dibuat AS"

Kristensen telah memodelkan akurasinya sekitar 30 hingga 60 meter. Bom yang ada saat ini dijatuhkan begitu saja dari pesawat, berbeda dengan bom yang memiliki kit ekor, yang dapat mengarahkan diri sendiri begitu dilepaskan.

Apakah bom baru ini lebih gampang diluncurkan?

Banyak ahli khawatir tentang bom baru ini, yang membuatnya lebih menarik untuk digunakan, karena alih-alih memusnahkan seluruh wilayah, bom itu dapat digunakan untuk menyerang target spesifik.

Kristensen setuju bahwa secara militer itu mungkin terjadi, tetapi ia mengingatkan bahwa hal tersebut masih akan sulit secara politis, untuk melanggar “Nuclear Taboo” yang telah ada sejak 1945.

Masih belum jelas kapan Jerman benar-benar akan menerima bom ini. Kristensen menyebut ada penundaan produksi bom di AS karena masalah produksi komponen yang diperlukan. Dia memperkirakan bahwa dibutuhkan setidaknya sampai 2022, atau mungkin 2024 bagi mereka untuk sampai di Büchel dan lokasi Eropa lainnya.

Tetapi, menurut salah satu pilot, tes pertama untuk integrasi senjata baru ke jet tornado Jerman akan terjadi tahun ini. Setelah pembaruan perangkat lunak selesai diuji, maka tes akan diluncurkan untuk seluruh armada yang ditempatkan di Büchel. Hanya segelintir saja yang tahu tentang proses modernisasi ini, ujarnya kepada DW.

Pilot itu bahkan ragu apakah komandan pangkalan udara Büchel Jerman akan diberitahu tentang kedatangan bom tersebut atau tidak. Menurutnya, setiap kali sebuah pesawat Amerika tiba di pangkalan udara, seluruh lapangan terbang ditutup. “Semuanya sangat rahasia sehingga kamu tidak pernah tahu apakah pesawat itu memuat Coca-Cola atau bom”. (gtp/pkp)