Kejahatan Ekstremis Sayap Kanan di Jerman Capai Rekor Tertinggi Sejak 2001 | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 05.05.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Jerman

Kejahatan Ekstremis Sayap Kanan di Jerman Capai Rekor Tertinggi Sejak 2001

Jerman catat lonjakan kejahatan bermotif politik yang signifikan, demikian menurut data kementerian dalam negeri. Kejahatan oleh ekstremis sayap kanan secara khusus mencapai tingkat tertinggi sejak tahun 2001.

Warga berduka setelah ekstremis sayap kanan melakukan penembakan di Hanau, Jerman, tahun lalu

Warga berduka setelah ekstremis sayap kanan melakukan penembakan di Hanau, Jerman, tahun lalu

Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer didampingi Presiden Kantor Kriminal Federal Helger Münch pada Selasa (04/05) mengungkap statistik resmi terkait kejahatan bermotif politik yang terjadi pada tahun 2020 di Jerman.

Seehofer mengaku prihatin atas meningkatnya kejahatan bermotif politik terutama yang dilakukan oleh kelompok ekstremis sayap kanan, seperti pembunuhan 11 anak muda dengan latar belakang imigran di kota Hanau pada Februari tahun lalu.

"Kejahatan bermotif politik meningkat secara signifikan,” kata Seehofer seraya menambahkan di tahun 2020 tercatat 8,5% lebih banyak kasus kejahatan dibanding tahun sebelumnya.

Data tersebut sangat "memprihatinkan” karena mewakili tren yang berbahaya, walaupun hanya mewakili sekitar 1% dari semua kejahatan, kata Seehofer.

Ekstremis sayap kanan adalah ‘ancaman terbesar' Jerman

Jumlah kejahatan yang dimotivasi oleh ekstremisme sayap kanan dilaporkan naik ke titik tertinggi sejak polisi Jerman mulai melakukan pencatatan kejahatan bermotif politik pada tahun 2001.

Ada sekitar 23.064 kejahatan yang dihitung sebagai kejahatan ekstremis sayap kanan, meningkat 5,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu kejahatan dengan kekerasan yang juga tergolong sebagai kejahatan bermotif politik kebanyakan dilakukan oleh ekstremis sayap kanan. Selain 11 korban yang terbunuh di Hanau, ada sebanyak 13 orang yang dilaporkan menjadi korban percobaan kejahatan dengan kekerasan ini.

"Meningkatknya kejahatan dengan kekerasan sebesar 18,8%, menjadikan total kejahatan sebanyak 3.365, menunjukkan bahwa ini sangat memprihatinkan,” kata Seehofer.

Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer

Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer sebut data kejahatan bermotif politik di Jerman 'memprihatikan'.

"Hal ini semakin menunjukkan perkataan saya sejak awal menjabat, bahwa ekstremisme sayap kanan adalah ancaman terbesar bagi keamanan di negara kita, karena mayoritas kejahatan rasis dilakukan oleh orang-orang dari spektrum ini,” tambahnya.

Meningkatnya antisemitisme yang ‘memalukan' Jerman

Selain kejahatan dengan kekerasan, ada pula kejahatan yang diklasifikasikan sebagai "kejahatan ekspresi”, termasuk di dalamnya ujaran kebencian dan propaganda. Sebagian besar kejahatan ini (sekitar 65%) dianggap berasal dari pelaku ekstremis sayap kanan.

Ujaran kebencian antisemit juga mengalami peningkatan sebanyak 15,7%. Banyak di antaranya dilakukan secara online, kata Seehofer.

"Kebencian antisemit adalah komponen inti dari ideologi ekstremis sayap kanan. Perkembangan di Jerman ini tidak hanya mengkhawatirkan tetapi dalam konteks sejarah kita juga sangat memalukan,” pungkas Seehofer.

Serangan terhadap jurnalis oleh penyangkal COVID-19

Tidak hanya itu, Seehofer juga menyinggung perihal aksi unjuk rasa menentang pembatasan COVID-19 yang dilakukan oleh gerakan "Querdenker”, yang secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai "pemikir lateral”.

Seehofer mengatakan orang-orang dalam kelompok ini memang menggunakan hak berekspresi mereka dalam demokrasi, tetapi ia mengungkap bahwa polisi menemukan masalah dalam membedakan pengunjuk rasa sipil dan ekstremis di antara barisan mereka.

Sekitar 3.500 kejahatan dikaitkan dengan aksi unjuk rasa Querdenker, termasuk di dalamnya 500 kejahatan dengan kekerasan. Dan dari sekitar 1.260 kejahatan yang dilaporkan dialami jurnalis, 112 di antaranya terkait dengan aksi unjuk rasa menentang pembatasan COVID-19.

Konstantin Kuhle, juru bicara urusan dalam negeri dari partai FDP yang ramah bisnis, mengatakan kepada DW pada hari Selasa (04/05) bahwa ekstremis sayap kanan menggunakan pandemi virus corona untuk menyebarkan ideologi mereka.

"Tampaknya ekstremis sayap kanan dan ahli teori konspirasi menggunakan pandemi untuk menyebarkan teori mereka, menyebarkan kebencian. Dan kami telah melihat ini terjadi di seluruh Jerman dalam beberapa minggu dan bulan terakhir,” katanya.

Dia lantas menyerukan agar pengunjuk rasa anti-lockdown menjauhkan diri dari ideologi sayap kanan.

Kejahatan kekerasan sayap kiri juga meningkat

Lebih jauh, Seehofer juga mencatat adanya peningkatan sebesar 11% terkait kejahatan yang berasal dari esktremis sayap kiri. Ia secara khusus menggarisbawahi bahwa ada peningkatan sebesar 45% dalam hal penggunaan kekerasan.

Seehofer mengungkap tingkat tinggi "kejahatan konfrontatif” yang menurutnya kerap dilakukan oleh eksremis sayap kiri, seperti misalnya ikut serta dalam demonstrasi tandingan hingga apa yang dijuluki sebagai pawai Querdenker.

Meskipun data yang ia hadirkan banyak berfokus pada ekstremisme sayap kanan dan ancaman yang ditimbulkannya, Seehofer mengatakan bahwa kementerian juga akan mengawasi ekstremisme sayap kiri, seperti halnya ekstremisme Islam. (gtp/pkp)

Laporan Pilihan