Meningkatnya Kejahatan Politik Antisemit di Jerman | Mukalama | DW | 29.05.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

antisemit

Meningkatnya Kejahatan Politik Antisemit di Jerman

Serangan mematikan di Hanau dan Halle dan penembakan Walter Lübcke terjadi tahun 2019. Jerman menyaksikan peningkatan kejahatan bermotif politik, baik yang dilakukan sayap kanan maupun sayap kiri pada tahun 2019.

Demonstrasi untuk Hanau

Solidaritas atas kasus pembunuhan bermotif politik di Hanau

Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer mengumumkan, kepolisian Jerman mencatat lebih dari 41.000 kasus kejahatan bermotivasi politik terjadi tahun lalu, naik 14,2% dibandingkan tahun 2018, dengan lebih dari 36.000. 

Lebih dari setengah dari semua kasus yang terjadi tahun 2019 itu terkait dengan aktivitas sayap kanan, demikian ditunjukkan statistik dengan tercatatnya 22.342 kasus, meningkat 9,4%. Kejahatan bermotif politik yang dicatat berkisar dari kasus pelecehan verbal, menyebarkan propaganda rasis, ujaran kebencian, hingga penyerangan, pembakaran, dan pembunuhan.  Namun juga terjadi peningkatan 23% dalam kriminalitas yang dilakukan oleh sayap kiri, terutama di Leipzig. 

Dalam konferensi pers, Seehofer berusaha menghilangkan kekhawatiran bahwa polisi atau pihak berwenang tidak waspada atas kekerasan yang dilakukan sayap kanan. "Ancaman terbesar datang dari sayap kanan, kita harus melihatnya dengan jelas," kata Seehofer. 

Pihak berwenang juga mencatat 2.032 kejahatan yang bermotif antisemitisme – kenaikannya 13% dibandingkan dari tahun 2018. Ini adalah angka tertinggi sejak data statistik dihimpun. Sekitar 93,4% dari kejahatan itu pelakunya sayap kanan. Seehofer mengatakan kejahatan islamophobia, yang juga meningkat sebesar 4% menjadi 950 kasus. 

Lebih banyak propaganda dan pembunuhan 

Pekan depan menandai peringatan pertama pembunuhan politisi konservatif Walter Lübcke, pemimpin pemerintahan di Kassel. Ekstremis sayap kanan, Stephan E. pada awalnya mengakui pembunuhan itu, meskipun kemudian ia mencabut pengakuannya awal tahun ini dan menggantinya dengan pengakuan parsial yang melibatkan kaki tangan. 

Pembunuhan sayap kanan berlanjut pada Februari tahun ini, ketika sembilan orang dibunuh oleh seorang ekstremis di dua kafe di Kota Hanau. 

Data menunjukkan bahwa 36,8% kejahatan sayap kanan melibatkan pelanggaran propaganda, 13,7% melibatkan ujaran kebencian bernada rasisme, kerusakan properti sebesar 4,9%, dan kekerasan 4,4%. 

Georg Maier, menteri dalam negeri Thuringen yang bergabung dengan konferensi pers sebagai ketua konferensi menteri dalam negeri saat ini, sangat berterus terang tentang ancaman sayap kanan. "Apa yang kami alami pada tahun 2019 dan 2020 merupakan dimensi baru ancaman terhadap demokrasi kita," kata Maier. "Bahaya ini datang dari sayap kanan. Tiga pembunuhan terjadi pada tahun 2019, dan pada tahun 2020 sudah 10 pembunuhan dengan latar belakang ekstremis rasis. Hal ini memperjelas seberapa besar tantangan kita." 

Pekan lalu, Seehofer menghadiri pertemuan pertama komite kabinet yang baru dibentuk, dengan dipimpin oleh Kanselir Angela Merkel, untuk memerangi ekstremisme dan rasisme sayap kanan. "Itu adalah diskusi yang sangat bagus dan mendalam," kata Seehofer. Sebuah laporan kabinet tentang langkah-langkah baru guna menanganinya sudah direncanakan untuk musim semi mendatang. 

Protes ekstrem kanan dan anti lockdown 

Maier, yang juga merupakan politikus Partai Demokrat Sosial (SPD) mengatakan poster kampanyenya telah dirusak dengan gambar swastika. Ia telah memperhatikan peningkatan "struktur sayap kanan," baik dalam bentuk konser, klub bela diri, dan online. 

Dia lalu menghubungkan perkembangan seperti itu ke atmosfer politik yang lebih terpolarisasi, dan menyarankan bahwa demonstrasi baru-baru ini yang menentang pembatasan sosial telah sengaja "dirusak" oleh ekstrem kanan. 

Data statistik kejahatan bermotif politik dirilis ketika polisi di Jerman pada hari Rabu (27/05) menggerebek 25 tempat yang dikaitkan dengan 31 orang yang dicurigai sebagai anggota gerakan Reichsbürger. Gerakan anti pemerintah tersebut tumpang tindih dengan kelompok-kelompok ekstremis sayap kanan. 

Kelompok itu dicurigai membuat dokumen palsu, termasuk paspor, SIM dan akta kelahiran. Razia dilakukan di negara bagian Hessen dan Baden-Württemberg. Sebuah faksi dari kelompok itu secara resmi dilarang oleh Seehofer pada bulan Maret lalu atas tuduhan antisemit dan simpatisan sayap kanan. 

(ap/vlz)