Ahli Pneumonia Cina: Masa Inkubasi Virus Corona 2019-nCoV Bisa Lebih Lama | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 10.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

virus corona

Ahli Pneumonia Cina: Masa Inkubasi Virus Corona 2019-nCoV Bisa Lebih Lama

Masa inkubasi untuk virus corona jenis baru atau 2019-nCoV dapat berlangsung hingga 24 hari, menurut sebuah studi oleh ahli paru-paru asal Cina.

Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata masa inkubasi virus corona jenis baru adalah selama tiga hari. Namun pasien juga bisa menunjukkan gejala-gejala dalam rentang waktu satu hari hingga 24 hari, demikian ungkap ahli paru-paru asal Cina, Zhong Nanshan. Ia adalah seorang profesor medis pada Guangzhou Medical University yang juga menemukan virus corona penyebab wabah SARS pada 2003 silam.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hanya sebanyak 1,18 persen dari keseluruhan pasien yang pernah memiliki kontak langsung dengan satwa liar, 31,3 persen pasien telah berkunjung ke kota Wuhan, yang menjadi tempat awal pernyebaran virus ini. Sedangkan sebagian besar, yaitu 71,8 persen, berhubungan dengan seseorang yang pernah mengunjungi Wuhan.

Hasil analisis pasien menunjukkan bahwa demam dan batuk adalah gejala yang paling umum, angkanya masing-masing mencapai 87,9 persen dan 67,7 persen. Namun demikian, hanya 43,8 persen pasien menunjukkan demam pada tahap awal. Hal ini menunjukkan bahwa suhu tubuh tidak dapat dipandang sebagai faktor utama dalam melakukan diagnosis.

Gejala seperti diare dan muntah jarang terjadi dan hanya dialami oleh sekitar 3,7 persen dan 5 persen dari total pasien. Sekitar 25,2 persen dari kasus yang dikonfirmasi menunjukkan bahwa pasien telah memiliki riwayat penyakit lain seperti hipertensi. Sementara pneumonia adalah komplikasi paling umum diderita oleh 79,1 persen pasien. Usia rata-rata pasien yang terkena virus ini adalah 47 tahun, dan 41,9 persen di antara pasien adalah perempuan. 

Kosongnya kota Shanghai di Cina (Reuters/A. Song)

Kota Shanghai di Cina terlihat kosong seiring dengan merebaknya wabah virus corona jenis baru 2019-nCoV, foto diambil pada 5 Februari 2020.

Penelitian terbesar yang berkaitan dengan virus corona jenis baru ini melibatkan 1.099 sampel yang dikumpulkan dari 552 rumah sakit di 31 divisi administrasi tingkat provinsi di Cina. Penelitian ini diterbitkan pada Minggu (09/02) di medRxiv, server laporan kesehatan yang masih menunggu tinjauan para rekan sejawat sebelum dicetak.

Warga Jerman dari Wuhan tiba di Berlin

Sementara di Jerman, pada Minggu siang (09/02) waktu setempat, sekitar 20 orang tiba di bandar udara Berlin-Tegel di Jerman dari kota Wuhan. Menteri Luar Negeri Jerman dari Partai SPD, Heiko Maas, pun menyatakan kelegaannya.

Setelah mendarat, mereka ditempatkan di sebuah gedung klinik milik Palang Merah Jerman, DRK, di wilayah Berlin-Köpenick untuk dikarantina selama 14 hari.

"Seiring dengan kepulangan ini, keamanan adalah yang terpenting," kata Maas. Klinik, DRK, dan administrasi kesehatan Berlin menekankan bahwa tidak ada alasan untuk timbulnya kekhawatiran terkait kesehatan staf klinik, pasien lain, dan masyarakat sekitar.

Pihak DRK juga mengatakan, merekayang baru tdievakuasi dari Wuhan itu ada dalam kondisi sehat. Mereka dilaporkan berada dalam pengawasan dokter resmi yang masih memeriksa apakah ada orang yang menampakkan gejala selama dalam penerbangan. Hasil pemeriksaan terhadap para warga ini akan diketahui pada Senin siang waktu setempat.

Hingga Senin (10/02) virus corona jenis baru telah menginfeksi lebih dari 40.000 orang dengan sebagian besar kasus terjadi di Cina. Lebih dari 900 orang telah meninggal akibat virus ini.

ae/hp (Taiwannews, dpa)