40 Tahun südostasien Setia Suarakan Akar Rumput Indonesia
11 Juli 2025
Saat orang-orang di Indonesia keranjingan menonton Reels, atau scrolling Tiktok, tim editor majalah ini tetap setia menulis soal penambangan pasir, perampasan lahan, dan tema-tema serupa tentang Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Tahun 2025 menandai tonggak penting bagi südostasien, sebuah majalah independen yang kini genap berusia 40 tahun. Diterbitkan oleh Stiftung Asienhaus bersama philippinenbüro, majalah ini telah menjadi forum publik yang konsisten menyuarakan isu-isu penting dari dan tentang Asia Tenggara bagi pembaca di Jerman dan Eropa.
Berkantor di Kota Köln, Jerman, majalah südostasien lahir dari inisiatif Südostasien Informationsstelle, sebuah lembaga informasi dan pendidikan politik yang didirikan pada awal 1980-an. Penerbitnya, Stiftung Asienhaus, dikenal sebagai organisasi yang mendukung dialog lintas budaya dan solidaritas global dengan fokus pada Asia.
Direktur Eksekutif Asienhaus, Monika Schlicher menuturkan, dalam perkembangan globalisasi dekade terakhir, terjadi begitu banyak perubahan di negara-negara Asia Tenggara: "Kita mengamati masyarakat sipil dan mitra kita di negara-negara ini. Itulah yang kami iringi dalam majalah Asia Tenggara, dengan menangkap suara mereka, mewawancarai mereka atau dengan mereka menulis sendiri. Kita menerbitkannya untuk publik Jerman," ujarnya.
Edisi perdana Südostasien Informationen terbit pada tahun 1984 sebagai edisi nol, disusul edisi resmi pertama pada tahun 1985. Sejak saat itu, majalah ini diterbitkan secara berkala, membawakan laporan dan ulasan kritis dari Asia Tenggara ke publik Jerman.
Suara akar rumput, kontributor, dan rubrik
Majalah ini dikenal karena keterlibatan langsung dengan aktivis, akademisi, dan jurnalis dari Asia Tenggara maupun diaspora di Eropa. Banyak tulisan berasal dari pengalaman lapangan, wawancara eksklusif, opini kritis, serta refleksi budaya dan politik.
Raphael Göpel yang bertanggung jawab atas isu Indonesia dan Kamboja menjelaskan: "Di dunia berbahasa Jerman, tentang Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, laporan-laporan yang dibuat dengan suara atau dengan penulis dari negara-negara itu sendiri membuat majalah ini cukup unik," ungkapnya.
Sementara itu, editor südosasien Anett Keller mengakui, tidak semua orang Jerman peduli tentang Indonesia. Namun ada masyarakat sipil baik di Jerman maupun di Indonesia yang punya tujuan sama: Ingin dunia yang lebih adil, peduli lingkungan, peduli HAM dan isu sosial. "Majalah ini adalah media yang bekerja sama secara solidaritas dengan masyarakat sipil di Indonesia juga di negara Asia Tenggara yang lain. Jadi orang yang peduli di sana dan orang yang peduli di sini, saling bekerja sama untuk dunia yang lebih baik," tandasnya.
Negara-negara seperti Indonesia, Filipina, Thailand, Myanmar, Vietnam, Malaysia, Singapura, Laos, dan Timor-Leste secara rutin menjadi sorotan dalam setiap edisi. Majalah ini juga memberi ruang bagi tema lintas negara seperti krisis iklim, hak asasi manusia, demokratisasi, feminisme, migrasi, dan perlawanan terhadap neoliberalisme.
Majid Lenz dari Asienhaus menjelaskan, mengapa Jerman atau Eropa peduli pada isu-isu di negara-negara Asia Tenggara. Ia mengambil contoh soal eksploitasi di sektor penambangan yang masih banyak terjadi, misalnya di sektor industri nikel di Indonesia, yang kadang menimbulkan masalah besar. "Eropa sangat bergantung pada mineral-mineral yang dieskploitasi. Masih ada masalah bagi para pekerja di sana, populasi yang mengungsi karena tambang, alam yang terkikis….. Pada saat bersamaan, itu adalah bagian dari dialog progresif untuk tema lingkungan di sini, dan kita harus menemukan cara, sehingga dapat bertransformasi hijau tanpa eksploitasi berlebihan di Indonesia dan negara lain,” jelasnya.
Redaksi dan model editorial
Model redaksinya bersifat partisipatif, dengan kontributor sukarelawan dan kelompok kerja tematik berdasarkan negara atau isu. Proses editorial dijalankan secara kolektif dan berbasis prinsip inklusif, tanpa hierarki kaku. Redaksi saat ini dikoordinasi oleh Anett Keller, didukung oleh jaringan kontributor dari berbagai latar belakang profesi dan generasi.
Majalah ini tidak hanya menyampaikan laporan, tetapi juga membangun ruang reflektif dan solidaritas antara masyarakat sipil Asia Tenggara dan Eropa.
Di era digitalisasi saat ini, tantangan agar orang tetap peduli pada isu-isu penting yang mereka angkat, juga disadari oleh tim editor. Perlahan mereka pun bergerak ke media digital. Selama lebih dari tiga dekade, südostasien hadir dalam format cetak, namun pada 2018, majalah ini bertransformasi menjadi platform digital open access. Perubahan ini memungkinkan akses yang lebih luas dan terbuka, tanpa biaya langganan, serta memperluas jangkauan pembacanya ke kalangan diaspora Asia Tenggara dan komunitas internasional yang tertarik dengan kawasan tersebut.
Berulang tahun ke 40
Menandai ulang tahun ke-40 digelar diskusi bertajuk "Kekuasan, Media dan HAM" pada 5 Juli lalu di kota Köln. Beragam tema dibahas: dari nasib pengungsi Rohingya, aktivisme akar rumput di Myanmar, Filipina, isu gender di Timor Leste, hingga perkembangan media di Indonesia. Juga terdapat kritik terhadap hubungan ekonomi global yang timpang dan perubahan geopolitik yang mempengaruhi masyarakat sipil di Asia Tenggara.
Perayaan ulang tahun ke-40 majalah ini bukan hanya retrospektif, tetapi juga menjadi ajang membangun visi baru: Bagaimana südostasien dapat terus relevan dalam lanskap media digital dan perjuangan hak-hak sipil di masa depan.
Menurut Raphael Göpel yang juga merupakan editor majalah ini, setelah 40 tahun berdiri, majalah ini tetap relevan, sebab persoalan lingkungan, perampasan lahan dan kebebasan berekspresi masih marak terjadi dan diangkat di media sosial.
"Jadi tentu ada berbagai aspek hak asasi manusia, tetapi kita juga melihat, ketika kita berbicara terutama tentang Papua, tentang situasi keamanan, tentang konflik di lapangan, sudah terjadi eskalasi situasi dan kita melihatnya dengan sangat prihatin dan dari sudut dari sudut pandang hak asasi manusia. Seharusnya jurnalis internasional, organisasi bantuan dibolehkan mendapat akses ke Papua," tandasnya.
Sebuah forum yang terus bergerak
Salah seorang pembicara dalam diskusi Hendra Pasuhuk menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang juga berpengaruh besar pada media: "Untuk itu diperlukan kehati-hatian dalam penerapannya. Memang media tidak bisa mengelak dari perkembangan AI, namun peran jurnalis dalam menjalankan tanggung jawabnya kepada publik tetap penting dalam mendorong demokrasi," ujarnya dalam salah satu workshop di acara ini.
Dalam dunia yang kian didominasi oleh informasi cepat dan dangkal, südostasien tetap menjadi ruang reflektif dan mendalam untuk suara-suara yang jarang mendapat panggung. Dengan format digital yang terbuka dan partisipatif, majalah ini membuktikan bahwa publikasi alternatif masih sangat relevan.
Di usia 40 tahun, südostasien bukan hanya sebuah majalah — ia adalah jembatan solidaritas, pengingat akan pentingnya perspektif dari Dunia Selatan Global, dan ruang dialog antara Asia dan Eropa yang terus hidup.
Editor: Agus Setiawan