1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Tragedi Mei 98

Kerusuhan Mei di tahun 1998. Masih ingatkah sedang apa dan dimana Anda saat itu? Tragedi itu jangan sampai terulang lagi. #DWNesia pekan ini memperingati peristiwa tersebut.

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dibentuk untuk mencari dalang atas peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Temuan TGPF menggarisbawahi peristiwa tersebut berkaitan erat dengan pemilu 1997, krisis moneter, sidang umum MPR 1998, demonstrasi mahasiswa yang memakan korban jiwa, penculikan aktivis hingga pertarungan kekuasaan.

Jika bicara soal kerusuhan Mei 1998, nama Prabowo Subianto yang saat itu merupakan Panglima Kostrad seringkali dikaitkan sebagai aktor di balik huru hara tersebut. Meski dalam sebuah surat mantan Presiden RI, B.J. Habibie yang bocor menyebut bukti yang memperkuat dugaan keterlibatan Prabowo itu tidak cukup, Letjen TNI Prabowo diberhentikan dari jabatannya sebagai Panglima Kostrad sekaligus anggota TNI AD. Namun ketika beberapa lembaga masyarakat mempertanyakan surat pemberhentian itu, diketahui bahwa surat tersebut hilang.

Raibnya surat keputusan itu mempersulit penanganan kasus pelanggaran HAM. Dicemaskan dengan abainya pendokumentasian itu, impunitas terhadap perwira yang diduga pernah melanggar HAM akan terus berlanjut. Ikuti ulasan Aris Santoso dalam opini: Prabowo dan Pemecatan Prabowo dan Keberlanjutan Impunitas.

Hasil temuan terpenting dari TGPF adalah, tragedi Mei 98 tidak terjadi secara spontan, kerusuhan terjadi secara sistematis, terencana dan terbuka. Dalam opininya Tunggal Pawestri mengingatkan, Tragedi Mei 98 tidak boleh terulang lagi dan tak boleh jadi barang dagangan politik.

Tema lain dalam #DWnesia kali ini mengangkat perdebatan tentang pembunuhan keji terhadap Yy, siswi SMP yang diperkosa belasan pria sampai meninggal dunia. Berbagai kalangan sibuk mencari faktor penyebab perkosaan terjadi. Uly Siregar mengomentari perdebatan itu lewat ulasannnya. Beberapa topik lainnya, bisa Anda dapatkan pula di laman #DWNesia.

Kami tunggu tanggapan Anda di Facebook DW Indonesia dan twitter @dw_indonesia. Seperti biasa, sertakan tagar #DWNesia dalam mengajukan pendapatmu.

Salam #DWNesia

Laporan Pilihan