1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Suu Kyi Lakukan Kampanye di Televisi

Dalam siaran televisi pemerintah, tokoh oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi menyampaikan pesan kepada para pemilih di Myanmar. Pemilu akan digelar tangal 1 April.

Untuk pertama kalinya, seluruh partai peserta pemilu memiliki hak untuk berkampanye di televisi. Tayangan televisi memperlihatkan pemimpin oposisi ini di samping bendera dengan lambang Partai Liga Nasional bagi Demokrasi. Partai yang dipimpin Suu Kyi turut bertarung dalam pemilu, 1 April, untuk memperebutkan 48 kursi di parlemen.

Saat jam tayang utama, selama 14 menit, Su Kyi berkesempatan untuk menyampaikan pesannya kepada para pemilih.

Menggambarkan jalan menuju demokrasi di Myanmar, San Su Kyi mengatakan, kontrol dan sensor harus berakhir di Myanmar. "Bagaimana kita dapat mencapai aturan hukum yang dibutuhkan? Hanya dengan tanpa ragu menghapuskan hukum yang menindas rakyat. Lembaga peradilan harus independen dan adil. Dan harus ada kebebasan pers yang penuh," disampaikan Su Kyi. Su Kyi juga mengemukakan tentang pentingnya perdamaian dengan seluruh entnis minoritas serta perbaikan sistem pendidikan di Myanmar.

Kritik terhadap Militer

Namun satu menit dari pidato Suu Kyi yang yang mengkritik mantan junta militer telah disensor. Suu Kyi telah menyampaikan protes atas hal ini. Aung San Suu Kyi mengatakan, undang-undang dari tahun 2008 yang memberikan hak istimewa kepada militer harus dicabut, "Tidak masuk akal, bahwa 25 persen kursi di parlemen diperuntukkan bagi militer. Ini bukanlah proses demokrasi."

Kritik Su Kyi yang ditujukkan terhadap militer sangat jelas. Namun ia juga mengakui sangat optimis dengan pembaruan yang tengah berlangsung di negaranya. "Jika saya menengok sejarah Myanmar, maka ini penting bahwa militer memainkan peran signifikan dalam pembangunan negara. Militer dibentuk ayah saya, Jendral Aung San. Dan saya yakin, militer siap melayani demi kepentingan negara.“

Otto Heinrich/Yuniman Farid

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan