1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

SpaceBot Cup - Kompetisi Robot Antariksa

Robot harus bisa beraksi tanpa bantuan di planet asing. Untuk itu dibutuhkan kecerdasan buatan yang cukup tinggi. Ini tantangan bagi konstruktor robot yang memamerkan kemampuannya di DLR SpaceBot Cup.

Pusat penelitian penerbangan dan antariksa Jerman (DLR) membangun permukaan yang menyerupai sebuah planet buatan. Sepuluh tim dari berbagai universitas dan perusahaan pengembang di Jerman menunjukkan apa yang mampu dilakukan robotnya pada kondisi seperti di planet asing. DLR SpaceBot Cup adalah kompetisi robot antariksa yang hanya digelar tahun ini.

Skenario kompetisi sangat realistis, Di planet Mars beberapa generasi Mars Rover milik NASA sudah sukses bertugas. Berdasar pengalaman, butuh waktu lama untuk mengirim sinyal dari bumi ke antariksa. 15 menit waktu yang diperlukan sinyal komunikasi untuk satu arah. Jadi 30 menit untuk mendapatkan jawaban. Dan jika robot suatu saat dituntut untuk melakukan eksplorasi dengan jarak yang lebih jauh, maka kontak dengan bumi bisa semakin berkurang. Solusinya, robot antariksa masa depan yang bisa bergerak independen dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan.

Mencari Air di "Planet Asing"

Seperti pada pesawat antariksa Mars sesungguhnya, robot ditugaskan untuk menemukan kandungan air. Tapi air tidak tersembunyi di dalam batuan atau atmosfir, melainkan di dalam gelas yang dicat warna biru yang diletakkan di permukaan planet buatan tersebut. Robot harus bisa menemukannya sendiri, mengambilnya, dan membawanya ke tempat pengumpulan sampel yang telah ditentukan sebelumnya.

SpaceBot Cup 2013 in Rheinbreitbach

Robot Lauron berkaki enam

Tugas ini menunjukkan dengan cepat kekuatan dan kelemahan setiap robot. Ada yang mampu berjalan dengan baik, seperti misalnya Lauron. Bentuknya menyerupai binatang merayap berkaki enam dan dikembangkan pusat penelitian informatika dari Karlsruhe. Mereka meniru belalang ranting asal India. "Kakinya memiliki empat derajat kebebasan, jadi sangat fleksibel. Kaki bagian depan kami lengkapi dengan semacam lengan", jelas juru bicara tim Lars Pfotzer. Serangga bisa melipat lengannya sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu saat berjalan, "tapi kalau ia memerlukannya, maka akan dikeluarkan ke arah depan."

Supaya Lauron tidak harus berjalan dengan lima kaki setelah mengambil gelas air, ada semacam alat pemegang gelas di bawah perut. Jadi ia bisa tetap bergerak dengan enam kaki. Untuk orientasi, robot serangga ini menggunakan lasercanner. Alat ini berputar di atas robot dan merekam gambar tiga dimensi dari lingkungan sekitarnya.

Permainan Komputer dengan Sensor Hightech

Tapi Lauron juga bisa melihat dengan mata biasa. "Kami juga memasang kamera khusus dengan teknologi yang dikenal dari konsol Kinect" jelas Pfotzer. Kamera merekam gambar di sekitarnya sebagai gabungan titik dan menerjemahkannya sebagai gambar tiga dimensi. Gambar ini membantu robot mengetahui jarak terhadap gelas air dan mengenalinya sebagai obyek.

Simak lanjutannya di halaman berikut.

Laporan Pilihan