1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Robot Lebah Berdengung dan Mendesing

Ia berdengung dan mendesing seperti lebah, tapi sebenarnya ia sebuah robot kecil. Pengembangan "RoboBee" perlu 12 tahun. Sekarang ia bisa terbang, walau sebentar.

RoboBee sangat kecil, hanya sekitar satu setengah sentimeter dan beratnya hanya 80 miligram, seperti halnya lebah, contoh aslinya yang hidup di alam bebas dan mengumpulkan sari bunga. Peneliti di universitas AS Harvard School of Engineering and Applied Sciences perlu sekitar 12 tahun untuk meracik robot serangga itu, sebelum mengudara untuk pertama kalinya beberapa waktu lalu.

"Kami harus mengembangkan sendiri semua komponen," karena yang berukuran kecil seperti untuk RoboBee, sejauh ini belum pernah dibuat orang. Demikian diceritakan insinyur Robert J. Wood, tentang jalan berat untuk membuat RoboBee terbang.

Tetapi hasil mencontoh dari alam yang dibuat secara teknis itu sudah sangat mirip dengan aslinya. Dua sayap kecil dari keramik itu bisa berkepak 120 kali dalam sedetik, seperti halnya pada serangga. Bedanya, RoboBee terdiri dari engsel plastik, dan tubuhnya dari serat karbon.

RoboBee Masih Dibimbing

Proyek hightech itu bukan hanya sekedar studi untuk mencoba apakah robot lebah bisa dibuat. Robot kecil itu nantinya akan punya kegunaan praktis dan punya tugas di udara. Misalnya untuk mencari orang dalam aksi penyelamatan, dalam pengawasan lingkungan atau penggunaan di bidang pertanian untuk pembungaan.

Tujuan para peneliti adalah, mengembangkan serangga buatan yang sepenuhnya terbang secara bebas. Tetapi RoboBee belum mampu melakukan itu. Delapan kamera yang ditempatkan di luar mengamati robot itu ketika terbang, dan mengirim data gerak-geriknya ke komputer, yang pada dasarnya jadi pengendali.

Blick auf einen Bienen-Drohn, eine männliche Biene. aufgenommen im Jahr 2005. Foto: Udo Bernhart

Lebah alami yang hidup di alam bebas

Sejauh ini RoboBee juga belum bisa bertahan lama di udara. Saat mengudara pertama kali, setelah 15 menit robot serangga itu sudah tidak mampu terbang lagi.

Wood menjelaskan, masalah pertama adalah bahan baku yang cepat aus, yang kedua kesulitan dalam penyediaan energi. Sejauh ini, lebah mungil itu digerakkan dengan listrik yang disalurkan lewat kabel tipis, yang hampir tidak terlihat mata. Dalam situasi itu, lebah ibaratnya masih terikat, sehingga tidak bisa terbang untuk memenuhi tugas tertentu. Baterai yang berukuran sangat kecil, yang bisa ditempatkan di tubuh lebah, sejauh ini belum ada. Dalam dua tahun mendatang, peneliti bertekad menyelesaikan dua masalah besar tersebut. Sehingga RoboBee nantinya bisa mendesing bebas di udara.