1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Sosok Kontroversial Ibu Negara Suriah

Asma Assad diharapkan bisa menjadi penenang di Suriah yang bergolak. Namun, hal sebaliknya yang terjadi. Uni Eropa kini juga jatuhkan sanksi baginya.

Uni Eropa memutuskan untuk menjatuhkan sanksi kepada Asma al Assad, istri presiden Suriah, Bashar al Assad dan anggota keluarga lainnya. Tujuannya agar tekanan terhadap pemerintahan Assad semakin besar, sehingga ia dapat dipaksa mengakhiri aksi kekerasan yang dilancarkan oleh militer negara itu.

Para menteri luar negeri Uni Eropa yang bertemu di Brussel Jumat (23/3) juga membekukan aset dan mengeluarkan larangan bepergian ke Uni Eropa kepada keluarga besar Assad dan beberapa warga Suriah lainnya. Namun menurut petugas di London, sanksi yang dijatuhkan Uni Eropa kepada Asma, tidak bisa mencegahnya untuk memasuki Inggris karena ia tetaplah warga negara Inggris. Daftar keseluruhan sanksi akan dipublikasikan Sabtu (24/3), saat keputusan tersebut dinyatakan mulai berlaku.

Asma bertahan di sisi Assad

Asma Assad Ehefrau von Bashar Assad

Asma Assad

Citra Asma Assad semakin terpuruk. Ia dulu diagung-agungkan oleh warga Suriah dan dunia internasional karena kecantikan dan karismanya. Imej ini mulai retak, setelah suaminya merespon pemberontakan anti pemerintah setahun yang lalu dengan aksi kekerasan militer.

Asma bertahan mendampingi suaminya, walau kecaman datang dari berbagai penjuru. Kampung halaman Asma adalah Homs, yang kini menjadi simbol revolusi dan sasaran utama gempuran militer suaminya.

Mawar di padang pasir

Asma al Assad lahir dan besar di Inggris. Ia pernah bekerja sebagai bankir di negara itu. Pada awalnya ada anggapan, bahwa Asma yang berpegang pada nilai-nilai barat, akan membantu memberikan rezim Suriah wajah yang lebih manusiawi dan mengakhiri isolasi keluarga Assad yang penuh rahasia.

Dunia terkesan dengan Asma, perempuan berusia 36 tahun, ibu dari tiga anak. Media-media barat menggambarkannya sebagai sosok yang elegan, karismatis, percaya diri, cerdas dan berusaha "membuka" Suriah melalui seni dan ajang amal.

Bashar al-Assad und Ehefrau Asma

Bashar al-Assad dan Asma

Asma turut membantu mendongkrak imej Bashar al Assad, saat masih banyak yang berharap Assad akan menjadi tokoh reformasi. Ia memberikan sentuhan glamor ke penampilan Assad yang sedikit canggung jika harus berhadapan dengan publik.

Sebuah laporan di majalah mode Vogue menyebutnya sebagai "mawar di padang pasir" dan rumahnya tangganya sebagai "demokratis". Harian Perancis menulis, Asma adalah "elemen cahaya di negara yang penuh zona bayangan gelap.

Mereka semua terkesan oleh gayanya yang berkelas, pandangan liberalnya, dan aksen bahasa Inggrisnya. Ia mendapat medali emas dari kantor kepresidenan Italia atas kegiatan kemanusiaan di tahun 2008. Ia juga mendapat gelar doktor arkeologi kehormatan dari universitas La Sapienza di Roma.

Diktator sesungguhnya

Namun, dalam beberapa minggu terakhir, sang ibu negara mendapat kritikan tajam. Harian Inggris Guardian mempublikasikan email yang dibocorkan oleh oposisi Suriah yang membuktikan, bahwa pasangan yang berkuasa di Suriah itu, tetap berbelanja barang-barang mewah di saat negaranya terjerumus dalam kekacauan berdarah. Asma dikatakan menghabiskan puluhan ribu Poundsterling untuk membeli perhiasan, mebel, dan vas bunga mahal dari pusat perbelanjaan eksklusif Harrods.

Asma Assad Asma al Basha Flash-Galerie Fist Ladies

Asma Assad dan Ratu Spanyol Sofia

Asma Assad dikenal dengan penampilannya yang glamor. Ia kerap mengenakan sepatu mahal merek Christian Louboutin dan pakaian dari rumah mode Chanel. Asma sering disamakan dengan Ratu Rania dan Yordania atau istri presiden Perancis, Carla Bruni.

"Sayalah diktator sesungguhnya, suami saya tidak punya pilihan". Asma dikabarkan menuliskan kalimat tersebut dalam salah satu emailnya saat membicarakan suaminya. Seorang kontaknya di London, seorang pengusaha Suriah, mengirim email kepadanya menggunakan alamat yang diberi nama "Party party" atau pesta.

Gaia Servadio, penulis dan sejarawan yang pernah berkerja sama dengan Asma dalam beberapa proyek seni mempertanyakan sikap istri sang diktator. "Ia perempuan yang sangat cerdas dan menghormati pihak lain. Rezim suaminya sangat bengis. Ribuan orang telah terbunuh. Sulit bagi saya untuk mengatakan, saya kasihan dengan perempuan itu. Kalau ia mau, seharusnya ia menemukan cara untuk turut berbicara atau pergi."

Vidi Legowo-Zipperer (rtr, afp)

Editor : Agus Setiawan

Laporan Pilihan