1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Serangan Pesawat Tak Berawak Kembali Telan Korban

Tampaknya ketegangan antara Pakistan dan Amerika Serikat belum berakhir, setelah dalam dua hari, serangan pesawat tak berawak yang diduga milik AS telah menewaskan 14 orang.

Dilaporkan 10 tersangka militan tewas dalam sebuah serangan pesawat tak berawak, Kamis (24/05), di wilayah perbatasan ke Afghanistan. Menurut pejabat keamanan Pakistan, sebuah pesawat tak berawak menembakkan dua peluru kendali ke desa Khassokh di Waziristan Utara. Diduga pesawat tak berawak tersebut milik Amerika Serikat. Sehari sebelum insiden ini, serangan serupa telah menewaskan empat tersangka militan di wilayah yang sama.

Amerika Serikat tidak memrlihatkan tanda akan mengindahkan tuntutan Pakistan untuk menghentikan penggunaan pesawat tak berawak dalam aksi militer terhadap militan di negara ini. Bulan Maret lalu, Parlemen Pakistan menuntut AS untuk mengakhiri serangan, dan serangan Kamis ini (24/05) merupakan yang ke empat setelah tuntutan disampaikan.

Hubungan Tambah Buruk

Pakistan mengatakan serangan tersebut melanggar kedaulatannya dan membahayakan warga sipilnya. Sementara Amerika berpendapat bahwa misi pesawat tak berawak merupakan langkah yang efektif untuk menumpas Taliban dan militan al Qaida dan dapat memeberikan dorongan bagi Pakistan untuk menggelar serangan besar-besaran terhadap militan di wilayahnya.

Ketegangan hubungan antara Pakistan Amerika menunjukkan tanda-tanda akan mencair awal pekan ini pada pertemuan puncak NATO di Chicago. Hubungan kedua tegara memanas setelah serangan udara menewaskan 24 tentara Pakistan di perbatasan ke Afghanistan. Insiden ini menyebabkan kemarahan Islamabad sehingga ditutupnya rute pasokan NATO melalui Pakistan ke Afghanistan. Sejauh ini kedua belah pihak belum mencapai satu kesepakatan pembukaan kembali rute pasokan.

Sementara itu, Amerika Serikat juga merasa kecewa, setelah Pakistan menjatuhkan hukuman 33 tahun penjara kepada seorang dokter, yang membantu CIA menemukan tempat persembunyian Osama bin Laden, atas tuduhan penghianatan.

yf/ab (dpa/rtr/afp)

Laporan Pilihan