Sebuah Foto yang Meresahkan Dunia | dunia | DW | 12.08.2014
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Sebuah Foto yang Meresahkan Dunia

Menteri Luar Negeri AS John Kerry menggambarkan foto seorang anak kelahiran Sydney berumur 7 tahun yang memegangi kepala terpenggal seorang prajurit Suriah sebagai sesuatu yang “meresahkan” dan “mengerikan”.

Harian The Australian hari Senin melaporkan bahwa gambar yang diambil di kota Raqqa bagian utara Suriah itu diunggah ke Twitter oleh tersangka teroris yang juga bapak dari anak laki-laki itu yakni Khaled Sharrouf, yang kini bergabung bersama kelompok militan Islamic State (IS). (Baca: Foto Brutal Anak Jihadis Guncang Australia)

Menlu AS John Kerry mengatakan gambar itu menunjukkan kenapa kelompok Islamic State merupakan ancaman bagi dunia.

”Foto ini, mungkin adalah sebuh gambaran simbolik… betul-betul salah satu yang paling meresahkan, mengaduk-aduk perut, gambar mengerikan yang pernah ditampilkan,” kata Kerry kepada para wartawan.

“Gambar seorang anak 7 tahun memegang kepala terpenggal dengan bangga dan dengan dukungan dan dorongan dari orang tua, dengan kakak-kakaknya berada di sana,” kata dia. ”Anak itu seharusnya di sekolah, anak itu seharusnya sedang belajar tentang masa depan, anak itu seharusnya sedang bermain dengan anak-anak lain – bukan memegang kepala terpenggal dan berada di medan perang sana.”

Sharrouf, 33, juga mengunggah sebuah foto dari tiga anaknya yang sedang berpose dengan dirinya dalam seragam kamuflase perang dengan memegang senapan serbu dan pistol dengan bendera Islamic State di belakang mereka.

Menlu Australia Julie Bishop menggambarkan foto anak yang memegang kepala terpenggal itu ”betul-betul mengejutkan“.

“Seorang anak 7 tahun terlibat dalam tampilan barbar ideologi dan mereka adalah warganegara Australia,” kata dia, merujuk kepada keluarga itu. ”Ketakutan kami adalah bahwa mereka akan kembali ke Australia dengan sikap yang mengeras, tumbuh menjadi teroris di dalam negeri dan ingin melanjutkan apa yang mereka kerjakan (di medan perang Irak) di Australia – dan itu bukan cuma kekhawatiran negara ini.”

Isu global

Bishop mencatat bahwa terpidana teroris “dalam jumlah besar” akan segera dibebaskan dari penjara-penjara Indonesia, meningkatkan ketakutan bahwa mereka masih memegang ideologi radikal.

“Ini adalah masalah bersama di seluruh Australia, Indonesia, Malaysia, Filipina, Eropa, di Pakistan, Inggris, Kanada – di sana ada sejumlah negara di seluruh dunia yang dilaporkan kasus di mana warganya ikut berperang dan menjadi ekstrimis di Timur Tengah,” kata Bishop.

Australia pekan lali mengumumkan rencana untuk mengatur perjalanan ke wilayah panas terorisme seperti Irak dan Suriah sebagai bagian dari langkah pencegahan terorisme yang bertujuan mengatasi ancaman di dalam negeri yang ditimbulkan para ekstrimis.

Rancangan aturan yang akan disampaikan kepada parlemen dalam beberapa pekan ke depan, akan memasukkan ketentuan bahwa berpergian “tanpa sebuah alasan yang jelas“ ke negara-negara tertentu (yang menjadi ajang jihad) akan dianggap sebagai sebuah tindakan kriminal.

ab/rn (afp,ap,dpa)

Laporan Pilihan