1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Krisis Irak Semakin Dalam

Presiden Barack Obama menarik dukungan Amerika atas Perdana Menteri Nuri al-Maliki seiring langkah cepat Washington mempersenjatai kelompok Kurdi untuk menghadapi kelompok jihadis Islamic State.

Obama, yang dengan enggan pekan lalu mulai memerintahkan serangan udara di mana ia mengakhiri perang AS, menyuarakan harapan bahwa perdana menteri baru akan mulai mengurangi perpecahan sektarian yang telah memicu krisis.

Presiden AS mengatakan dirinya dan wakil presiden Joe Biden telah menelepon perdana menteri yang baru ditunjuk Haidar al-Abadi, yang pernah menjadi sekutu Maliki yang dipilih oleh Presiden Fuad Masum yang sedang membentuk pemerintahan baru.

Sambil menekankan posisinya bahwa “tidak ada solusi Amerika” bagi krisis Irak, Obama menyebut pencalonan Abadi sebagai “sebuah langkah yang menjanjikan.“

“Satu-satunya solusi yang langgeng bagi rakyat Irak adalah bersama-sama membentuk sebuah pemerintahan inklusif,“ kata Obama, setelah mengkritik bahwa pemerintahan Maliki telah memicu ketegangan sektarian karena tidak melibatkan kelompok Sunni.

“Kepemimpinan baru ini punya tugas berat untuk mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat dengan memerintah lewat cara yang inklusif dan mengambil sejumlah langkah yang menunjukkan tekad itu,“ kata Obama kepada wartawan.

Maliki telah menyerukan bahwa pemilihan Abadi, salah seorang anggota partainya dan pengikut Syiah, merupakan pelanggaran atas konstitusi Irak yang dilakukan dengan dukungan AS. (Baca: Elit Irak Berkonflik di Tengah Kepungan IS)

Para pejabat AS tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangan mereka terhadap Maliki, yang sebelumnya mendapat dukungan Washington, meski Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa mereka akan masih memperlakukan Maliki sebagai perdana menteri hingga pemerintahan baru terbentuk.

Obama – yang tidak menyebut nama Maliki sekalipun dalam pidatonya – mengatakan ia “menjanjikan dukungan“ bagi Abadi dalam percakapan telepon dan menyerukan perdana menteri yang ditunjuk itu “untuk membentuk kabinet baru secepat mungkin.“

“Saya mendesak kepada semua pemimpin politik Irak untuk bekerja secara damai lewat proses politik pada hari-hari mendatang,“ kata Obama.

Dukungan lebih kepada Kurdi

Obama yang sejak awal menentang invasi AS ke Irak, telah lama menolak peran AS dalam konflik, meski kelompok ekstrimis Sunni yakni Islamic State (IS) belakangan merajalela di kawasan Irak dan Suriah.

Namun bersamaan mendekatnya kelompok ekstrimis ke ibukota Kurdi, Arbil, pekan lalu ia memberi izin penggunakan kekuatan militer untuk melindungi kelompok minoritas Yazidi, yang menurut Obama sedang terancam genosida seiring brutalitas IS dalam membunuhi kelompok Muslim non-Sunni.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Marie Harf, mengatakan bahwa AS bergegas mempersenjatai pasukan Kurdi, yang dikenal dengan nama peshmerga.

Militer AS membenarkan bahwa mereka telah melakukan serangan udara lagi pada hari Minggu malam atas konvio IS yang sedang bersiap menyerang pasukan Kurdi yang berusaha melindungi ibukota Arbil.

Namun Obama mengesampingkan opsi pengiriman kembali pasukan darat dan mengatakan bahwa itu tergantung pada pemerintah Irak, bukan AS, untuk mengalahkan IS.

ab/rn (afp,ap,rtr)

Laporan Pilihan