1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Saling Ketergantungan Cina-Amerika Serikat

Dua blok pemimpin dunia industri Barat, Amerika Serikat dan Uni Eropa, terbelit masalah finansial yang tiada akhir. Timbunan utang kedua blok tersebut turut mengancam Cina. Aset Cina terancam hilang.

Menlu AS Hillary Clinton (kiri) disambut Presiden Cina Hu Jintao saat berkunjung ke Beijing

Menlu AS Hillary Clinton (kiri) disambut Presiden Cina Hu Jintao saat berkunjung ke Beijing

Cadangan valuta asing Cina berjumlah lebih dari 3 triliun Dolar. Tiga perempat dari jumlah tersebut dalam bentuk Dolar, sisanya berbentuk Euro. Jumlah yang luar biasa serta ketergantungan yang sangat besar. Cina memiliki lebih dari 1 triliun Dolar dalam bentuk obligasi pemerintah Amerika Serikat. Republik Rakyat Cina adalah kreditor terbesar negeri Paman Sam.

Kenyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan pemimpin di Beijing. Bukan hanya akhir-akhir ini, namun sudah sejak bulan Maret tahun 2009 lalu. Seperti diungkapkan Perdana Menteri Wen Jiabao, "Cina adalah kreditor terbesar Amerika Serikat. Kami memantau kebijakan Presiden Barack Obama dengan seksama. Kami punya harapan tersendiri. Kami meminjamkan banyak sekali uang bagi warga Amerika. Tentu saja kami khawatir dengan keselamatan uang kami. Amerika Serikat harus tetap menjadi negara yang laik kredit."

Cina putus asa akan Washington

Dan karena permohonan-permohonan semacam ini seakan tidak diindahkan Washington, Cina mendesak pemerintahan Obama dengan cara lain. Lembaga pemeringkat kredit Dagong yang bermarkas di Beijing menurunkan peringkat kredit Amerika bulan November lalu. Penurunan peringkat yang pertama bagi Amerika. Saat itu masih belum merebut banyak perhatian media Barat.

Baru-baru ini, Dagong kembali menurunkan peringkat kredit Washington. Jianzhong Guan, ketua lembaga pemeringkat kredit tersebut, berbicara di televisi nasional, "Awalnya kami menetapkan peringkat kredit Amerika Serikat AA. Akhir tahun lalu kami menurunkan peringkatnya karena Washington tidak mengacuhkan kepentingan kreditor dengan terus mencetak uang. Kami melihat ini sebagai pelanggaran kontrak, maka kami tidak ragu-ragu menurunkan lagi peringkat kredit. Krisis finansial menunjukkan bahwa sistem peminjaman tradisional itu bermasalah."

Aksi yang dilancarkan Dagong seakan menunjukkan keputusasaan Beijing dalam menuntut Washington untuk berubah haluan. Belum lagi kenyataan bahwa lembaga pemeringkat kredit Cina bahkan tidak diakui di Amerika. Pemerintahan Obama selalu mengacu kepada lembaga pemeringkat kredit Amerika.

Pekerja pabrik mobil Ford di Chongqing, Cina

Pekerja pabrik mobil Ford di Chongqing, Cina

Tingkat inflasi Cina tergantung ekonomi Barat

Bagi Cina, krisis utang di dunia Barat adalah lingkaran setan. Beijing yakin lingkaran tersebut menjadi salah satu alasan tingkat inflasi mencapai lebih dari 6 persen di Cina. Ekonom ternama dari Universitas Fudan di Shanghai, profesor Pan Yingli, menilai tingkat inflasi yang tinggi di Cina akan terus terjadi dalam 10 tahun kedepan. Alasannya, perekonomian Barat akan terus lemah. Oleh karena itu juga, Pan memprediksi negara-negara Barat akan terus mengadopsi kebijakan moneter yang fleksibel yang tentunya akan berpengaruh bagi perekonomian global.

Bahan mentah akan terus bertambah mahal, Cina merasa menjadi korban, karena harus selalu mengimpor lebih banyak untuk menggerakkan perekonomian supaya harapan untuk kesejahteraan pun terus hidup. Beragam komentar warga Cina di internet juga pesimistis. Intinya, warga Cina merasa tidak berdaya sebagai kreditor yang terus berada di bawah tipu daya peminjam.

Warga miskin kembali menjadi korban

Blogger ternama Qiulin menggambarkan mekanismenya sebagai berikut, 'Cina menawarkan tenaga kerja murah dan mengeksploitasi alam kami untuk membeli obligasi pemerintah Amerika. Kami mendukung Washington berfoya-foya dalam anggaran belanja, dan bank-bank mereka mendapat uang lebih banyak dari kami. Jelas bahwa kami adalah kreditor terburuk. Obligasi dari Amerika Serikat akan menjadi mahal bagi kami, mereka hampir seperti bom atom. Karena kami menyimpan dalam jumlah banyak, kami tidak bisa hengkang begitu saja. Karena kalau nilai obligasi sampai jatuh, Cina yang harus menelan konsekuensinya. Lalu siapa yang akan paling menderita? Para pejabat pemerintah ataukah warga miskin Cina?' Pembayar pajak Cina yang selalu menjadi korban. Rasa masam yang sudah tidak asing lagi bagi warga Cina.

Astrid Freyeisen/Carissa Paramita

Editor: Marjory Linardy

Laporan Pilihan