Puisi Pekerja Rumah Tangga Indonesia Menang Perlombaan Puisi di Singapura | dunia | DW | 05.12.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Puisi Pekerja Rumah Tangga Indonesia Menang Perlombaan Puisi di Singapura

Setelah kesibukan sebagai pekerja rumah tangga, yang bisa berlangsung 14 jam, Deni Apriyani melewatkan waktu luang di kamarnya dengan menulis puisi. Sekarang, puisi yang ditulisnya menang perlombaan.

Biasanya saya menulis tentang kehidupan sehari-hari saya, kata Deni Apriyani yang berusia 27 tahun. "Saya merasa puas. Ibaratnya telah melepas beban berat yang harus saya pikul." Demikian dikatakan Apriyani kepada Thomson Reuters Foundation. Ia bekerja sebagai pekerja rumah tangga pada sebuah keluarga ekspatriat di Singapura sejak 2013.

Seperti halnya puluhan ribu pembantu di Singapura, Apriyani bangun subuh setiap hari untuk membersihkan rumah. Ia juga memasak dan mengurus anak-anak majikannya. Tapi tenaga kerja domestik dan tenaga kerja migran lainnya di Singapura kerap ibaratnya bayangan, karena eksistensi mereka tidak ditanggapi dengan serius.

Sebagian dari mereka menumpahkan beban dan kesulitan yang mereka hadapi setiap hari ke dalam puisi. Mereka juga menulis tentang rasa rindu pada kampung halaman, juga cinta dan kebahagiaan. Puisi-puisi itu mereka kirimkan ke perlombaan tahunan Singapore Writers Festival, yang bertujuan untuk menghilangkan tembok pembatas dengan masyarakat Singapura dengan menunjukkan kemampuan menulis para pekerja rumah tangga.

Apriyani memenangkan hadiah pertama pada kompetisi tahun ini, dan diumumkan hari Minggu (3/12). Puisinya tentang kekerasan rumah tangga yang didasari pengalaman seorang perempuan di desa tempat tinggalnya di Indonesia.

Baca juga: Akhiri Perbudakan Terhadap Pekerja Rumah Tangga

Jumlah peminat tinggi

Organisator perlombaan, Shivaji Das mengatakan, jumlah puisi yang dikirimkan semakin lama semakin banyak, sejak kompetisi diadakan pertama kali tahun 2014.  Tahun ini ada lebih dari 100 puisi yang masuk, dan berasal dari pekerja migran dari delapan negara, termasuk Bangladesh, Myanmar, Filipina dan Indonesia.

Puisi-puisi itu sebagian besar ditulis dalam bahasa ibu mereka, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Shivaji Das juga mencatat bertambahnya jenis puisi yang disebutnya "activism poems" dalam tahun-tahun belakangan ini. Isi puisi ini adalah pergumulan hidup para pekerja migran.

Baca juga: Pasangan Singapura Dipenjara Karena Telantarkan Pembantu Filipina

"Kami mendapat puisi yang menggambarkan situasi hidup mereka, misalnya tidak diperlakukan dengan baik, tidak mendapat gaji, juga tentang kondisi hidup mereka." Demikian dikatakan Shivaji Das, seorang manajer yang berasal dari India dan pindah ke Singapura 12 tahun lalu.

Organisasi yang mengurus hak-hak pekerja migran sering mengatakan bahwa pekerja rumah tangga kerap diperlakukan buruk. Selama ini pemerintah Singapur selalu menampik tuduhan tersebut. Shivaji Das mengatakan, kompetisi juga bertujuan memberikan pekerja migran "suara dan wadah untuk menampung suara mereka". Das menambahkan dalam interview, jika para pekerja punya kesempatan untuk menyuarakan masalah dan kondisi mereka, orang akan lebih menghargai mereka sebagai manusia, dan bukan sekedar mesin ekonomi.

ml/hp (Thomson Reuters Foundation, straitstimes)

Laporan Pilihan