1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Pertumbuhan atau Pelestarian Lingkungan

Bisakah pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan berjalan berdampingan? Ada pihak yang berbicara tentang pertumbuhan hijau. Apakah ini tidak merupakan unsur yang bertentangan?

Pada era perubahan energi, Jerman akan mengalihkan pasokan energinya secara bertahap pada sumber berkelanjutan, misalnya tenaga surya, air dan angin. Banyak pihak melihatnya sebagai langkah penting menuju cara hidup yang ramah lingkungan.

Namun, Karl-Heinz Paquè, guru besar ilmu Ekonomi di Universitas Magdeburg berpendapat lain: "Jika kita di Jerman mengembangkan program itu, dampaknya nyaris tidak ada secara global, karena kita terlalu kecil. Yang menentukan adalah apa yang terjadi di negara-negara lain yang mengikuti program Eropa. Karena ini menyangkut dua pertiga dari seluruh jumlah penduduk dunia."

Mengikuti jalan Eropa: Ratusan tahun lamanya Eropa mengupayakan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sebelum menemukan kecintaan terhadap lingkungan alam. "Prioritas terhadap perlindungan alam adalah sesuatu yang datang bersama kesejahteraan", kata Paquè kepada Deutsche Welle. "Di negara kita, ini dimulai tahun 1970-an, tidak sebelumnya. Di China baru sekarang, India perlu lebih lama lagi."

Kebangkitan Kembali Batu Bara

Bagi Eropa yang makmur dan peduli lingkungan ada cukup banyak alasan untuk gelisah. Sumber energi yang dianggap oleh kebanyakan negara Eropa sebagai kotor, kini naik daun di banyak negara lain di dunia. "Batu bara berada di ambang renaisans terbesarnya dalam sejarah industri", kata Ottmar Edenhofer, wakil Direktur dan kepala pakar ekonomi Institut Penelitian Dampak Iklim di Potsdam.

ARCHIV - Ottmar Edenhofer Chefökonom des Potsdam-Instituts für Klimafolgenforschung, hinter einem Globus (Archivfoto vom 23.02.2007). Foto: Nestor Bachmann dpa/lbn (zu dpa-Interview vom 11.12.2011) +++(c) dpa - Bildfunk+++

Ottmar Edenhofer

Tahun 1990-an batu bara di sejumlah besar negara diganti dengan gas. Tetapi kini terlihat perubahan tren, karena batu bara "sangat mampu bersaing", tambah Edenhofer. "Terutama pertumbuhan ekonomi di China sangat ditentukan melalui batu bara yang murah. Serupa dengan di India, Afrika Selatan dan beberapa negara di Eropa Timur."

CO2 terbentuk melalui pembakaran batu bara dan sumber energi fosil lainnya. Ini membebani atmosfer dan diperkirakan memicu perubahan iklim. Jika negara-negara tidak melakukan apa pun untuk melawannya, dikhawatirkan suhu akan naik secara rata-rata per tahun 5,3 derajat ada akhir abad ini. Ini akan berakibat fatal bagi lingkungan, demikian menurut Badan Energi Internasional (IEA). Hubungannya dengan penurunan harga bahan baku, bisa disimak di halaman dua.

Laporan Pilihan