1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Pemusnahan Lewat Kerja - Pekerja Paksa di Masa Perang Dunia 2

Pada tanggal 17 Juli 2000, pemerintah serta perusahaan Jerman menandatangai perjanjian dengan Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya untuk memberi ganti rugi kepada mantan para pekerja paksa di masa Perang Dunia 2.

default

Monumen peringatan bagi para pekerja paksa di Wolsburg

Dengan dimulainya Perang Dunia ke 2, tanggal 1 September 1939, Jerman sangat kekurangan tenaga kerja. Empat juta tentara bertempur di berbagai front di Eropa, dan meninggalkan lapangan kerja yang kosong. Dengan kenyataan itu, sampai akhir Perang Dunia ke 2, antara 8 sampa 12 juta pria dan perempuan direkrut menjadi pekerja paksa, terutama dari bagian timur Eropa. Pria dan perempuan tanpa mempedulikan keluarganya diculik dan dideportasi ke Jerman, untuk kemudian dikerahkan menjadi pekerja paksa.

Warga dikawasan itu menurut ideologi rejim NAZI adalah warga dengan ras paling rendah di Eropa. Sementara pekerja paksa dari negara Eropa Barat, seperti dari Belanda, Belgia, Perancis atau dari negara di kawasan Skandinavia kondisinya lebih baik. Menurut ukuran rejim NAZI, mereka termasuk ras yang dekat dengan ras Aria bangsa Jerman. Dengan alasan itu kondisi kehidupannya jauh lebih baik dibandingkan dengan pekerja paksa yang berasal dari kawasan Eropa Timur.

Deutschland NS-Zeit Zwangsarbeiter Entschädigung von NS-Zwangsarbeitern beendet

Warga Yahudi yang menjadi pekerja paksa di pabrik amunisi di Dachau

Pada bulan Februari tahun 1943, penanggung jawab bagi pengerahan tenaga kerja paksa dari rejim NAZI, Fritz Sauckel, dengan nada sinis berusaha membujuk tenaga kerja dari wilayah Perancis yang diduduki. "Tujuannya utamanya telah jelas. Jerman memerlukan senjata dan peralatan perang. Sedangkan pekerja Perancis memerlukan lapangan kerja dan makan," dikatakan Sauckel kala itu.

Fritz Sauckel yang bertanggung jawab dalam melakukan penculikan manusia terbesar, sejak berakhirnya perbudakan, pada tahun 1946 dijatuhi hukuman mati oleh mahkamah militer Internasional di Nürnberg. Pada tahun 1944, seperempat lapangan kerja dipegang oleh apa yang disebut "bangsa asing". Banyak diantaranya ditempatkan di kamp penampungan. Disamping itu juga didirikan 30 ribu tempat apa yang disebut "kamp warga asing", dimana pekerja paksa perempuan dan pria harus hidup dengan kondisi yang sangat buruk. Mereka dikucilkan dari kehidupan umum dan bekerja di semua sektor industri.

Salah seorang warga Lituania yang diculik untuk menjadi pekerja paksa di Jerman pada tahun 1944, Uri Chanoch, mengungkapkan, "Kondisinya benar-benar mengerikan. Dan disebut sebagai pemusnahan lewat kerja paksa. Kami bekerja 12 jam sehari dan terus mengalami penyiksaan. Ratusan orang menjadi korban dan terkubur dalam adukan beton."

Zwangsarbeiter des Konzentrationslagers Dora-Mittelbau

Pekerja paksa di Thüringen yang berhasil dibebaskan tentara Amerika Serikat, Mei 1945

Mantan Kanselir Jerman Gerhard Schröder pada bulan April tahun 2000 lalu, ketika menyampaikan pandangannya mengenai pembentukan yayasan yang memberikan ganti rugi bagi para pekerja paksa, di depan parlemen mengatakan, "Dengan membentuk yayasan ini, kita tidak akan menutup sejarahnya, malah sebaliknya. Sebagai isyarat kemanusiaan untuk keadilan bagi para korban, juga termasuk berjanji untuk tidak melupakan nasibnya."

Di sejumlah pemakaman di Jerman, terdapat monumen peringatan dari beberapa ribu pekerja paksa yang tewas di Jerman antara tahun 1939 sampai 1945. Nasib yang dialaminya tidak akan pernah dilupakan.

Matthias von Hellfeld/Asril Ridwan

Editor:Agus Setiawan