1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pasukan Gaddafi Mundur dari Misrata

Militer Libya yang setia kepada Muammar Gaddafi hari Sabtu (23/4) mendapat perintah untuk mundur dari Misrata. Perintah tersebut diakui sejumlah tentara yang berhasil ditangkap kaum pemberontak.

default

"Kami diperintahkan untuk mundur. Kami diperintahkan untuk mundur sejak kemarin," ujar Khaled Dorman, salah satu dari 12 anggota militer Libya yang terluka di Misrata.

Pemerintah Libya mengakui serangan udara NATO memaksa militer berhenti bertempur di Misrata.

Pasukan pemberontak melewati tank pasukan Gaddafi yang hancur di pinggiran Ajdabiya

Pasukan pemberontak melewati tank pasukan Gaddafi yang hancur di pinggiran Ajdabiya

Wakil Menteri Luar Negeri Libya, Khaled Kaim, mengatakan, "Situasi di Misrata akan mereda. Akan ditangani suku sekitar yang dipersenjatai dan warga Misrata. Militer Libya akan mundur karena warga tidak bisa terus hidup seperti ini. Taktik militer Libya adalah mencari solusi, tapi tidak berhasil. Dengan adanya serangan udara (NATO), tidak berhasil." Misrata telah berada di bawah serangan pasukan Gaddafi selama hampir dua bulan. Ratusan warga sipil tewas akibat baku tembak.

Selang beberapa jam, NATO melancarkan serangan ke sebuah bunker di Tripoli. Targetnya adalah bekas penyimpanan senjata dan amunisi yang berada di bawah lapangan parkir. Tiga orang dilaporkan tewas akibat serangan ini. Pasukan koalisi telah berjanji tidak akan berhenti mengebom Libya hingga Gaddafi mundur.

Hari Jumat (22/4), senator Amerika Serikat John McCain berkunjung ke Benghazi yang berada di bawah kekuasaan kaum pemberontak.

Senator AS John McCain saat konferensi pers di Benghazi

Senator AS John McCain saat konferensi pers di Benghazi

McCain mengkritik kebijakan hati-hati Washington. McCain yang kalah dari Obama pada pemilu presiden 2008 lalu, menilai pemerintahan Obama seharusnya lebih terlibat dalam serangan udara dan mengakui pemerintahan Libya di bawah kaum pemberontak. Juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, membalas pernyataan McCain. "Adalah hak warga Libya untuk menentukan siapa pemimpin negaranya, bukan tugas Amerika Serikat," tukasnya.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang telah mengakui kaum pemberontak Libya sebagai pemerintahan yang sah, rencananya akan mengunjungi Benghazi awal bulan Mei. Sarkozy mengajak Perdana Menteri Inggris David Cameron untuk ikut serta.

rtr/afp/Carissa Paramita

Editor: Luky Setyarini

Laporan Pilihan