1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

AS Kerahkan Pesawat Tanpa Awak di Libya

Pesawat tanpa awak Amerika Serikat dikerahkan untuk memperkuat pihak penentang Gaddafi dalam perang di Lybia. Menteri Pertahanan AS, Robert Gates menekankan bahwa sumbangan kecil ini berfungsi mengakhiri perang.

default

„Perang ini berjalan di tempat.“ Begitu komentar Panglima AS, Mike Mullen mengenai situasi di Libya. Mullen yang tengah meninjau pasukan AS di Bagdad mengatakan, bahwa meskipun serangan-serangan udara NATO dan AS berhasil, akhir dari konflik Lybia belum terlihat.

"Posisi Amerika Serikat sehubungan mempersenjatai kaum pemberontak jelas, yakni belum ada keputusan untuk melakukannya. Karenanya hal itu tidak akan terjadi saat ini. Sampai kini yang telah terjadi adalah bahwa pasukan Libya sudah berkurang hingga 30 hingga 40 persen. Namun kini mereka sudah mengubah taktik, sehingga lebih sulit untuk diserang". Jenderal Mike Mullen menambahkan, kini situasi di Libya tak bergerak dan di kawasan Ajabiya dan Brega, kedua pihak tampak sama kuat.

Hari Jumat (22/4) , Amerika Serikat mengerahkan pesawat tanpa awak untuk melemahkan pasukan Muammar Gaddafi. Kamis (21/4) lalu, atas permintaan NATO, Presiden Barak Obama memberikan lampu hijau untuk penugasannya di kota-kota pesisir yang padat penduduk.

USA Menteri Pertahanan AS, Robert Gates dan Jenderal James Cartwright, yang hingga awal April memimpin Operasi Dawn di Libya

Menteri Pertahanan AS, Robert Gates menuturkan, "Presiden telah mengatakan bahwa kami memiliki teknologi yang unik, dan ia bersedia menggunakan kemampuan itu. In ia juga telah menyetujui pengerahan pesawat tanpa awak, Predator". Disebutkan, pesawat Predator mampu terbang lebih rendah dan lebih jitu menembak sasaran, sehingga jumlah korban sipil dapat dikurangi.

Namun pada hari Kamis yang sama, panglima militer Pakistan mengecam penggunaan pesawat tanpa awak di negaranya. Seorang perwira tinggi militer Pakistan lainnya juga menegaskan, bahwa sekarang Amerika Serikat tidak lagi memiliki akses terhadap markas udara Shamsi di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Seluruh pasukan AS yang terdiri dari 150 orang sudah pergi atas desakan pemerintah Pakistan yang menolak berlanjutnya operasi pesawat tanpa awak, karena banyaknya korban sipil yang jatuh.

Dalam sebuah operasi AS yang masih berlanjut pada hari Jumat (22.4.), serangan terhadap sebuah rumah di kawasan persukuan di Wajiristan Utara menewaskan sedikitnya 25 orang. Menurut dinas rahasia Pakistan, diantara pemberontak yang bersembunyi terdapat sejumlah warga sipil yang tewas akibat serangan udara itu.

Kecemasan serupa diutarakan wakil menteri luar Negeri Libya Chaled Kaim, yang memprotes pengerahan pesawat tanpa awak itu. "Ini akan menewaskan lebih banyak warga sipil. Ini menyedihkan, mereka mengaku mendukung demokrasi, dengan membantu semua pihak untuk duduk bersama dan berdialog mengenai masa depan. Warga Libya harus bisa menentukan masa depannya sendiri. Bukan dengan melakukan lebih banyak serangan udara atau memberi lebih dana dan mempersenjatai kaum pemberontak."

Senator John McCain di Benghazi, Libya



Sementara itu di Amerika Serikat, politisi kubu Republik Senator John McCain di Kongres menegaskan bahwa Amerika Serikat seharusnya lebih terlibat secara militer dalam penyelesaian konflik di Libya. Ia menilai pengerahan pesawat tanpa awak saja kurang efektif. Ketua Komisi Pertahanan dalam Senat AS itu menyebut kaum pemberontak Libya sebagai pahlawannya.

Di pihak lain, Menteri Pertahanan Robert Gates tampak lebih hati-hati. Di Washington ia mengingatkan, bahwa Amerika Serikat masih belum tahu cukup banyak tentang pihak yang memberontak ini. Gates juga menekankan bahwa sumbangan kecil AS, dalam bentuk pesawat tanpa awak ini berfungsi mengakhiri perang saudara. Selain itu, bahwa Amerika tidak akan terlibat lagi dalam peperangan baru di Libya.

Silke Hasselmann / Edith Koesoemawiria
Editor: Rizky Nugraha

Laporan Pilihan