1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pakaian Anak Merek-Merek Ternama Mengandung Racun

Greenpeace menemukan beragam zat kimia beracun pada pakaian anak-anak produksi merek-merek besar. Meski tidak berisiko langsung terhadap kesehatan, zat kimia itu tetap berbahaya saat dilepas ke alam.

Menyusul pengetesan pada pakaian dan sepatu anak-anak yang dibuat oleh 12 merek mode global, sejumlah bahan kimia berbahaya ditemukan pada 82 produk pakaian, ungkap organisasi lingkungan Greenpeace.

Tes dijalani seiring kampanye Detox dari Greenpeace dan terhadap produk-produk yang dijual oleh Adidas, Burberry, Disney, American Apparel, GAP, Primark dan Nike di antara lainnya.

Setiap merek yang diuji coba ditemukan memiliki produk yang mengandung bahan kimia berbahaya, kata Greenpeace, termasuk misalnya nonylphenol ethoxylates (NPEs), yang dapat terpecah apabila dilepaskan ke alam untuk kemudian membentuk zat kimia yang bisa merusak hormon, begitu juga dengan asam perfluoroctane (PFOA) yang dapat menyebabkan kanker. Pada sebagian produk yang dites, jejak-jejak ester dari asam phthalic juga ditemukan, yang dapat mengganggu kesuburan atau janin dalam kandungan, tambah Greenpeace.

"Bahan kimia seperti ini dapat ditemukan pada semua merek mulai dari desain-desain mewah yang eksklusif hingga mode berbujet," ujar pakar kimia Greenpeace, Manfred Santen, dalam sebuah konferensi pers di Hamburg.

Menggandeng merek ternama

Mencatat tidak adanya perbedaan dalam level bahan kimia yang ditemukan pada pakaian anak-anak dengan pakaian dewasa, Santen juga mengatakan bahwa anak-anak terutama rentan terhadap beragam dampak bahan kimia.

Ia lanjut mengatakan bahwa zat kimia beracun itu tidak berisiko langsung terhadap kesehatan, namun dapat mempengaruhi reproduksi manusia, sistem hormon dan imunitas begitu dilepaskan ke alam.

Di bawah kampanye Detox, Greenpeace telah membentuk sebuah aliansi dengan 18 merek mode, termasuk Mango dan H&M, yang berjanji akan sepenuhnya meninggalkan penggunaan bahan kimia beracun dalam produk-produk mereka pada tahun 2020.

Organisasi lingkungan itu juga menyerukan kepada Cina, yang merupakan produsen tekstil terbesar di dunia, untuk membantu memfasilitasi penanggalan bahan kimia dan transparansi rantai suplai pada industri tekstil.

cp/vlz (dpa, afp)