1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Ketika Mode Membuat Sakit

Residu bahan kimia beracun ditemukan di sebagian besar tekstil buatan rantai produsen mode internasional. Demikian hasil penelitian organisasi Greenpeace.

Mengunjungi toko-toko di pusat kota merupakan salah satu aktivitas favorit warga Jerman di waktu luang mereka. Para produsen besar mode menyikapi hal ini dengan secara teratur mengeluarkan koleksi terbaru mereka. Misalnya saja, Zara, yang tergabung dalam grup perusahaan tekstil Spanyol Inditex, setiap tahunnya mengeluarkan sekitar 850 juta potong pakaian. “Fast Fashion“ mengacu pada Fast Food, pakaian murah yang ditawarkan pada kalangan konsumen remaja, yang selalu ingin tampil up to date.

Shopping Konsum Frauen Mädchen Einkaufen Billig Symbolbild

Pakaian murah, pakaian yang terjangkau konsumen remaja

Hari Jumat (23/11/12), para aktivis dari organisasi lingkungan Greenpeace melakukan demonstrasi di depan salah satu toko cabang Zara di kota Hamburg. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan: “Apakah Anda mengetahui rahasia kotor Zara?“ Para aktivis lingkungan lainnya melakukan aksi serupa di beberapa kota di Jerman untuk menunjukkan hasil penelitian terbaru mereka. Kandungan bahan kimia berbahaya diuji pada 141 pakaian merek fashion terkenal seperti Zara, Benetton, Tommy Hilfiger, Gap, C & A dan H & M.

Bahan Kimia Beracun pada Pakaian

Christiane Huxdorff, pakar kimia dari Greenpeace mengatakan kepada Deutsche Welle, bahan kimia apa saja yang ditemukan pada pakaian yang diuji. “Kami menemukan residu deterjen, yang disebut NPEs, yang memiliki efek hormonal pada manusia, residu plasticizer, yang diduga menimbulkan kemandulan dan bahkan bahan kimia dari senyawa pewarna sintetis Azo, yang dapat menyebabkan kanker.“

Christiane Huxdorff

Christiane Huxdorff

Senyawa pewarna sintetis Azo merupakan bahan pewarna yang sangat kuat. Beberapa senyawa Azo dapat melepaskan zat-zat beracun atau bahkan menyebabkan kanker. Di Jerman, bahan pewarna seperti ini dilarang untuk dipergunakan. Namun akibat lemahnya pengawasan, jenis pewarna ini masih dimanfaatkan di banyak negara di luar Eropa. Dan celah ini juga dimanfaatkan para produsen besar pakaian Fast Fashion dengan memindahkan lokasi produksi mereka ke Asia, demikian menururt Christiane Huxdorff. “Para produsen beralih ke Asia, bukan saja karena biaya produksi di sana lebih murah, tapi juga karena di Eropa persyaratan lingkungan yang dikenakan pada perusahaan lebih ketat.“

Namun demikian, diakui Christiane Huxdorff, sejauh ini belum terdapat bukti adanya dampak langsung yang merugikan pada manusia jika mengenakan pakaian yang terkontaminasi. Dikatakan Huxdorff, bahayanya tidak langsung, “Juga di Jerman serta di Eropa, jumlah residu beracun dalam air limbah dan sungai terus bertambah akibat pencucian pakaian seperti ini.“

Resiko Terbesar Dihadapi Pekerja Tekstil

Yang pasti, para pekerja tekstil di Asia lah yang memiliki resiko yang paling besar karena mereka setiap harinya berurusan langsung dengan bahan kimia beracun. Selain itu, banyak pabrik tekstil di India dan Cina yang membuang limbah langsung ke sungai tanpa disaring, “Dampak pada kesehatan dihadapi penduduk yang tinggal di sekitar pabrik, yang mungkin mengkonsumsi ikan dari sungai.“

Tekanan terhadap para produsen pakaian dijuga dilancarkan melalui jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. "Para konsumen mengatakan: saya ingin membeli pakaian kalian namun tanpa bahan kimia beracun.“

Indien Fluss Yamuna

Dampak lingkungan industri tekstil jarang diperhatikan para konsumen

Sementara itu, perusahaan tekstil Spanyol Inditex memberikan jaminan kepada Deutsche Welle bahwa mereka memiliki kontrol kualitas sendiri dan laboratorium yang ditunjuk telah menjamin bahwa pakaian yang diproduksi “memiliki standar kesehatan yang memadai, memperhatikan keselamatan konsumen dan menghormati lingkungan“. Namun demikian, Inditex menyutujui untuk berunding mengenai kewajibannya dengan Greenpeace. “Kami katakan kembali kesediaan kami untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama dalam waktu singkat: tidak ada residu berbahaya dalam tekstil.“

Tahun 2011 lalu, produsen pakaian olahraga seperti Puma, Adidas dan Nike juga telah menyatakan komitmen, sampai tahun 2020 akan meninggalkan zat beracun dalam proses produksi. Komitmen ini dikeluarkan mereka menanggapi Detox atau detoksifikasi, satu aksi yang digelar Greenpeace tahun 2011.

Bagaimana Konsumen Melindungi Diri?

Tidak terdapat perlindungan yang menyeluruh terhadap bahan kimia berbahaya dalam pakaian, dikatakan Christiane Huxdorff. Siapa yang ingin mengambil langkah yang aman, disarankan untuk membeli pakaian yang memiliki sertifiikat lingkungan. Juga pakaian yang telah sering dicuci atau pakaian bekas lebih sedikit terkontaminasi. Dan bagi lingkungan, disarankan daripada membeli banyak pakaian yang murah, lebih baik untuk membeli lebih sedikit pakaian namun lebih berkualitas.