1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Optimisme dan Pesimisme soal Nuklir Iran

Washington dan Teheran optimis setelah Iran sepakat menggelar pembicaran nuklir lanjutan bulan depan dan menawarkan proposal ”terobosan“ yang memperbolehkan pemeriksaan atas sejumlah situs nuklirnya.

Setelah kesepakatan hari Rabu (17/10/13), Iran mengatakan kepada komunitas internasional bahwa mereka mengharapkan “fase baru dalam hubungan kita.“

Gedung Putih mengatakan bahwa Iran telah menunjukkan kemajuan besar dalam hal “keseriusan dan substansi“ dibandingkan sebelumnya. Komentar ini disampaikan setelah dua hari pembicaraan di Jenewa.

Jerman juga bereaksi positif, mengatakan bahwa pertemuan terakhir itu telah meningkatkan harapan bagi sebuah solusi diplomatik, meski Rusia memperingatkan bahwa “tidak ada alasan untuk jeda tepuk tangan.“

Sementara musuh bebuyutan Iran, yakni Israel, berkeras bahwa Teheran harus dinilai berdasarkan perbuatannya.

Kepala Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengatakan kepada para wartawan bahwa pertemuan berikutnya akan digelar di Jenewa pada 7 dan 8 November mendatang.

Ia menggarisbawahi bahwa pernyataan yang ia tandatangani sebagai ketua tim negosiasi internasional bersama Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, belum pernah terjadi sebelumnya.

Uni Eropa adalah pihak yang memimpin apa yang disebut Grup p5+1 – Inggris, Cina, Perancis, Rusia dan Amerika Serikat, ditambah Jerman – yang selama bertahun-tahun mencoba mencari kesepakatan dengan Iran di tengah kecemasan bahwa negara itu sedang mengembangkan senjata nuklir.

Republik Islam Iran selama ini menolak tuduhan itu dan berkeras bahwa program nuklir mereka ditujukan untuk kepentingan damai.

Schwerwasserreaktor in Arak

Iran menegaskan bahwa mereka berhak mengembangkan nuklir untuk kepentingan damai.

Pernyataan itu menggambarkan pertemuan Jenewa “bersifat substansial dan berwawasan ke depan,“ sambil menyebut proposal Iran sebagai sebuah “dasar bagi negosiasi.“

Tanggapan positif dari Barat

Pembicaraan ini adalah yang pertama sejak Presiden Hassan Rouhani yang dilihat relatif moderat, menggantikan Mahmoud Ahmadinejad yang dikenal konservatif.

Di tengah tanda-tanda mencairnya hubungan dengan masyarakat internasional, Rouhani berjanji akan bersikap transparan terkait program nuklirnya dan berusaha membuat perjanjian dengan kekuatan besar dunia untuk mengakhiri sanksi ekonomi.

“Kami berharap bahwa ini adalah awal fase baru bagi hubungan kita,“ kata Zarif.

Meski rincian proposal Iran masih belum diungkapkan, tapi kepala negosiator Iran, Abbas Araqchi mengatakan bahwa usulan itu melibatkan “langkah-langkah proporsional dan timbal balik dari kedua belah pihak.“

Setelah presentasi selama satu jam oleh tim Iran – yang disampaikan dalam bahasa Inggris, yang untuk pertama kalinya dilakukan Iran dalam negosiasi nuklir – Araqchi mengatakan proposal itu “mampu membuat sebuah terobosan.“

Rencana Iran berisi tiga langkah untuk menyelesaikan sengketa nuklir “dalam satu tahun,“ kata Araqchi, dengan hasil pertama diharapkan bisa terlaksana “dalam satu atau dua bulan, atau bahkan kurang.“

Ia mengatakan bahwa pemeriksaan atas berbagai fasilitas nuklir Iran akan menjadi bagian dari langkah terakhir.

Juru bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan bahwa presentasi Iran dalam pembicaraan itu “bermanfaat.“ Dan menunjukkan “tingkat keseriusan dan substansi yang belum pernah kita saksikan sebelumnya.“

Sementara Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle mengatakan bahwa pembicaraan itu “telah memperkuat harapan bahwa sebuah solusi diplomatik adalah mungkin untuk betul-betul menenangkan kecemasan kita terkait perkembangan program nuklir Iran.“

Tak ada alasan untuk tepuk tangan

Tapi negosiator Rusia Sergei Ryabkov kurang optimis, sambil mengatakan bahwa kedua pihak yang bernegosiasi tidak mempunyai rasa saling percaya.

"Pembicaraan itu sulit, kadang-kadang intens, dan di lain kesempatan tidak bisa diperkirakan,” kata dia.

Ryabkov sepakat bahwa hasil ini lebih baik daripada pertemuan April di Kazakhstan – di mana saat itu Ahmadinejad masih menjadi presiden dan negosiasi membentur tembok.

“Tapi ini tidak menjamin kemajuan lebih lanjut. Tak ada alasan untuk jeda bertepuk tangan…”

Iran telah menetapkan batas, mengatakan bahwa mereka tidak akan menerima tuntutan untuk menunda pengayaan uranium atau mengirimkan material murni ke luar negeri.

“Kami tidak akan mundur dari apa yang menjadi hak kami,“ kata Zarif.

ab/cp (afp, ap, rtr)

Laporan Pilihan