1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pertemuan Pertama Puaskan AS dan Iran

Pertama-tama jabat tangan, lalu undangan untuk pertemuan empat mata yang berakhir percakapan selama setengah jam, menandai pertemuan tertinggi pertama antara pejabat Amerika dan Iran.

Kesempatan bagi pertemuan langka antara Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry dengan rekannya Menlu Iran Mohammad Javad Zarif, datang setelah pembicaraan Zarif dengan para menteri luar negeri dari enam negara kekuatan dunia yang membahas perselisihan program nuklir Teheran.

Pembicaraan diawali dengan jabat tangan antara Kerry dengan Zarif, kata seorang pejabat AS.

Zarif dan Kerry duduk bersebelahan di pojok meja berbentuk U selama pertemuan para menlu dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB yakni Inggris, Prancis, Rusia, Cina dan AS serta Jerman yang merupakan Negara tambahan.

Inisiatif Kerry

Posisi duduk yang dekat ini ditafsirkan sebagai hasrat besar diantara keduanya untuk mencoba menghapus ketegangan yang telah berlangsung selama lebih dari tiga puluh tahun.

Pada akhir pertemuan, Kerry menangkap kesempatan mengundang Zarif untuk percakapan pribadi, kata pejabat AS yang tidak bersedia diungkapkan identitasnya.

“Menlu (AS-red.) mendekat dan bilang, 'Bisakah kita bicara beberapa saat?“ kata pejabat tersebut.

Dua diplomat itu kemudian pergi ke sebuah ruangan di sisi gedung pertemuan utama, tanpa pendamping lain, kata pejabat tersebut. “Secara informal mungkin sudah ada pembicaraan,” kata dia.

Pertemuan selama 30 menit itu merupakan pertemuan pertama antara pejabat tertinggi AS dan Iran sejak revolusi Islam serta penyanderaan kedutaan besar Amerika di Teheran 1979, yang telah menciptakan ketegangan diplomatik kedua Negara.

Memuaskan

“Kami telah melakukan pertemuan yang sangat konstruktif,” kata Kerry kepada para wartawan setelah pertemuan para Menlu DK PBB.

Tapi Kerry menambahkan, ”Masih banyak yang harus dikerjakan.“

AS ingin Iran menjawab berbagai pertanyaan terkait program nuklir mereka, yang selama ini dicurigai Barat sebagai penyamaran Teheran untuk mengembangkan senjata pemusnah massal. Sebuah tuduhan yang selama ini dibantah Iran yang menyebutkan bahwa program nuklirnya hanya untuk kebutuhan damai, yakni memasok energi listrik serta kedokteran.

Usai pertemuan, Zarif juga mengungkapkan kepuasan.

“Saya puas dengan langkah pertama ini. Sekarang kita harus melihat apakah kita bisa menyesuaikan kata-kata positif dengan perbuatan serius agar kita bisa melangkah ke depan,“ kata Zarif.

“Tentu saja saat kita telah maju ke depan, maka harus ada penghapusan sanksi dan di akhir permainan harus ada pencabutan total seluruh sanksi baik yang bersifat bilateral, unilateral maupun multilateral serta sanksi PBB, dan kami berharap bisa bergergerak ke arah itu dalam jangka pendek.“

ab/ek (afp,ap,rtr)

Laporan Pilihan