1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Oposisi Ukraina Ultimatum Presiden Yanukovych

Oposisi Ukraina mengancam akan menyerbu gedung pemerintahan jika Yanukovych tidak mau berkompromi. Lima aktivis oposisi tewas dalam bentrokan berdarah dengan aparat keamanan di Kiev.

Para demonstran dan aparat keamanan masih berhadap-hadapan di pusat kota Kiev setelah bentrokan keras sepanjang malam dan pagi hari. Polisi mengerahkan gas air mata dan peluru karet, sementara demonstran membalas dengan lemparan batu dan bom molotov.

Presiden Yanukovych dan para pemimpin oposisi sempat melakukan pertemuan hari Rabu (22/01) namun tanpa hasil. Kalangan oposisi mengatakan, pemerintah tidak mau berkompromi untuk memenuhi sebagian tuntutan pemrotes.

"Anda, Tuan Presiden, punya kesempatan untuk menyelesaikan situasi ini. Pemilihan umum baru akan bisa mengubah situasi tanpa pertumpahan darah. Kami akan melakukan segalanya untuk mencapai itu", kata tokoh oposisi Vitali Klitschko di hadapan sekitar 40.000 orang yang berkumpul di pusat kota Kiev.

Bentrokan berdarah

Pihak oposisi menuntut agar Yanukovych membatalkan undang-undang baru yang represif dan pemerintah dibubarkan. Klitscko mengatakan, para demonstran "akan bersikap ofensif" jika Presiden tidak segera menawarkan solusi.

Tokoh oposisi lain, Arseniy Yatsenyuk memberi waktu 24 jam kepada Yaukovych mulai Rabu malam untuk menyampaikan usulan kompromi. "Jika tidak, kami siap menyerang", ancam Yatsenyuk.

Ratusan orang dilaporkan cidera hari Rabu dalam bentrokan antara demonstran dan polisi anti huru-hara. Sampai Kamis pagi, 5 demonstran diberitakan tewas. Menurut laporan media, pada 4 korban yang tewas ditemukan luka tembak.

Krisis di politik di Ukraina yang sudah berlangsung selama dua bulan meruncing menjadi bentrokan kekerasan dalam beberapa hari terakhir. Krisis itu berawal dari penolakan Yanukovych menandatangani perjanjian kerjasama dengan Uni Eropa.

Reaksi internasional

Para pemimpin Eropa menyerukan pada pihak-pihak yang bertikai di Ukraina agar menahan diri dan menghindari eskalasi situasi.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier yang saat ini berada di konferensi Suriah di Swiss menerangkan, "kekerasan bukan solusi". Ia selanjutnya mengatakan: "Kami telah menegaskan kepada Presiden Yanukovych bahwa respon keras pemerintah hanya akan memperburuk situasi dan membuat lebih banyak orang menderita".

Pejabat Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengecam penggunaan kekerasan. "Kematian beberapa demonstran benar-benar sangat memprihatinkan. Simpati saya ditujukan pada semua korban."

Ketua Komisi Eropa Jose Manuel Barroso menerangkan, kekerasan di Ukraina bisa memaksa Uni Eropa "mengambil tindakan", tanpa merinci tindakan apa yang akan dilakukan.

hp/ab (rtr, afp, dpa)

Laporan Pilihan