1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Korban Tewas Dalam Demonstrasi Ukraina

Aparat keamanan di Ukraina mulai membongkar barikade yang dibuat para demonstran. Dalam bentrokan baru di Kiev, sedikitnya dua orang demonsran diberitakan tewas.

Sekalipun cuaca dingin dengan suhu udara minus 10 derajat Celcius, para demonstran tetap bertahan di lapangan dan jalan-jalan di ibukota Ukraina. Sekitar pukul 7 pagi hari Rabu (22/01) polisi mulai mendesak para pemrotes dan membongkar barikade-barikade jalan.

Saksi mata memberitakan, para demonstran membalas dengan lemparan batu dan bom molotov. Pasukan anti huru-hara membalas dengan tembakan gas air mata dan peluru karet. Namun ada juga aparat keamanan yang kelihatannya mulai menggunakan peluru tajam.

Media melaporkan, satu orang demonstran tewas setelah menjadi sasaran penembak jitu dari kepolisian. Seorang demonstran lain meninggal setelah jatuh dari atap bangunan setinggi 13 meter ketika melarikan diri dari kejaran polisi.

Penangkapan dan Peringatan

Polisi diberitakan menangkap puluhan orang. Sebagian demonstran menerangkan, mereka menerima ancaman melalui SMS yang dikirimkan ke telepon genggam mereka. "Anda dicatat sebagai peserta dalam kerusuhan massal", demikian tertulis dalam SMS itu. Situasi di Kiev meruncing sejak bentrokan antara polisi dan demonstran akhir minggu lalu.

Perdana Menteri Ukraina Mykola Azarov sebelumnya memperingatkan di televisi, aparat keamanan akan bertindak tegas. "Kalau para provokator tidak berhenti, aparat keamanan tidak punya pilihan lain, selain menggunakan kekerasan dalam kerangka undang-undang untuk menjamin keamanan", tandas Azarov.

Namun ia membantah spekulasi bahwa pemerintah akan memberlakukan situasi darurat. Situasi di Kiev "masih jauh" dari kondisi yang menuntut penerapan situasi darurat, kata Azarov. Ia menuduh para pemimpin oposisi, termasuk juara tinju dunia Vitali Klitschko, bertanggung jawab atas eskalasi saat ini.

Demonstran Tetap Bertahan

Para penentang Presiden Viktor Yanukovych menuntut agar dilaksanakan pemilihan umum baru dan pembatalan undang-undang represif. Mulai hari Selasa (21/01) undang-undang baru diberlakukan. Aksi blokade gedung pemerintahan bisa diancam dengan hukuman lima tahun penjara. Para pemrotes dilarang mengenakan helm atau menutupi wajahnya.

Uni Eropa menyerukan kepada semua pihak agar menahan diri. Aparat keamanan Ukraina diminta menghormati hak warga yang ingin berdemonstrasi dan mengeluarkan pendapatnya dengan damai.

Aksi protes mulai meluas sejak November lalu, ketika Yanukovych menolak perjanjian kerjasama dengan Uni Eropa. Pemerintah Ukraina ketika itu mendapat tekanan dari Rusia agar tidak menandatangani perjanjian dengan Uni Eropa. Sebagai imbalan, Rusia menawarkan bantuan miliaran untuk Ukraina.

hp/ab (rtr, dpa, afp)

Laporan Pilihan