1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

300511 Syrien Opposition

1 Juni 2011

Oposisi Suriah yang hidup di pengasingan menghadiri konferensi yang digelar di Ankara, Turki, dari Selasa (31/05) hingga Kamis (02/06). Tujuan konferensi adalah menghimpun dan mengkordinasi kelompok oposisi.

https://p.dw.com/p/11RNU
Presiden Suriah Bashar al-Assad (kanan) bersama saudara kandungnya. Sampai kapan Presiden Assad dapat bertahan?Foto: AP

Senjata oposisi berbentuk cuplikan video aksi protes menentang rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad yang direkam dengan telefon genggam dan disebarluaskan di internet. Seperti di negara lain yang mengalami revolusi musim semi, di Suriah generasi Facebook juga memainkan peranan penting. Namun masalah mereka jauh lebih besar. Pemerintah Suriah memutuskan saluran listrik dan jaringan lainnya.

Jika dibandingkan dengan Mesir, di mana jutaan warga turun ke jalan di ibukota Kairo untuk berunjuk rasa, kualitas aksi protes di Suriah sangat berbeda. Hanya sekitar sepuluh ribu anggota oposisi yang ikut berdemonstrasi. Penentang pemerintah Suriah kebanyakan berasal dari daerah. Mereka tidak terorganisasi dengan baik dan karena tidak didukung oleh kalangan elite, pemimpin oposisi kurang dikenal di luar negeri.

Pakar Suriah Joshua Landis menuturkan, "Para aktivis berusia antara 20 sampai 30 tahun. Sebetulnya ada baiknya mereka tidak dikenal, sehingga sulit untuk mengidentifikasi mereka. Tetapi kekurangannya, Barat tidak tahu dengan siapa nantinya mereka harus berunding jika rezim Suriah berhasil digulingkan. Rakyat Suriah juga tidak tahu, siapa yang memimpin pemerintah Suriah kelak."

Ketidakpastian siapa yang akan bisa menggantikan Assad, membuat kebanyakan warga Suriah ragu untuk ikut dalam aksi unjuk rasa menentang ketidakbebasan dan pengawasan ketat pemerintah Suriah. Masyarakat minoritas dan kelas menengah, khususnya di kota besar seperti Aleppo dan Damaskus takut perang saudara akan pecah. Militer dan dinas rahasia Suriah mengepung pusat-pusat demonstrasi. Wartawan asing secara konsekuen tidak dibolehkan masuk ke kawasan itu. Agar informasi terkait struktur dan kekuatan kelompok oposisi tidak jatuh ke tangan jurnalis.

Pakar politik George Jabbour dari Damaskus skeptis terhadap kekuatan oposisi, "Beberapa memperjuangkan ditegakkannya hak asasi manusia dan demokrasi. Sementara yang lainnya punya tujuan lain. Di luar itu, ada kalangan politisi yang kecewa terhadap rezim, namun mereka tidak digubris oleh pemerintah."

Misalnya Abdulhalim Chaddam. Beberapa tahun lalu ia adalah wakil Assad dan pendukung sistemnya. Karena berselisih dengan Assad, Chaddam meninggalkan Suriah dan sejak itu hidup di luar negeri. Kini ia menuntut dari Barat melakukan intervensi, sama seperti di Libya. "Kami membutuhkan intervensi luar negeri. Rezim yang membunuh warganya sendiri, tidak berhak eksis. Merekalah musuh rakyat," dikatakan Chaddam.

Dulu, orang-orang seperti Chaddam juga ada di Irak. Tapi mereka tidak membuat situasi jadi lebih baik. Ratusan ribu warga Suriah yang hidup di pengasingan dan oposisi tidak ingin situasi di Irak terulang di Suriah. Namun dari Barat mereka juga tidak dapat megharapkan apa-apa. Sanksi yang diberlakukan Barat, tidak dianggap oleh pemerintah Suriah. Sikap pasif Barat membuat rezim Suriah tetap dapat bertahan.

Ulrich Leidholdt/Andriani Nangoy

Editor: Hendra Pasuhuk