1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Mengukur Jejak Karbon Pemakan Daging

Daging sapi, ayam atau produk susu - mana yang lebih parah bagi lingkungan? Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi daging sapi membantu mengurangi jejak karbon.

Hewan ternak menyumbang sekitar 20 persen emisi gas rumah kaca global. Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences telah menemukan bahwa cara paling efektif untuk mengurangi dampak lingkungan dari konsumsi pangan manusia adalah dengan menekan konsumsi daging sapi. DW berbincang dengan salah satu penulis laporan tersebut, Ron Milo.

DW: Apa hasil yang paling mengejutkan dari studi Anda?

Ron Milo: Yang paling mencengangkan adalah mendapati bahwa produk susu punya dampak lingkungan yang sebanding dengan daging babi atau unggas. Kami menemukan bahwa susu memiliki dampak lingkungan per kalori atau per protein serupa dengan segala jenis daging, kecuali daging sapi yang jauh lebih parah.

Apa yang membuat daging sapi jauh lebih parah?

Ini berhubungan dengan fisiologi dan biologi sapi. Proses peningkatan berat badan dan pembentukan daging jauh lebih lambat dari ayam atau babi. Ini berdampak besar bagi efisiensi secara keseluruhan.

Jadi separah apa dampak memakan daging sapi pada lingkungan ketimbang konsumsi daging ayam atau babi?

Ada sekitar 20-30 kali lebih banyak penggunaan lahan untuk menanam biji-bijian atau rumput bagi pakan sapi. Daging sapi membutuhkan sepuluh kali lebih banyak pengairan dan memproduksi lima kali lebih banyak emisi gas rumah kaca dan pupuk. Sedangkan yang lain - daging unggas, produk susu, daging babi dan telur - kurang lebih sebanding.

Bagaimana dengan perbandingan antara makan sayur-mayur dan konsumsi daging? Apa dampak iklim dari menanam kentang atau jagung?

Diperlukan sekitar 200 meter persegi selama lebih dari setahun untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi. Sementara untuk tanaman pokok, lahan yang diperlukan satu hingga tiga meter persegi. Perkalian yang dibicarakan di sini sekitar 100 kali lipat.

Bagaimana dengan memperoleh daging dengan cara berkelanjutan seperti menggunakan padang rumput untuk sapi ternak pemakan rumput? Apakah metode seperti ini benar membantu mengurangi karbon dari lingkungan?

Ada banyak ragamnya. Yang kami temukan adalah umumnya ada korelasi yang kuat menyangkut cara pemeliharaan ternak. Misalnya teknik-teknik yang lebih efisien dalam hal gas rumah kaca memerlukan lebih banyak padang rumput, sehingga mempengaruhi keragaman hayati. Jadi tampaknya pada setiap kasus berbeda ada 'biaya' tinggi yang terkait.

Seraya populasi global terus tumbuh, dapatkah kita terus makan daging dalam 10 atau bahkan 50 tahun ke depan?

Kalau tren yang ada sekarang terus berlanjut, jumlah daging sapi dan jenis daging lainnya akan bertambah, dan ini akan sangat menantang bagi bumi untuk menyuplai pakan semua hewan ternak ini. Itulah mengapa studi ini penting, karena memungkinkan kita untuk mengetahui mana yang lebih efisien. Memungkinkan manusia untuk mengambil keputusan yang lebih baik sebagai individu, terkait konsumsi makanan, dan juga sebagai pembuat kebijakan.

Ron Milo turut menulis studi 'Land, irrigation water, greenhouse gas and reactive nitrogen burdens of meat, eggs and dairy production in the United States' yang digelar bersama Profesor Gidon Eshel dari Bard College, Amerika Serikat.

Laporan Pilihan