1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Malaysia Terancam Perpecahan

Kelompok konservatif Malaysia sedang mempertontonkan otot mereka dalam apa yang disebut para analis sebagai pertaruhan besar yang bisa membahayakan hubungan antar etnis serta reformasi di negeri itu.

Hasil pemilihan umum Mei tahun lalu mengagetkan bagi United Malays National Organisation (UMNO), partai yang sangat kuat dan berkuasa sejak Malaysia merdeka. Sejak itulah pemerintah bergerak ke kanan, menunda reformasi yang sebelumnya diluncurkan Perdana Menteri Najib Razak.

Pada saat bersamaan ketegangan agama dalam masyarakat multikultur Malaysia yang berpenduduk mayoritas Muslim semakin meningkat, khususnya perselisihan diantara kelompok Muslim dan Kristen terkait penggunakan kata “Allah“.

Senin (27/01/14), dua bom molotov dilemparkan ke sebuah gereja Katolik, meningkatkan kekhawatiran bakal terjadinya perselisihan lebih lanjut.

Mengkhawatirkan

“Sudah mulai menjadi sangat memecah belah bangsa,“ kata Wan Saiful Wan Jan, kepala tangki pemikiran IDEAS, menyebut tentang tekanan dari kelompok konservatif.

“Itu menampilkan prospek suram, khususnya bagi multi kulturalisme dan multi rasialisme.“

Pemimpin oposisi Anwar Ibrahim, pekan lalu mengatakan bahwa perselisihan soal kata “Allah“ serta berbagai konflik lainnya mencapai titik terburuk sejak kerusuhan rasial 1969, dan mengancam “tatanan kesatuan kita“.

Para analis politik menyalahkan apa yang mereka sebut sebagai sikap putus asa di dalam UMNO – salah satu partai yang paling lama berkuasa di dunia – atas kemunduran hasil pemilu lalu.

Pemerintahan koalisi UMNO sejak lama menampilkan diri sebagai sebuah front harmoni multi kultural, yang digambarkan di luar negeri lewat kampanye pariwisata “Malaysia: Truly Asia“ yang menggambarkan negara itu sebagai negeri yang rileks dan menjadi titik temu Asia.

Namun bagaimanapun, pemerintahan UMNO yang otoriter memberikan keistimewaan dan dukungan politik bagi kelompok mayoritas Melayu Muslim, dan selama ini sering dituduh secara rutin menginjak hak asasi dengan membungkam para pengkritiknya.

Tapi para pemilih, khususnya kelompok minoritas Cina yang sangat kuat secara ekonomi, mulai semakin membangkang.

Pemilu Mei lalu membuat UMNO masih berkuasa dan kelompok konservatif marah atas reformasi Najib.

Janji yang diabaikan

Kelompok sayap kanan kelihatannya kini berniat mencampakkan multi kulturalisme untuk hanya fokus pada para pemilih Melayu Muslilm, demikian diyakini para ahli, sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang hantu polarisasi lebih lanjut.

“Hal ini penting karena berarti visi (Najib) tentang kesatuan, kekompakan dan masyarakat plural yang inklusif dan banyak disebut dalam pemilu 2013 ingin dibuang ke belakang kompor,“ kata pengamat dari S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura dalam sebuah analisisnya pekan lalu.

Untuk mendapat dukungan luas, Najib yang berkuasa pada 2009 menjanjikan untuk melunakkan chauvinisme Melayu dan melindungi hak-hak demokrasi.

Tapi setelah pemilu ia mengabaikan janjinya – karena ditentang oleh para konservatif – untuk mereformasi kebijakan kontroversial yang memberikan keistimewaan dalam bidang ekonomi kepada ras Melayu.

Kebijakan yang mengutamakan Melayu dan kelompok masyarakat asli lainnya, yang dikenal sebagai Bumiputra, dianggap telah membelenggu ekonomi dan mendorong hijrahnya para sarjana ahli ke luar negeri.

Human Rights Watch mengecam pemerintah Malaysia bulan ini atas aturan baru yang dianggap menindas, membuat pemerintah bisa menangkap para pengkritik, dan mengekang kelompok masyarakat sipil.

“Pemilu 2013 yang disusul penurunan besar dalam pelaksanaan hak asasi manusia, tiba-tiba menjadi ujung yang jelas bagi apa yang disebut sebagai agenda reformasi PM Najib,“ kata lembaga itu.

Menguatnya kelompok kanan di UMNO

Sementara, kelompok Muslim berpengaruh yang beraliansi di UMNO yang selama ini dibelenggu oleh partai itu, belakangan menjadi lebih vokal, mengganggu kelompok non-Muslim dengan seruan mereka tentang Malaysia yang lebih “Islami“.

Najib yang mengaku sebagai seorang moderat, menuai kritik karena tidak bersikap tegas untuk menenangkan situasi, khususnya terkait konflik kata ”Allah”.

Kelompok Muslim konservatif menuntut kelompok Kristen agar tidak menggunakan kata "Allah" untuk merujuk Tuhan. Sebuah langkah yang diikuti penyitaan kitab-kitab injil oleh otoritas Islam setempat dan menciptakan sejumlah insiden yang menaikkan ketegangan diantara pemeluk agama.

“Najib kelihatannya tak bisa melakukan apapun. Kelihatannya seperti Ibrahim Ali yang menjalankan negara ini,” kata Wan Saiful merujuk pimpinan kelompok yang mengkampanyekan supremasi Melayu yang sebelumnya mengancam akan mambakar injil.

ab/vlz (afp,ap,rtr)

Laporan Pilihan