1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Krisis Pengungsi: Eropa Hadapi Momentum Menentukan

Respon Uni Eropa terhadap krisis pengungsi sejauh ini tetap kacau balau, diselingi episode solidaritas dan friksi anggota. Langkah Eropa di hari-hari mendatang akan menentukan masa depannya. Perspektif Grahame Lucas.

Sejarah Uni Eropa dalam 50 tahun terakhir menunjukan: aliansi ini tidak pernah bereaksi bagus menghadapi krisis. Pembuatan kebijakan politik bersama lamban dan tidak praktis. Keputusan sulit selalu ditunda-tunda. Uni Eropa perlu reformasi. Mayoritas warga Eropa mengetahui, bahwa Uni Eropa hanya akan mengambil langkah reformasi penting, jika hal itu sudah mendesak tidak bisa dihindari lagi.

Sekarang, krisis berikutnya yang lebih gawat sudah melanda. Yakni krisis pengungsi terbesar di Eropa setelah berakhirnya perang dunia kedua. Tekanan yang memaksa para pengungsi berbondong datang ke Eropa amat berat dan seringkali mematikan. Kita juga harus menyadari, banyak pengungsi dari Suriah atau Irak dan negara-negara lainnya, tiba di Eropa lewat tangan bandit pedagang manusia yang brutal dan tak kenal perikemanusiaan. Akibatnya adalah penderitaan dan kematian ribuan pengungsi.

Jerman, menunjukan kedermawanan yang tidak ada bandingannya di negara Eropa lain. Inilah yang diperkirakan akan menarik kedatangan hingga 800.000 atau malahan satu juta pengungsi ke Eropa tahun ini. Di sisi lainnya ada negara Eropa yang tidak bersedia memberi bantuan darurat, dan hanya bersedia mengalihkan pengungsi ke negara lain, contoh paling nyata adalah Inggris dan Hongaria. Pemerintah Inggris kini menyatakan akan mengubah poltiknya. Tapi keputusan itu datang sangat terlambat.

Sementara Yunani dan Italia, yang jadi gerbang paling depan untuk masuknya pengungsi, kewalahan dan tak mampu lagi menangani pengungsi yang jumlahnya ratusan ribu.

Masalah makin rumit, dengan arus migran dari kawasan Balkan, yang "membonceng" gelombang pengungsi yang sebenarnya, demi mengecap rente ekonomi di negara makmur Eropa lainnya. Kini makin terlihat, bahwa Eropa harus memiliki politik suaka, yang mampu memenuhi kewajiban humaniternya tanpa harus membebani segelintir negara.

Lucas Grahame Kommentarbild App

Grahame Lucas kepala redaksi South-East Asia DW

Para pimpinan Uni Eropa kini harus bertindak dipayungi dengan semangat solidaritas dan saling percaya, untuk mendefinisikan imigrasi macam apa yang mereka perlukan dan bagaimana membagi beban pengungsi secara adil. Langkah ini tidak boleh gagal, jika Uni Eropa ingin tetap eksis di bawah semangat solidaritas.

Kepala badan pengungsi PBB Antonio Guterres dengan tepat menggambarkan situasinya, bahwa ini adalah momentum yang menentukan bagi masa depan Uni Eropa.

Laporan Pilihan