1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Krisis Pengungsi: Dipertanyakan Kontribusi Negara Arab Kaya

Krisis pengungsi kini hanya jadi tanggung jawab negara tetangga Suriah yang miskin dan Eropa. Negara kaya di kawasan Teluk menolak pengungsi dengan alasan takut resiko teror.

Kontribusi negara Arab yang kaya raya dalam menanggulangi krisis pengungsi Suriah kini jadi sorotan tajam harian-harian internasional.

Negara-negara kerjasama Teluk yang tergolong paling makmur sedunia, yang menetapkan kuota nol pengungsi dari Suriah.

Harian Amerika Serikat The New York Times menulis: Berbagi beban pengungsi bagi warga di Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat atau Qatar tidak merupakan kewajiban. Biarlah negara lain yang melakukannya, dan kami berada di barisan terakhir jika terpaksa akan membantu. Demikian harian yang terbit di New York itu mengutip pernyataan petinggi Human Rights Watch. Turki yang pendapatan per kapitanya hanya 20.000 US Dollar per tahun atau Yordania yang per kapitanya lebih rendah lagi hanya 11.000 US Dollar per tahun bisa menampung ratusan ribu pengungsi. Sementara negara-negara Teluk yang pendapatan per kapitanya di atas 50.000 US Dollar per tahun menolak pengungsi dengan alasan takut penyusupan para teroris.

Harian Amerika Serikat lainnya Washington Post juga mempertanyakan politik enam negara Teluk yang kaya raya itu terkait pengungsi Suriah. Padahal negara-negara ini juga bukannya tidak bersalah dalam munculnya krisis. Sudah jadi rahasia umum, bahwa dalam bentuk, elemen dan derajat berbeda-beda, negara-negara Teluk memainkan peranan yang mencolok dalam pecahnya krisis. Mereka membiayai dan mempersenjatai faksi pemberontak maupun kelompok radikal yang melawan rezim presiden Bashar al Assad. Sekarang saatnya negara-negara Teluk menyadari realita dengan mengubah politiknya untuk menerima pengungsi dari krisis Suriah.

Harian konservatif Inggris The Times juga mengomentari krisis pengungsi dengan memandang pada konstelasi poltik di bawah rezim Bashar al Assad. Harian yang terbit di London ini menulis, selama presiden Assad tidak lengser dan percaya bisa menang dengan pertumpahan darah, maka tidak ada solusi krisis pengungsi. Tapi kini masalahnya adalah kewajiban membantu orang yang menderita keadaan darurat. Ini terlihat dengan jelas di Jerman. Tapi juga harus diakui, mengintegrasikan pengungsi dalam kehidupan bermasyarakat akan sangat sulit.

Harian Perancis Liberation yang terbit di Paris berkomentar: presiden Hollande hanya membahas peluang orientasi aksi militer baru di Suriah dan Irak, tanpa menegaskan poltik penerimaan pengungsi. Kini kelihatannya Eropa akan segera bertindak secara bersama. Tapi Perancis tidak akan mampu jadi motor reformasi.

as/vlz (dpa,afp,nyt, twitter)

Laporan Pilihan