1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Negara Teluk Dikritik Tolak Pengungsi Suriah

Politik negara Teluk yang kayaraya tolak kedatangan pengungsi Suriah kini dikritik dan dipertanyakan dunia. Alasan enam negara kerjasama Teluk tolak pengungsi adalah cegah risiko penyusupan teroris.

Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar dan Uni Emirat Arab secara resmi menolak menerima kedatangan pengungsi. Diakui enam negara Teluk itu menyumbang sekitar 900 juta US Dollar untuk membantu pengungsi. Tapi jumlah donasi Arab Saudi, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab digabungkan kalah jika dibanding jumlah sumbangan Inggris, yang sudah mencapai 1,3 milyar US Dollar. Inggris juga membatasi penerimaan jumlah pengungsi.

Belum lama ini Arab Saudi mendirikan pagar kawat berduri di sepanjang perbatasannya ke Irak yang juga dijaga pasukan bersenjata, dengan alasan mencegah penyusupan "jihadis" ISIS ke wilayahnya. Namun para pengamat menilai, pagar ini juga upaya mencegah masuknya pengungsi Suriah lewat Irak ke negara kayaraya itu.

Antara 10 hingga 12 juta warga Suriah melarikan diri ke luar negeri, akibat perang saudara berdarah yang berkecamuk di negaranya. Sekitar 4 juta diantarnya mengungsi ke negara tetangga Turki, Libanon dan Yordania. Ratusan tibu berusaha masuk ke Eropa. Sisanya menjadi pengungsi di negara sendiri.

Inilah negara-negara Muslim penampung terbanyak pengungsi Suriah:

'

Sikap negara-negara Teluk yang kayaraya itu, juga dikecam dalam berbagai media maupun dalam karikatur. Di saat negara-negara Eropa dengan tangan terbuka menampung lebih 350.000 pemohon suaka, negara Teluk menolak kedatangan pengungsi dengan alasan takut disusupi kelompok teroris.

Juga stasiun televisi Al Jazeera yang bermarkas di Qatar mempertanyakan politik pengungsi negara Teluk itu, serta solusi untuk tetap menuntut Presiden Suriah, Assad lengser.

Sejauh ini negara-negara kaya di kawasan Teluk, tidak mengeluarkan satupun pernyataan resmi menyangkut krisis pengungsi di Timur Tengah itu, demikian kritik tajam harian Qatar Gulf Times. Seorang blogger asal Kuwait, Sultan al Qasemi juga menulis kritik, "Kini sudah tiba saatnya negara-negara Teluk mengambil tanggung jawab, moral dan etika untuk menjawab krisis serta mengubah politiknya.

as/yf (afp,rtr,dpa, twitter,breitbart.com)

Laporan Pilihan