1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Jelajah Jerman

Kilas Balik ke Menit Awal

Ketika redaksi Bahasa Indonesia Deutsche Welle mencapai usia 50 tahun, bangga adalah perasaan yang juga timbul di hati semua orang yang pernah aktif bekerja di redaksi. Demikian kata Mohammad Arsad.

SELAMAT dan salut kepada kawan-kawan yang setiap hari menggeluti kegiatan di Seksi Indonesia Deutsche Welle.

Seksi siaran bahasa Indonesia DW kini telah genap berusia 50 tahun – suatu kurun waktu yang benar-benar dapat dibanggakan. Bangga adalah perasaan yang juga sangat melekat pada diri saya sebagai salah satu anggota redaksi yang sejak hari-hari pertama ikut berkecimpung di dalamnya.

Tanpa terasa telah berlalu setengah abad sejak Radio Deutsche Welle memulai siaran dalam Bahasa Indonesia - bahasa asing pertama yang disiarkan ke benua Asia di samping bahasa Inggris.

Deutsche Welle Indonesische Redaktion

Mohammad Arsad dan Srie Sedhono

Suatu langkah luar biasa buat pemancar radio yang baru satu dasawarsa sebelumnya memulai kegiatan siaran luar negeri dengan tujuan menyebarkan informasi ke seluruh penjuru dunia. Informasi mengenai kehidupan politik, budaya dan ekonomi di Republik Federal Jerman.

"Bagaimana awal Anda ketika berkenalan dengan seksi siaran bahasa Indonesia DW?" Inilah pertanyaan yang berulang kali dikemukakan kepada saya setelah saya berpisah dari redaksi. Kita semua tahu, setiap awal kegiatan pasti dimuai dengan kesulitan. Dan melaksanakan tugas siaran adalah suatu tantangan besar bagi para karyawan yang direkrut ketika itu – termasuk diri saya - mengingat mereka tidak memiliki pengalaman di bidang siaran radio.

Modal yang dimiliki hanyalah fasih berbahasa Indonesia dan bahasa Jerman disamping suara yang baik untuk mikrofon.

Tentu saja modal seperti itu sangat minimal, sebab hanya berupa "bahan baku" yang masih memerlukan proses pengolahan dalam banyak tahapan. Ibarat kita mau membuat kursi dan modalnya hanya beberapa papan kayu yang masih harus dipotong-potong sesuai desain, masih harus dipoles sampai halus, diplitur, dirakit dan seterusnya.

Deutsche Welle Indonesische Redaktion

Redaksi Indonesia di tahun 80-an. Dari kiri: Asril Ridwan, Sulastri Wiriadipoera, M. H. Pattinasarany, Anneliese Engelskamp, A. Yasmine S. D., Emiel Indrakesuma, Raden Sedhono, Mariana Kwa, John Kosakoy, Rüdiger Siebert, Mohammad Arsad.

Demikian pula para anggota redaksi yang direkrut harus belajar di segala bidang: belajar berbicara yang jelas di studio, belajar merumuskan kalimat yang mudah difahami sebab – demikian senantiasa ditekankan oleh para redaktur senior – berbeda dengan kalimat tertulis, pendengar tidak mempunyai kemungkinan mengulang bila tidak mengerti, belajar mebuat laporan, wawancara ataupun menyusun acara siaran yang harus disajikan secara teratur dan kontinu.

Lalu, bagaimana tanggapan dan reaksi kelompok sasaran di Indonesia? Ternyata apa yang kami sajikan mendapat sambutan demikian besar sehingga seksi siaran bahasa Indonesia beberapa tahun lamanya memperoleh paling banyak surat pendengar dibandingkan dengan seksi siaran bahasa asing lainnya di DW. Ini adalah bukti bahwa informasi yang disebarkan DW sangat sukses.

Siaran radio lewat gelombang pendek tidak banyak disukai oleh penduduk negara-negara maju karena mutu penerimaannya kurang sempurna, mengalami banyak gangguan atmosfer, disamping saingan berat dari TV. Pemancar radio untuk siaran dalam negeri karenanya lebih mengandalkan frekuensi modulasi FM yang bebas gangguan. Namun jaman berubah terus. Metode terbaru: menyalurkan informasi melalui internet.

Deutsche Welle Indonesische Redaktion

Mohammad Arsad

Itulah salah satu sebab mengapa Deutsche Welle harus menyesuaikan diri dengan perubahan jaman. Informasi yang dahulu disiarkan ke seluruh penjuru dunia melalui media radio gelombang pendek, yang merupakan sarana terhandal untuk mencapai segenap penjuru dunia kini sudah dipandang usang.

Informasi disebarkan melalui media internet atau "online" yang memungkinkan penerimaan atau penangkapan sangat bersih serta komunikasi langsung antara penyiar dan kelompok sasaran.

Dahulu tanggapan pendengar terhadap sebuah acara siaran memerlukan waktu paling cepat satu pekan. Sekarang tanggapan pendengar dapat langsung sampai di studio atau di meja redaksi.

Suatu perkembangan luar biasa sesudah setengah abad. Untuk itu sekali lagi saya ucapkan Selamat dan Salut.

Laporan Pilihan