1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Jumlah Pasien COVID-19 Yang Dirawat di Indonesia Menurun

Detik News
27 April 2020

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo mengatakan, jumlah pasien positif COVID-19 di Indoneisa mengalami penurunan. Ia mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap siklus wabah corona.

https://p.dw.com/p/3bSKQ
Virus Corona Indonesia - Jakarta
Foto: Reuters/Antara Foto/H. Mubarak

Pemerintah menyampaikan kabar gembira mengenai perkembangan kasus positif virus corona (COVID-19). Jumlah pasien positif COVID-19 yang dirawat disebut telah mengalami penurunan.

"Ada kabar gembira yaitu terjadinya penurunan pasien yang dirawat," kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo, dalam konferensi pers usai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo, Senin (27/04).

Doni menjelaskan penurunan itu terlihat dari jumlah tempat tidur di rumah sakit yang digunakan. Ada penurunan dari jumlah sebelumnya.

"Saat ini terdapat 7.032 orang yang mana dilihat dari jumlah tempat tidur yang yang terdapat di ruang isolasi sebanyak 10.179 bed artinya kabarnya adalah kabar gembira," tuturnya.

Dia pun berharap penurunan ini akan terus berlanjut. Karena itu, Doni meminta masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan selalu mengikuti protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

Didominasi laki-laki

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo mengatakan, angka kasus positif virus corona (COVID-19) di Indonesia didominasi oleh laki-laki.

"Adapun persentase perbandingan antara wanita dan pria yang menjadi korban COVID-19, laki-laki mencapai 59,47% sedangkan perempuan adalah 41,03%," kata Doni.

Doni mengatakan, karena itu, Presiden Jokowi mengingatkan masyarakat terus meningkatkan imunitas tubuh. Jadi, ke depan tidak rentan terhadap virus corona.

"Imunitas masyarakat tidak boleh turun," ujarnya.

Wabah alam yang berulang

Doni juga mengatakan wabah ini adalah wabah yang berulang setiap beberapa ratus tahun sekali. Wabah ini juga pernah melanda Spanyol.

"Wabah ini adalah peristiwa alam yang terjadi berulang kali beberapa ratus tahun yang lalu, baik di Spanyol maupun wabah kolera di beberapa negara," katanya.

Dia menyebut kemungkinan siklus wabah corona ini terjadi setiap 100 tahun sekali. Itu juga menjadi alasan pemerintah menetapkan corona sebagai bencana non-alam dalam skala nasional.

"Oleh karenanya sekali lagi, alam dalam proses melakukan sebuah kegiatan yang memang kalau dilihat dari siklusnya adalah 100 tahun. Oleh karenanya, bencana COVID ini secara nasional sudah diputuskan menjadi bencana non-alam berskala nasional. Sekali lagi, kami imbau dan mengajak komponen masyarakat perhatikan ketentuan dan protokol kesehatan," pungkasnya. (Ed: rap/yf)

 

Baca selengkapnya di: DetikNews

Pemerintah: Kabar Gembira, Jumlah Pasien Corona Yang Dirawat Alamai Penurunan

Data Pasien Corona di RI: Laki-laki Lebih Mendominasi Dibanding Perempuan

Pemerintah: Corona Itu Wabah Alam Yang Berulang, Siklusnya 100 Tahun