1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Lingkungan

Jepang Terancam Bencana Letusan Vulkanik

Salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia dengan lebih dari 100 gunung berapi aktif, para ahli mengatakan Jepang terancam erupsi vulkanik besar yang akan menimbulkan kekacauan.

Gumpalan tipis asap dan abu terus meresap keluar dari kawah besar di atas gunung berapi komposit Sakurajima, seperti halnya yang terjadi dalam hampir setengah abad terakhir. Sekali-kali, letusan kecil mengeluarkan aliran lava serta puing-puing yang diterbangkan oleh angin.

Ini belum apa-apa kalau dibandingkan dengan erupsi pada Januari 1914 yang mengguncang wilayah yang dulu merupakan sebuah pulau di lepas pantai bagian selatan Kyushu dan kota Kagoshima. Letusan menjadi erupsi yang paling kuat di Jepang pada abad ke-20, aliran lava menjembatani selat yang sempit di antara pulau dan daratan serta pedesaan sekitar dan kota Kagoshima diselimuti lapisan tebal abu.

Untungnya, indikasi gunung berapi bangun dari periode dormansi cepat ditangkap dan banyak warga setempat telah dievakuasi, namun rangkaian gempa bumi yang terjadi dalam hitungan jam dan hari menuju erupsi menewaskan sedikitnya 35 orang.

Malapetaka di seluruh Jepang

Kejadian itu sudah hampir 100 tahun lalu, tapi Yoichi Nakamura, seorang profesor vulkanologi di Universitas Utsunomiya, yakin bahwa letusan dalam skala serupa segera terjadi. Dan sebuah letusan dengan nilai 4 pada Volcanic Explosivity Index (VEI) dapat menjadi malapetaka di berbagai penjuru Jepang yang padat penduduk.

"Dalam beberapa tahun terakhir, kami tidak dilanda letusan besar, tapi saya lama meriset sejarah gunung berapi di Jepang dan buktinya menunjukkan bahwa ada kejadian VEI skala 4 atau 3 setiap dekade, dan itu belum terjadi untuk waktu yang lama," jelasnya.

"Erupsi terakhir yang benar-benar besar adalah Sakurajima dan itu pada tahun 1914," ia menekankan. "Kemungkinan sesuatu yang serius terjadi terus meningkat setiap tahun."

Yang dikhawatirkan adalah cadangan besar magma terus bertambah dalam kawah sejumlah gunung berapi di Jepang dan kejadian seismik besar akan memicu erupsi dan pelepasan semburan lava dan aliran materi piroklastik.

Profesor Nakamura adalah anggota panel yang dibentuk pemerintah Jepang untuk merancang protokol dan prosedur untuk pengukuran mitigasi apabila erupsi besar terjadi.

Hasil kerja panel menjadi semakin penting - dan berpotensi diperlukan cepat - akibat gempa bumi dengan magnitude 9 yang mengguncang bagian timur Jepang pada 11 Maret 2011, dan menyebabkan tsunami hebat yang menghantam ratusan kilometer pesisir wilayah Tohoku. Hampir 20.000 orang tewas atau masih tercatat hilang akibat bencana alam terparah sepanjang sejarah negeri sakura.

"Sangat sulit untuk menentukan dampak gempa bumi, tapi kita harus waspada bahwa setelah getaran hebat pada tahun 1707, gunung Fuji meletus," tegas profesor Nakamura.

Tokyo diselubungi abu vulkanik

Bencana tersebut sangat serius hingga mengubah profil gunung paling terkenal di Jepang itu dan abu panas menyelimuti kota-kota di kaki gunung. Sekitar 100 kilometer ke arah timur, yakni kota Edo - kini dikenal sebagai Tokyo - diselubungi abu.

Letusan gunung Fuji tahun 1707 menutupi kota Edo dengan abu

Letusan gunung Fuji tahun 1707 menutupi kota Edo dengan abu

Sejak itu, puncak setinggi 3.776 itu beristirahat dengan damai - walau gempa bumi dengan magnitude 6,2 tercatat sisi selatan gunung hanya 4 hari setelah gempa bumi 2011.

Sebuah studi oleh Institut Riset Nasional untuk Pencegahan Bencana dan Sains Bumi mengindikasikan bahwa tekanan pada ruang magma di bawah gunung Fuji bisa lebih tinggi 1,6 megapascal saat ini dibandingkan tahun 1707.

Implikasi studi tersebut sulit untuk dikuantifikasikan karena vulkanologi memang sains yang rumit, seperti disetujui para ahli. Namun profesor Nakamura khawatir.

"Sakurajima terletak jauh sekali dari pusat gempa bumi tahun lalu dan tidak ada kaitan langsung antara keduanya, tapi gunung Fuji dan rantai kepulauan Izu Oshima di sebelah selatan Tokyo, berkaitan," tukasnya. "Ini sangat serius karena keduanya sangat dekat dengan wilayah-wilayah yang paling padat penduduk di Jepang, termasuk Tokyo."

"Sudah 300 tahun sejak gunung Fuji terakhir meletus, tapi selama ini hanya dorman, bukan menghilang," ia kembali menekankan.

Apabila sebuah kejadian VEI skala 5 terjadi, Tokyo akan kembali diselimuti abu, gedung-gedung akan runtuh akibat beratnya, jalanan dan jalur kereta tidak dapat dilewati dan infrastruktur akan rusak berat akibat aliran lava. Butuh berminggu-minggu hingga semuanya dapat kembali normal, ia memperingatkan, dan kerugiannya tidak akan murah.

Sulit diprediksi

Profesor Shigeo Aramaki, seorang pakar gunung berapi yang sudah pensiun dari Universitas Tokyo, setuju bahwa cukup beralasan untuk khawatir, namun mengingatkan bahwa sulit untuk memprediksi secara akurat aktivitas gunung berapi.

"Setelah gempa bumi tahun lalu, ada peningkatan tiba-tiba menyangkut gempa vulkanik, meski dalam skala kecil," ungkapnya. "Ini berarti ada semacam pergerakan dalam sistem magma di dalam puncak gunung."

"Cukup banyak contoh kejadian semacam ini dari seluruh dunia dan cukup lumrah untuk mengharapkan erupsi vulkanik terjadi di Jepang," ia setuju. "Tapi itu tidak terjadi. Dan itu menarik."

"Sejujurnya, kita tidak tahu tingkat bahayanya," kata profesor Aramaki. "Kami benar-benar tidak cukup memahami gunung berapi saat ini untuk dapat membuat prediksi pasti tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi di masa depan."