1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Jelang Pemilu, PDI P di Atas Angin

Pemilu parlemen yang akan digelar hari Rabu (9/4), diperkirakan akan membuka jalan bagi Gubernur Jakarta Joko Widodo untuk menjadi presiden dalam pemilu presiden Juli mendatang.

Dikenal dengan julukan Jokowi, Joko Widodo telah menjadi fenomena dalam peta perpolitikan Indonesia. Untuk pertama kalinya calon pemimpin Indonesia bukan berasal dari latar belakang militer atau elit politik. Dalam beberapa bulan terakhir, nama Jokowi merajai berbagai jajak pendapat calon presiden.

Bermodal blusukan

Secara teratur Jokowi mengunjungi daerah kumuh Jakarta. Blusukan dengan kemeja khasnya yang bermotif kotak-kotak - telah membuat ia menjadi idola baru para pemilih yang sudah lelah dipimpin elit politik dari masa Orde Baru dan tokoh-tokoh mantan militer. Mereka sudah lama menjadi pemain politik utama di Indonesia.

Berbagai survei memprediksi Jokowi – yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) akan memenangkan suara dalam pemilu legislatif keempat negara itu, sejak akhir tiga dekade pemerintahan diktator Suharto pada tahun 1998.

Hukuman bagi Demokrat

Dalam survei juga terlihat, bagaimana pemilih diperkirakan menghukum Partai Demokrat yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menyusul serangkaian skandal korupsi yang menyangkut petinggi partai dan banyaknya kritik, bahwa pemerintahannya sudah tidak efektif dalam beberapa tahun terakhir.

Pemilu legislatif mengatur panggung untuk pemilihan presiden pada 9 Juli. Sebuah partai atau koalisi partai membutuhkan 20 persen dari kursi di majelis, 560 kursi parlemen atau 25 persen suara nasional untuk dapat mengusung kandidatnya sendiri sebagai calon presiden.

PDI-P diperkirakan kemungkinan akan dapat melewati ambang pintu tersebut, setelah partai itu memutuskan mencalonkan Widodo sebagai calon untuk kepala negara.

"Jokowi adalah dari generasi baru pemimpin di Indonesia. Saya berharap dia bisa membawa perubahan untuk Indonesia," ujar Andi Gani Nena Wea, kepala konfederasi serikat pekerja nasional KSPSI.

Simbolik, tidak substantif?

Tetapi banyak juga yang skeptis bahwa seseorang yang tidak pernah memiliki peran dalam politik nasional, bisa siap untuk memimpin Indonesia yang kompleks.

"Pada tingkat simbolis dia akan mewakili terobosan, tetapi pada tingkat substantif saya sangat meragukannya," kata Profesor Jeffrey Winters, seorang pakar Indonesia dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat.

Saingan utama Jokowi untuk pemilu presiden adalah Prabowo Subianto, yang merupakan mantan komandan pasukan khusus. Pemimpin Gerindra ini dituding terkait kasus pelanggaran hak asasi manusia. Sejauh ini, dalam survei, ia masih tertinggal di belakang nama Jokowi.

Siapapun yang menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono - yang akan mundur setelah 10 tahun berkuasa - akan mewarisi tantangan yang luar biasa, dimana perekonomian di Asia Tenggara melambat, intoleransi agama meningkat, dan korupsi masih merajalela.

Tantangan pemilu

Setiap mempersiapkan pemilu, tantangan yang cukup besar adalah pengadaan logistik. Dibutuhkan pihak yang dapat membantu untuk mengangkut kotak suara ke desa-desa yang terletak di puncak gunung, pulau terpencil, dan jauh ke dalam hutan.

186 juta pemilih berhak memberikan suaranya dalam pemilu kali ini. Pemilu diharapkan berjalan damai - meskipun ada kekhawatiran terjadinya aksi kekerasan di provinsi Aceh - menyusul meningkatnya serangan terkait masalah politik dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam pemilu kali ini, Golkar yang merupakan kendaraan politik mantan presiden Suharto, kemungkinan akan tetap menjadi partai terbesar kedua, dan Gerindra diperkirakan menempati posisi ketiga disusul Demokrat.

Penghitungan yang dilakukan oleh lembaga survei swasta atau 'quick count' akan dirilis beberapa jam setelah pemungutan suara ditutup pada pukul 13:00, dan biasanya hasilnya cukup akurat. Sementara hasil resmi pemilu diperkirakan pada awal Mei.

ap/cp (afp, rtr)

Laporan Pilihan