1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Jalan-Jalan Malam di Frankfurt

Frankfurt dihuni penduduk yang berasal dari sekitar 170 negara. Ricardo dari Brasil, Sheryl dari Singapura, Na dari Cina dan Chad dari Australia menyusuri kehidupan malam di Frankfurt. Kejutan budaya juga dialami.

Zu sehen ist die Lounge 22 in Frankfurt. Rechte: DW/Jens Kemle (Freier Mitarbeiter) Ort: Frankfurt (verschiedene Orte) Aufgenommen 31.1.-8.2.2013

Frankfurt malam hari

Frankfurt bukan hanya kota metropolitan perbankan internasional. Pada malam hari, kota di tepi Sungai Main itu menawarkan banyak tempat nongkrong. Siang hari orang-orang belanja di butik dan toko-toko. Malam hari warga Frankfurt pergi "Schoppen“ di tempat minum Apfelwein (apple wine), minuman khas kawasan Hessen.

Tempat bernilai historis untuk minum Apfelwein adalah "Apfelwein Wagner“ di kawasan Sachsenhausen. „Bir?! Di sini tempat minum Apfelwein, kami tidak punya bir,“ kata pelayan agak kesal. Ricardo dan Chad heran. Tempat minum di Jerman yang tidak punya minuman bir, tak terbayangkan! Tapi begitulah di Frankfurt dan kawasan lain di Hessen, yang minuman khasnya Apfelwein. Di meja, Apfelwein disajikan dalam gelas warna abu-abu gemuk, Bembel.

Eine Karaffe und ein Becher mit Apfelwein neben einem Korb mit Äpfeln stehen auf einem Tisch. Apfelwein © racamani #24063216 - Fotolia.com

Bembel tempat Apfelwein dan keranjang apel

"Waktu saya pertama kali minum Apfelwein, mengingatkan saya pada rasa saus salad,“ ujar Ricardo seorang koreografer asal Brasil. Pepatah Hessen mengatakan, orang harus minum tujuh gelas Apfelwein sebelum menyukainya. Tembok di Apfelwein Wagner ditutupi kayu papan, 200 tempat di restoran itu semuanya penuh. Campuran dari warga Frankfurt lama, fans FC Eintracht dan turis dari seluruh dunia.

Dari Lounge di Pencakar Langit sampai Bar Underground

Gäste im Apfelwein Wagner in Frankfurt Rechte: DW/Jens Kemle (Freier Mitarbeiter) Ort: Frankfurt (verschiedene Orte) Aufgenommen 31.1.-8.2.2013

Frankfurt bei Nacht

Dari restoran dan tempat minum asli Jerman beralih ke sisi seberang Sungai Main memasuki kawasan perbankan. Di lantai tertinggi kantor di gedung pencakar langit ada Lounge 22. Minumannya tidak spektakuler, tapi pemandangan ke luar jendela penuh gemerlap lampu kota. "Ini mengingatkan saya akan rumah,“ kata Sheryl Loh dari Singapura. „Tapi Frankfurt menawarkan lebih banyak ketenangan dan ruang yang lega,“ kata Loh yang di Singapura bekerja untuk pemerintah dan baru September datang ke Jerman dengan suaminya.

Frankfurt adalah kota yang kontras. Setelah perhentian sesaat di Lounge yang mewah, tujuan selanjutnya adalah tempat minum biasa. “Rote Bar” pintu masuknya terbuat dari kayu. Di dalam, atmosfer dan interior beragam gaya abad ke-20, antara antik dan underground. Musik yang terdengar soft music. Di sini juga tidak ada bir, hanya minuman koktail.

Rechte: DW/Jens Kemle (Freier Mitarbeiter) Ort: Frankfurt (verschiedene Orte) Zu sehen ist die Rote Bar in Frankfurt Aufgenommen 31.1.-8.2.2013

Suasana Rote Bar di Frankfurt

"Empat tahun lalu saya pertama kalinya mengunjungi bar ini,“ kata insinyur IT Na. Perempuan itu berasal dari Shanghai. „Jika saya di rumah pergi dengan teman-teman, kami seringnya pergi ke tempat karaoke,“ kata Na. „Tapi saya tidak dapat menyanyi, jadi untuk saya kunjungan ke tempat karaoke tidak menyenangkan. Di Jerman karaoke hampir tidak menyebar.“

Setelah Tengah Malam Pilihan Berkurang

Pada hari kerja, (Senin sampai Jumat-Red.) banyak tempat minum di Frankfurt sudah tutup pukul 00.30. Di "Yours Australian Bar“ masih ada sedikit tempat kosong. Chad dan Ricardo akhirnya mendapat minuman Hefeweizen (bir putih). Malam itu bagi Chad dan Ricardo amat istimewa. Kursus intensif Bahasa Jerman di Goethe Institut untuk meningkatkan kemampuan bahasa keduanya tinggal satu hari lagi. Sebelum Chad kembali ke negaranya ia ingin mampir di Berlin. “Di Australia tidak ada Hefeweizen,” kata mahasiswa ekonomi itu.

Laporan Pilihan