Istri Penerima Nobel Perdamaian Dikenakan Tahanan Rumah | dunia | DW | 11.10.2010
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Istri Penerima Nobel Perdamaian Dikenakan Tahanan Rumah

Penganugrahan Nobel Perdamaian 2010 bagi Liu Xiaobo masih menimbulkan gelombang lanjutan. Pemerintah Cina menerapkan tahan rumah kepada istri Liu Xiaobo, Liu Xia.

default

Liu Xia

Menurut keterangan organisasi-organisasi hak asasi manusia, Liu Xia hanya diperbolehkan keluar rumah dengan kawalan petugas polisi. Liu Xia, istri pemenang Nobel perdamaian Liu Xiaobo, seperti diputus dari dunia luar. Ia tak bisa menggunakan telepon genggam, dan tak bisa menerima kunjungan dari siapapun.

Lewat akun Twitternya, Liu Xia menulis, ia dikenai tahanan rumah di kediamannya di Beijing, Jumat 8 Oktober, pada hari ketika komite di Oslo mengumumkan nama suaminya sebagai pemenang Nobel Perdamaian. Sabtu, 9 Oktober, Liu Xia pergi ke penjara di timur laut Cina, tempat suaminya ditahan, untuk memberitahu tentang penghargaan Nobel tersebut. Pengacara suaminya mengkonfirmasi, Liu Xia dibawa ke penjara di bawah pengawasan polisi.

Penjagaan Ketat

Minggu, 10 Oktober, Liu Xia menulis di akun Twitternya bahwa ia telah kembali ke rumah, dan tidak tahu kapan bisa menemui orang lain. Telepon genggamnya juga tak berfungsi, sehingga ia tak bisa menerima atau melakukan panggilan. Semuanya, tolong sebarkan tweet saya, demikian terbaca dalam posting Liu Xia, Minggu malam (10/10).

China / Peking / Liu Xiaobo / Liu Xia

Petugas kepolisian Cina memblokir jalan masuk ke apartemen Liu Xia

Senin ini (11/10), sedikitnya dua lusin polisi, petugas berseragam sipil dan petugas keamanan lainnya dikerahkan di sekitar rumah tinggal Liu Xia. Mereka menginterogasi warga setempat dan mencegah wartawan masuk.

Sejauh ini penahanan rumah terhadap istri pemenang Nobel Perdamaian itu, tidak disertai tuduhan apapun. Selain kepada Liu Xia, pengamanan juga diperketat terhadap aktivis HAM lainnya. Teng Biao, pengacara yang dikenal kritis terhadap kebijakan Beijing, diciduk polisi pada akhir pekan dan diinterogasi berjam-jam. "Mereka memperingatkan saya untuk tidak mengadakan acara apapun untuk merayakan penganugerahan Nobel Perdamaian kepada Liu Xiaobo," kata Teng Biao.

Pemerintah Cina Dapat Bertindak Lebih Keras

Namun polisi tidak bisa mencegah semua bentuk perayaan. Penghargaan Nobel bagi Liu Xiaobo adalah menangnya keadilan terhadap penguasa, sorak sebuah kelompok pendukungnya di Beijing. Rekaman video pesta perayaan mereka beredar di internet. Namun, seperti bisa diduga, diblokir dan tak bisa diakses di Cina. "Penghargaan ini membuat saya jadi berani, saya kembali punya harapan," dikatakan seorang perempuan yang ikut dalam perayaan.

Penganugerahan Nobel Perdamaian kepada Liu Xiaobo, aktivis hak asasi Cina yang mendekam di penjara, membuat gerah pemerintah di Beijing. Namun pengacara Teng Biao kuatir, penganugerahan Nobel Perdamaian kepada Liu Xiaobo bisa mendorong pemerintah melancarkan tindakan lebih keras kepada para pengkritik di dalam negeri.

Teng Biao menuturkan, "Dalam beberapa hari terakhir ini banyak orang ditahan, dikirim pulang ke desa asalnya atau dikenai tahanan rumah. Ini isyarat bahwa pemerintah tidak meninggalkan sikap keras. Tapi untuk jangka panjang, Nobel Perdamaian akan memperkuat gerakan hak sipil di Cina dan mendorong rakyat untuk berani memperjuangkan hak-hak mereka. Tidak ada yang bisa menghentikannya."

Reaksi Media Cina

Kegembiraan akan hadiah Nobel Perdamaian bagi seorang warga Cina, sama sekali tak muncul di media pemerintah. Global Times, tabloid berbahasa Cina menulis, penghargaan Nobel Perdamaian bagi pembangkang Liu Xiaobo hanyalah ekspresi lain dari prasangka terhadap Cina, dan di baliknya tersirat ketakutan luar biasa akan kebangkitan ekonomi dan kekuatan politik Cina. Sementara China Daily, salah satu corong utama pemerintah yang berbahasa Inggris berkomentar, bahwa penghargaan itu merupakan bagian dari rencana untuk meredam Cina yang tengah bangkit. Dunia Barat lagi-lagi campur tangan dalam urusan domestik Cina. Pemberian Nobel sejkali lagi menunjukkan jurang ideologi anatara Cina dan Barat, tulis China Daily.

Liu Xiaobo adalah warga Cina pertama yang memenangkan Nobel Perdamaian. Penulis berusia 54 tahun itu ditahan sejak Desember 2009 lalu, setelah membuat Charter 08, sebuah manifesto yang ditandatangnai ribuan orang, menuntut hak-hak lebih luas di negara komunis tersebut. Pemilihan Liu, yang oleh Beijing disebut seorang kriminal, sebagai pemenang tahun 2010, membuat Beijing murka dan menudingnya sebagai pelanggaran atas nilai-nilai Nobel dan pencemaran bagi Nobel Perdamaian. Sementara itu, para pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Barack Obama, yang memenangkan Nobel Perdamaian tahun 2009, memuji Liu Xiabo dan menyerukan pada pemerintah Cina untuk segera membebaskannya.

Ruth Kirchner/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid

Laporan Pilihan