1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Inggris Ingin Menindak Keras Perusuh

Inggris dikejutkan dengan kerusuhan, pembakaran, penjarahan dalam beberapa hari belakangan ini. PM David Cameron menyebut para penjarah dan perusuh sebagai pelaku kriminal dan mengerahkan lebih banyak lagi polisi.

Polisi berjaga-jaga di Croydon, London.

Polisi berjaga-jaga di Croydon, London.

Aksi bersih-bersih dilakukan di beberapa kota di Inggris menyusul kerusuhan di Manchester, Birmingham dan sejumlah kawasan di ibukota London. Ratusan relawan turun ke jalan. Di antaranya banyak orang muda, anggota kepanduan dan anggota organisasi remaja Partai Buruh. Mereka datang ke pusat kota membawa sapu, sikat, dan sarung tangan karet, membersihkan bekas kerusuhan dan membantu pemilik toko korban penjarahan.

Seorang pria di Manchester mengatakan, "Penting bagi kami menunjukkan bahwa tidak semuanya jadi perusuh! Kami orang muda ingin menunjukkan bahwa pelaku kerusuhan hanyalah minoritas!"

Polisi membantu membersihkan bekas kerusuhan di Toxteth, sebuah wilayah di Liverpool, Inggris.

Polisi membantu membersihkan bekas kerusuhan di Toxteth, sebuah wilayah di Liverpool, Inggris.

Sementara itu seorang laki-laki lainnya mengatakan, "Orang-orang yang berada di jalanan kemarin malam tidak mewakili remaja Manchester! Remaja Manchester bangga akan kotanya. Kami ingin kembali membawa kota kami sebagai yang terkemuka. Kami ingin bangga akan kota kami!"

Keterkejutan masih tersisa, menyangkut apa yang terjadi di malam-malam sebelumnya di banyak kota di Inggris utara dan barat laut. Ratusan perusuh di Manchester, Birmingham, dan Liverpool menyerbu pusat kota, membakar mobil dan rumah, menghancurkan toko-toko dan menjarah isinya.

Perdana Menteri David Cameron menjelaskan pada Rabu sore waktu setempat (10/08), usai rapat khusus Dewan Keamanan Nasional:, "Kekerasan berkepanjangan ini tidak dapat diterima, dan tentu akan dihentikan. Kami tidak akan menerima hal itu di negara ini. Kami tidak akan membiarkan budaya ketakutan menguasai jalanan kami."

Cameron menambahkan, polisi akan lebih tegas dan keras menindak para perusuh. Perdana Menteri Inggris tidak menutup kemungkinan bahwa aparat keamanan juga akan menggunakan meriam air. Sebelumnya pemerintah Inggris menolak keras penggunaan meriam air dalam menghalau para perusuh.

David Cameron menyebut para perusuh sebagai sempalan masyarakat yang sakit. Jika remaja merusak toko dan menganggap tindakan itu lucu, dikatakan Cameron, maka jelas ada sesuatu yang tidak beres. Perdana Menteri Inggris itu juga menyebut kerusuhan tsb sebagai aksi yang tidak bertanggung jawab. Namun ia tidak menjawab ketika ditanya pers mengenai tanggung jawab politik terhadap kebijakan menindak keras perusuh.

Kebakaran akibat kerusuhan di Manchester, Inggris.

Kebakaran akibat kerusuhan di Manchester, Inggris.

Bagi Cameron jelas, perusuh adalah pelaku kriminal. Pernyataannya seperti dibenarkan para perusuh yang berbicara langsung kepada kamera stasiun penyiaran BBC, setelah sebelumnya menjarah banyak toko.

Ia mengatakan di depan kamera, "Mengapa saya harus melewatkan kesempatan mendapatkan barang secara cuma-cuma, banyak uang!"

Ia juga mengatakan senang dapat mempermainkan polisi yang sudah kewalahan. "Saya akan melakukannya tiap hari sampai tertangkap. Toh, ini kasus pertama saya, dari dulu tidak pernah tertangkap. Saya tidak khawatir. Selain itu penjara juga akan penuh. Paling saya hanya diberi peringatan. Tidak apa-apa," katanya sambil tertawa lebar.

Sejak pecahnya kerusuhan, hampir 1400 perusuh ditangkap. Puluhan dari mereka sudah diputus bersalah di pengadilan dan dihukum penjara. Polisi menyatakan akan menyeret para perusuh ke meja hijau. Anak-anak dan remaja yang terlibat juga akan menghadapi hukuman berat.

Sikap ini, menurut jajak pendapat, didukung sebagian besar warga Inggris. Banyak yang ingin agar para perusuh ditindak lebih keras. Hampir 80 persen mendukung jika militer turun tangan. Apalagi fakta menunjukkan bahwa kerusuhan itu menyebabkan jatuhnya korban tewas.

Stephan Lochner/Luky Setyarini

Editor: Agus Setiawan

Laporan Pilihan