1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Hanya Celaan bagi Korea Utara

Korea Utara menjadi fokus kritik internasional akibat ulahnya pada hari-hari terakhir ini. Bagaimana sikap China yang dinilai sebagai negara yang memainkan peran terbesar bagi Korut.

Tak putus-putusnya Korea Utara memasuki berita utama harian internasional pada hari-hari terakhir ini. Korut akan kembali mengaktifkan instalasi nuklirnya di Yongbyon yang telah dinonaktifkan selama enam tahun.  Korut melarang pekerja Korea Selatan memasuki kawasan industri bersama, artinya menutup satu-satunya jalan ke arah selatan. Selanjutnya diberitakan, militer Korut memberikan lampu hijau untuk melancarkan serangan nuklir terhadap Amerika Serikat. Demikian daftar provokasi dari negara Korea Utara pimpian Kim Jong Un sejak minggu lalu.

South Korean trucks arrive from North Korea's Kaesong Industrial Complex at a military check point of the inter-Korean transit office in Paju near the Demilitarized Zone (DMZ) dividing the two Koreas on April 1, 2013. South Korean workers and cargo on April 1, headed for the Kaesong Industrial Complex without a hitch despite North Korea's recent threat to close the joint industrial zone in the communist country. AFP PHOTO / JUNG YEON-JE (Photo credit should read JUNG YEON-JE/AFP/Getty Images)

Kawasan zona ekonomi Korut-Korsel, Kaesong

Seruan internasional tidak dipedulikan. Apakah itu dari Sekjen PBB, Ban Ki Moon, Menlu AS atau dari Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye. Kementrian Luar Negeri Jerman menyampaikan,  Jerman berdiri di belakang Korsel, sembari menyerukan China sebagai "tetangga dan sekutu terpenting Korut untuk memainkan peran yang bertanggung jawab dan mendamaikan."

China tunjukkan kesabaran besar
Namun China tidak melakukan tindakan berarti selain kata-kata peringatan saja. Sebelumnya bersama negara anggota Dewan Keamanan PBB, China menyepakati peningkatan sanksi terhadap Korea Utara menyusul peluncuran roket Korut Desember lalu dan ujicoba nuklir Februari ini. Jurubicara kementrian luar negeri Hong Lei mengatakan, situasi di semenanjung Korea saat ini "cukup peka" dan "sulit". Sementara rencana nuklir Pyongyang disebutnya sebagai "menyesalkan".

North Korean leader Kim Jong-un presides over a plenary meeting of the Central Committee of the Workers' Party of Korea in Pyongyang March 31, 2013 in this picture released by the North's official KCNA news agency on April 1, 2013. REUTERS/KCNA (NORTH KOREA - Tags: POLITICS MILITARY) ATTENTION EDITORS � THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. REUTERS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, CONTENT, LOCATION OR DATE OF THIS IMAGE. NO THIRD PARTY SALES. NOT FOR USE BY REUTERS THIRD PARTY DISTRIBUTORS. QUALITY FROM SOURCE. THIS PICTURE IS DISTRIBUTED EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS

Kim Jong-un

Sedangkan Profesor Jian Cai dari Korea-Institute Fudan University di Shanghai mengatakan, pernyataan Korut untuk mengaktifkan kembali instalasi nuklir Yongbyon adalah "pelanggaran terang-terangan kesepakatan pembicaraan enam pihak tahun 2007". China tampaknya terjebak dalam dilema. Beijing tidak ingin perang, karena ini berarti, pasukan China akan berada di sisi Korut melawan pasukan AS.

Pada umumnya kegusaran sangat besar, tambahnya. "Sebagai sekutu lama, China sangat kecewa atas sikap Korut", demikian disimpulkan Prof. Chai, "pemerintah berpendapat, Korut sama sekali tidak mempedulikan Beijing yang selalu mengupayakan stabilitas di wilayah itu."

Adalah penting menyadarkan Korut bahwa sikap semacam itu akan membawa konsekwensi. Karena itu, saat sanksi terakhir dikeluarkan, China lebih aktif ketimbang sebelumnya. Namun Prof. Cai tahu bahwa ke depan Beijing akan tetap mendukung Korut. "China tidak akan pernah melepaskan Korut begitu saja."


Tetap Cemas
Zhangjin Huang, wakil redaktur kepala, majalah mingguan "Phoenix Weekly" juga berpendapat sama. Perubahan mendasar tidak akan terjadi pada kebijakan China. "Bagi pemerintahan jelas bahwa Korut adalah 'anak yang bermasalah'.  Tetapi sebagai tetangga, sebuah negara sosialistis seperti Korea Utara, jauh kurang berbahaya untuk mata Beijing ketimbang sebuah negara liberal dan demokratis." Korut juga memainkan peran sebagai zona penyangga antara China dan militer AS di Korsel serta Jepang.

Navy vessels of South Korea and the U.S. participate in a joint military drill on the west sea, west of Seoul, in this picture taken March 17, 2013 and released by the South Korean Navy on March 18, 2013. REUTERS/South Korean Navy/Handout (SOUTH KOREA - Tags: MILITARY POLITICS) ATTENTION EDITORS � THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. SOUTH KOREA OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN SOUTH KOREA. THIS PICTURE IS DISTRIBUTED EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS

Pelatihan bersama AS dan Korsel

China tentu berharap, Pyongyang kini memikirkan kembali sikapnya. Jika tidak, ada dua skenario menakutkan. "Yang tidak diinginkan China adalah penyatuan Korut dan Korsel", kata Huang. "Tapi China lebih takut, jika rezim Kim Jong Un dihancurkan oleh AS dan Korsel." Kesimpulannya: China terutama menginginkan satu saja, yaitu ketenangan di sekelilingnya. Tapi tampaknya sekarang tidak demikian.

Laporan Pilihan