1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Gencatan Senjata di Gaza

Israel dan Hamas diharapkan bakal menahan diri selama tiga hari mulai hari Selasa (5/8), di bawah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Mesir, sambil melakukan negosiasi jangka panjang untuk mengakhiri perang.

Pasukan darat Israel ditarik dari wilayah Palestina bersamaan dengan dimulainya gencatan, setelah menyelesaikan misi utama mereka menghancurkan terowongan penyusup lintas batas, demikian pernyataan seorang juru bicara militer.

Juru bicara Letnan Kolonel Peter Lerner, mengatakan pasukan itu akan “ditempatkan kembali dalam posisi bertahan di luar Jalur Gaza dan akan tetap mempertahankan posisi bertahan“ – merefleksikan kesiapan Israel untuk kembali bertempur jika diserang. (Baca: Israel Kerahkan Ribuan Pasukan Cadangan ke Gaza)

Beberapa upaya sebelumnya oleh Mesir serta kekuatan wilayah lainnya, selalu gagal menenangkan pertempuran terburuk antara Israel dengan Palestina selama dua tahun terakhir.

Para pejabat di Gaza mengatakan perang itu telah menewaskan 1.834 warga Palestina dan sebagian besar dari mereka adalah penduduk sipil. Israel mengatakan 64 tentaranya dan tiga warga sipil terbunuh sejak pertempuran pecah 8 Juli.

Perdamaian yang rumit

Israel bakal mengirim beberapa delegasi untuk bergabung dalam negosiasi di Kairo untuk mempermanenkan kesepakatan jangka panjang selama jalannya gencatan senjata, demikian pernyataan para pejabat Israel.

Untuk saat ini, Menteri Urusan Strategis Yuval Steinitz mengatakan kepada Radio Angkatan Bersenjata Israel, ”Tidak ada kesepakatan. Sebagaimana telah kami katakan, tenang akan dijawab dengan tenang.“

Juru bicara Hamas Sami Abu Zuhri mengatakan kelompok Islamis itu juga telah menginformasikan kepada Mesir ”kesediaan mereka atas pemberlakukan masa tenang 72 jam,“ yang dimulai sejak Selasa.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memuji gencatan senjata dan menyerukan kepada kedua pihak untuk “menghormati sepenuhnya“. Juru bicara Jen Psaki menambahkan bahwa Washington akan terus melanjutkan usahanya untuk membantu kedua pihak meraih sebuah “solusi jangka panjang, berkelanjutan dan tahan lama“.

Upaya untuk memperkuat gencatan senjata menjadi langgeng akan terbukti sulit, dengan pendirian kedua pihak yang sangat jauh dari tuntutan kunci satu sama lain, dan masing-masing menolak legitimasi pihak lainnya. Hamas menolak keberadaan Israel dan bersumpah akan menghancurkannya, sementara Tel Aviv sendiri masih menempatkan Hamas sebagai sebuah organisasi teroris dan selama ini menghindar untuk menjalin hubungan dalam bentuk apapun.

ab/cp (afp, ap, rtr)

Laporan Pilihan