1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Gelombang Pengungsi Suriah Dapat menjadi Masalah Politik bagi Turki

Sejak awal pekan jumlah pengungsi ke Turki terus bertambah, menyusul kerusuhan berdarah di kota kecil Jisr al Shugour. Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 1000 warga Suriah menyeberangi perbatasan, memasuki wilayah Turki.

default

Rombongan pengungsi asal Suriah berjalan menuju perbatasan kke Turki, Rabu (08/06)

Tentara Suriah dengan tank-tank menyebar dekat Jisr al Shugour, mendorong 50.000 penduduknya untuk lari mencari perlindungan. Pemerintah di Damaskus menuduh kelompok bersenjata membunuh 120 tentaranya di kota itu, dan bersumpah akan mengirim pasukan untuk memulihkan keamanan.

Hari Rabu (08/06), Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, Turki tak akan menutup pintunya bagi pengungsi Suriah. Sikap Turki disambut gembira badan PBB urusan pengungsi. Juru bicara UNHCR di Turki, Metin Corabatir, mengatakan, sejak pemberontakan dimulai awal Maret hingga kini, sekitar 1.600 pengungsi ditampung di kamp di Yayladagi, kota di perbatasan Turki dengan Suriah.

Turki memperkirakan masalah ini sejak lama, kata Menteri Luar Negeri Ahmed Davutoglu. "Sejak kerusuhan dimulai di Suriah, Turki memperhitungkan kemungkinan datangnya gelombang pengungsi dan bersiap untuk itu. Bersamaan dengan itu, kami memikirkan bagaimana perkembangan itu bisa dicegah, maksudnya bagaimana agar di Suriah terjadi peralihan ke demokrasi secara damai. Jelas bahwa harus ada yang berubah di negara itu."

Akan tetapi, jika kerusuhan terus berlangsung dan jumlah pengungsi meningkat, hal ini dapat menjadi masalah bagi pemerintah Turki, lebih pada persoalan politik daripada kemanusiaan. Karena seperti yang sudah-sudah, pemerintah di Ankara menyebut penguasa di Damaskus sebagai kawan.

Menlu Ahmet Davutoglu tak menutup-nutupi pembelaan terhadap Prsiden Bashar al Assad. "Pada awal perkembangan di dunia Arab, Bashar Al Assad tak bisa disamakan dengan Gaddafi atau Mubarak. Sebetulnya ia masih tetap berbeda. Dia muda, berpengalaman internasional dan kuliah di Barat. Ia beberapa kali melontarkan harapan untuk membebaskan Suriah dari isolasi. Sayang sekali, pertimbangan masalah keamanan dan munculnya atmosfir kekerasan menghalangi Bashar dari proses reformasi yang segera."

Namun demikian, cepat atau lambat pemerintah Turki dapat melihat bahwa mereka dipaksa untuk mengubah sikap pro-Assad. Karena pengungsi dari Suriah dapat menyampaikan pada tuan rumah mereka bahwa sistem di Suriah jauh lebih represif daripada yang selama ini dipercayai pemimpin di Ankara.

Ditambah lagi seruan dunia interaisonal yang semakin keras. Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Navi Pillay, menyerukan pada Suriah untuk menghentikan serangan terhadap rakyatnya sendiri. Ia juga meminta kepada para tetangga Suriah untuk tidak mengirim pulang pengungsi ke negara itu dalam situasi seperti ini. "Tetap buka perbatasan Anda bagi pengungsi dari Suriah," desak Pillay.

Ulrich Pick/Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan