1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

G7 Beri Peringatan kepada Iran dan Rusia

13 Desember 2021

Para menlu G7 bertemu di Liverpool, mengancam Kremlin dengan sanksi ekonomi baru jika mereka menyerang Ukraina. Sementara itu, Teheran diperingatkan bahwa waktu hampir habis untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir.

https://p.dw.com/p/44Aia
Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken
G7 memperingatkan Rusia bahwa mereka menghadapi konsekuensi besar menyerang UkrainaFoto: Olivier Douliery/AP/picture alliance

Kelompok negara-negara G7 pada hari Minggu (12/12) mengeluarkan peringatan kepada Rusia dan Iran ketika G7 tengah berusaha untuk menghadirkan front persatuan yang kuat melawan ancaman global.

Para menteri luar negeri G7 yang bertemu di Liverpool, Inggris, mengatakan bahwa waktu hampir habis bagi Teheran untuk menyepakati kesepakatan baru untuk mengekang ambisi nuklirnya. Selain itu, mereka juga memperingatkan Moskow tentang konsekuensi jika menyerang Ukraina.

G7 siap untuk tingkatkan sanksi terhadap Rusia

Para menteri G7 membahas rencana untuk membatasi ambisi Rusia di tengah kekhawatiran bahwa Moskow mungkin bersiap untuk menyerang Ukraina.

Intelijen AS menilai bahwa Rusia dapat merencanakan serangan multi-front di Ukraina pada awal tahun depan, yang melibatkan hingga 175.000 tentara.

Kremlin telah membantah tuduhan itu, tetapi menuntut jaminan keamanan yang mengikat secara hukum bahwa NATO tidak akan menerima Ukraina sebagai anggota atau menempatkan pasukannya dekat dengan wilayah Rusia.

Para menteri G7 mendukung janji Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk mendukung Ukraina dan menghalangi Presiden Rusia Vladimir Putin dengan peringatan yang jelas tentang sanksi ekonomi yang berat.

"Kita sudah jelas bahwa setiap serangan oleh Rusia ke Ukraina akan menghadirkan konsekuensi besar yang akan menimbulkan kerugian besar," kata Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss pada konferensi pers saat pembicaraan G7 usai.

Mengenai sanksi ekonomi, Truss mengatakan G7 "mempertimbangkan semua opsi."

Dilansir Reuters, masih belum ada kesepakatan yang jelas tentang apakah G7 akan menjatuhkan sanksi pada proyek pipa gas Nord Stream 2.

Namun, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan sulit untuk melihat pipa itu beroperasi "jika Rusia telah memperbarui agresinya terhadap Ukraina, jika mengambil tindakan baru."

"Jadi saya pikir Presiden (Vladimir) Putin juga harus mempertimbangkannya, karena dia memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya," kata Blinken.

Setelah pertemuan G7, Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengatakan kepada stasiun televisi ZDF bahwa "jika terjadi eskalasi lebih lanjut, pipa gas ini tidak dapat beroperasi," mengklarifikasi ancaman sebelumnya yang dibuat oleh Kanselir Olaf Scholz.

Proyek pembangunan pipa yang mengalirkan gas Rusia ke Jerman, belum diberi izin operasi oleh pemerintah Jerman. Polandia dan AS telah meminta Jerman untuk menunda persetujuan apa pun sebagai peringatan kepada Rusia atas Ukraina.

Teheran diberi 'kesempatan terakhir'

Inggris, yang memegang kursi kepresidenan bergilir G7, mengatakan pembicaraan yang nantinya dilanjutkan di Wina adalah kesempatan terakhir Iran untuk datang berunding dengan resolusi serius.

"Masih ada waktu bagi Iran untuk datang dan menyetujui kesepakatan ini," kata Truss.

Negosiasi dimulai kembali pada hari Kamis (09/12) untuk mencoba menghidupkan kembali kesepakatan 2015 antara Iran dan kekuatan dunia, yang ditinggilkan Washington di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump pada tahun 2018.

Presiden AS Joe Biden mengatakan siap untuk kembali ke kesepakatan dan para pejabat Iran mempertahankan bahwa mereka serius untuk berkomitmen pada pembicaraan itu.

Negara Barat menuduh Teheran mundur dari kemajuan yang dibuat awal tahun ini dan bermain-main dengan waktu.

G7 berjanji untuk menyamai investasi Cina di Asia dan Afrika

Negara-negara G7 juga semakin khawatir dengan dominasi ekonomi dan teknologi Cina yang semakin meningkat, terutama di negara-negara berkembang.

G7 telah meluncurkan inisiatif "Bangun Kembali Dunia yang Lebih Baik" untuk menawarkan pendanaan kepada negara-negara berkembang untuk proyek-proyek infrastruktur besar sebagai alternatif pinjaman dari Cina yang mana menurut negara Barat, seringkali disertai dengan ikatan.

Berbicara di akhir pertemuan, Truss mengatakan G7 prihatin dengan "kebijakan ekonomi koersif" Beijing.

"Dan yang ingin kami lakukan adalah membangun investasi, mencapai jangkauan perdagangan ekonomi dari negara-negara demokrasi yang berpikiran sama dan mencintai kebebasan," katanya. "Itulah sebabnya kami meningkatkan investasi kami ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah."

Moto G7 Jerman: Anda Tidak Akan Pernah Berjalan Sendirian

Saat G7 tengah berupaya menghadirkan front persatuan, Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengatakan gagasan "kerja sama yang kuat" adalah sesuatu yang dapat ditemukan di Liverpool, mengutip anthem salah satu klub sepak bola kota tuan rumah, "You'll Never Walk Alone" yang dipopulerkan Gerry and the Pacemakers.

"Dan 'You'll Never Walk Alone' ini juga merupakan pedoman kepresidenan G7 Jerman di masa depan, fakta bahwa kita hanya dapat membentuk dunia ini bersama-sama, tidak sendirian," tutur Baerbock.

Jerman akan menjadi presiden G7 setelah Inggris pada tahun 2022.

rap/ha (AFP, AP, Reuters)