1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Dilema Dunia Kerja Digital

Yayasan Friedrich Ebert meneliti perubahan dunia kerja dan dampaknya bagi hak pekerja dalam studi "Digitale Arbeit in Deutschland - Potenziale und Problemlagen" (Bekerja digital di Jerman - Potensi dan Masalahnya).

#18110672 © nyul business; businessman; cafe; sitting; coffee; table; waiting; reading; newspaper; talking; mobile; phone; young; women; sweets; man; design; leisure; people; communication; food; woman; call; restaurant; female; 20s; using; wear; beautiful; quality; posing; cellphone; house; wireless; 30s; cell; portrait; read; caucasian; sweet; person; male; background; 3; color; brunette; fine; interior; service; speaking

Tuntutan kerja era digital, siap dihubungi setiap saat

Dulu anggota serikat pekerja mengusung plakat di gerbang pabrik "Hari Sabtu Papi milik saya!," ini masih diingat anggota pimpinan Serikat Pekerja ver.di Lothar Schröder. Kini pekerja membuka e-mail dinasnya setiap hari Minggu dan pada saat cuti, melihat data perusahaan dengan Cloud, mengolah dokumen bersama dengan pelanggan dan kolega dari seluruh dunia, kadang pada malam hari. Untuk mencapai para nomaden digital ini, serikat pekerja sendiri masuk ke jaringan, dikatakan Schröder.

"Kami harus memikirkan, dimana menempatkan diri pada kesenangan manusia, memanfaatkan otonomi, sekarang di sini, besok bekerja di sana. Hanya harus ada batas untuk lamanya pekerjaan, dan harus ada batas untuk volume pekerjaan."

Banyak pekerja senang menentukan sendiri, dimana dan kapan mereka bekerja. Pilihan ini masih terlalu sedikit ditawarkan, pendapat pakar sosiologi Michael Schwemmle: "Dan itu terutama sering dipraktekkan, sering terjadi pendiktean dari perusahaan, yang berorientasi pada pemberi order dan kurang melihat kebutuhan para pekerja".

Itu harus diubah dan baru akan terbuka peluang besar untuk humanisasi pekerjaan. Dan dari jaringan digital pada kenyataannya muncul pilihan kebebebasan baru dan otonomi lebih besar.

Foto von der Diskussion zum Thema Digitale Arbeit in Deutschland - Potenziale und Problemlagen am 25.4. in der Friedrich-Ebert-Stiftung Köln. Von links sind das Lothar Schroeder, Michael Schwemmle, der Moderator Manfred Kloiber, Marianne Janik und Goetz Hamann von der Zeit. Fotograf: Claudio Kerst Bild wurde von der Friedrich-Ebert-Stiftung zur Verfügung gestellt

Diskusi Friedrich-Ebert-Stiftung di Köln tentang dunia kerja digital Jerman

Schwemmle ikut merangkum studi yang dilakukan Yayasan Jerman Friedrich Ebert Stiftung "Bekerja digital di Jerman - Potensial dan Masalahnya". Mayoritas pekerja misalnya senang bekerja dari rumah. Tapi hanya sekitar 11 persen perusahaan yang menawarkan Telejob sebagai alternatif untuk bekerja di kantor. Berbeda misalnya dengan "mobilitas kerja". Hal itu menurut Schwemmle kebanyakan dipilih bukan secara bebas, melainkan untuk memenuhi tuntunan target pimpinan. Setelah hadir di kantor 8 jam, kebanyakan pemberi kerja mengharapkan pekerja tetap bisa dihubungi, terkait dengan tuntutan waktu reaksi yang singkat. Hasilnya, pekerja tidak lagi dapat "beristirahat".

Dampak Terhadap Kesehatan

Selain itu Smartphones dan Tablet PC memang gaya, tapi tidak ergonomis. Untuk jangka panjang, keyboard komputer yang kecil dan monitor yang memantul pada pencahayaan yang buruk, menimbulkan masalah kesehatan.

Memang hukum pekerjaan Jerman melindungi pekerja dari banyak pemaksaan. Tapi siapa yang dapat mengawasi hal-hal yang terjadi di luar perusahaan?

"Misalnya dapat diandalkan aspek-aspek teknis. Harus dilihat dengan kritis mengenai protokol Log-In, Log Out, harus dipertimbangkan bentuk perlindungan data yang sesuai.“

ILLUSTRATION - Eine Frau loggt sich am 04.08.2011 in Berlin auf einem iPad bei Facebook ein.

Facebook iPad

Schwemmle mengusulkan untuk "hak tidak bisa dihubungi" yang tercantum dalam kesepakatan tarif upah, dalam kesepakatan perusahaan atau bahkan harus tercantum dalam Undang- Undang.

„Jadi bukan jika seseorang mengatakan tanpa alasan, saya sekarang tidak berminat untuk dapat dihubungi, melainkan merujuk pada konsensus yang disepakati secara konkrit oleh jajaran pimpinan yang mungkin peraturan yang tidak simpatis, tapi dihormati oleh mereka. Hal semacam ini akan dipermudah, jika didukung oleh wakil kepentingan institusional, yakni Serikat Pekerja.“ Demikian pakar sosiologi Schwemmle

Laporan Pilihan