1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Beban Kerja Timbulkan Penyakit Psikis

DK/HP (dpa, afp)31 Januari 2013

Tuntutan dan beban kerja permanen membuat dari tahun ke tahun stamina pekerja menurun. Harus siap setiap saat dan tekanan waktu yang tinggi membuat pekerja kelelahan. Penyakit psikis menjadi penyakit rakyat.

https://p.dw.com/p/17UiN
ILLUSTRATION - Ein Mann trägt am 19.08.2011 in einem Büro in Berlin einen Stapel Akten.
Simbol gambar beban pekerjaan makin besarFoto: picture alliance / dpa Themendienst

Daftar nama-nama selebritis yang mengalami penyakit psikis cukup panjang. Bintang film Reée Zellweger, atlit ski Sven Hannawald, sepakbola profi Sebastian Deisler atau mantan ketua Partai SPD Matthias Platzeck. Persamaan mereka: akibat kelelahan total, mereka menarik konsekuensi darurat. Apakah burn out hanya penyakit para selebritis? Jawabannya tidak. Setiap orang dapat mengalaminya.

Globalisasi dunia kerja, penggabungan perusahaan-perusahaan di tingkat internasional, tekanan persaingan. Semua ini meningkatkan tuntutan terhadap para pekerja. Hari-hari kerjanya semakin panjang, juga pada akhir pekan mereka duduk di belakang meja kantor atau di rumah, menjawab atau menindak lanjuti e-mail yang membanjiri inbox mail mereka.

bad mood © Franz Pfluegl #23718645 fotolia
Pekerja makin merasa tidak puasFoto: Fotolia/Pfluegl

Tekanan tuntutan dunia kerja ini tidak menurun. Hampir 20 persen warga Jerman merasa kewalahan dengan pekerjaan, 43 persen pekerja di Jerman mengeluh mengalami stres. Ini data „Laporan Stres Jerman 2012“ yang dipublikasikan oleh Badan Perlindungan Kerja dan Kesehatan Kerja BAuA di Berlin (29/1).

Kolega yang ramah dan atmosfir pekerjaan yang baik membantu mengatasi beban kerja yang besar.

Untuk studi tersebut sekitar 18 ribu pekerja Jerman ditanyai mengenai tuntutan psikis, beban dan dampak stres aktivitas kerjanya sehari-hari. Hasilnya, tuntutan dan aspek positif aktivitas kerja sehari-hari sejak tahun 2005/2006 hampir tidak berubah pada „tingkat yang tinggi“.

Studi tersebut menunjukkan bahwa tekanan agenda acara dan prestasi di Jerman jauh lebih tinggi di antara ke-27 negara Uni Eropa. 52 persen pekerja di Jerman mengeluhkan hal itu. Sekitar 44 persen sering harus menghentikan aktivitas kerjanya karena telefon dan e-mail. Hampir 60 persen merasa terbebani dengan multitasking, yakni harus menyelesaikan berbagai pekerjaan sekaligus. Sekitar 35 persen pekerja punya beban kerja per minggu lebih dari 40 jam. Sementara 13 persen lainnya bahkan lebih dari 48 jam kerja per minggu.

Restrukturisasi Hantu Stres Terbesar

Yang terutama selalu menjadi pemicu stres adalah restrukturisasi perusahaan. Ini menyebabkan tekanan untuk berprestasi, membuat pekerja menjadi tidak tenang dan agresif.

Businessman hangs on an arrow of clock, isolated on red background. Fotolia_10981793_Subscription_L.jpg
Simbol gambar tekanan agenda acaraFoto: Andrey Zyk - Fotolia.com

Yang juga terutama memiliki beban adalah para pimpinan. Ini sekaligus menyulitkan melakukan kepemimpinan personal yang baik. Demikian dikatakan ketua BAuA Isabel Rothe.

Hal yang berpengaruh positif bagi situasi kerja adalah jika kerjasama di dalam tim berfungsi baik. 80 persen responden mengakui, mendapat bantuan dan dukungan dari kolega. Sementara 59 persen memuji adanya dukungan dari pimpinan.

Jerman Antisipasi Stres di Dunia Kerja

Menteri Tenaga Kerja Jerman Ursula von der Leyen menyerukan perusahaan dan serikat pekerja bersama-sama memerangi stres di tempat kerja. „Dibutuhkan tindakan di perusahaan-perusahaan kita,“ demikian kata von der Leyen dalam konferensi bertema psikostres di dunia kerja Selasa (29/1). Tanpa mitra sosial hal itu tidak dapat terwujud. Dikatakan von der Leyen lebih lanjut, „tahun 2011 kami mencatat 59 juta hari dimana pekerja sakit akibat penyakit psikis. Itu adalah kenaikan lebih dari 80 persen dalam 15 tahun terakhir.“ Dari situ terjadi kerugian produksi lebih dari enam milyar Euro.

Apakah pekerjaan membuat sakit? Secara umum tidak. Menurut perkiraan pakar Badan Perlindungan Kerja dan Kesehatan Kerja BAuA pekerjaan merupakan faktor pemberi kepuasan. Kesehatan psikis para pekerja biasanya lebih baik daripada para penganggur. Namun yang membuat kritis adalah tekanan waktu terus menerus dan kurangnya kesempatan beristirahat, tim kerja yang positif dan peluang mengatur sendiri rencana dan pembagian kerja. Menurut „Laporan Stres Jerman 2012“ insinyur, pakar kimia, fisika dan matematika adalah profesi yang paling sering berada dalam tekanan waktu dan prestasi. Tapi dengan adanya ruang gerak lebih besar, mereka lebih jarang mengalami keluhan kesehatan.

Junge Frau frustriert am Arbeitsplatz Symbolbild Stress am Arbeitsplatz 43600988
Pekerja perempuan stres di tempat kerjaFoto: Fotolia/Dan Race

Apakah Masalah Psikis Menjadi Tren? Sebagian pakar membenarkan hal itu, apalagi burn out bukan gambaran penyakit yang resmi. Perusahan memandang alasan semakin banyaknya surat sakit dari dokter, adalah diagnosa akibat penyakit psikis.