1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Dalai Lama: "Berharap Yang Terbaik, Bersiap Hadapi Yang Terburuk"

Dalam rangka ulang tahun Dalai Lama, DW menurunkan kembali wawancara eksklusif kami dengan pemimpin spiritual Tibet ini.

Agustus 2014, Dalai Lama berkunjung ke kota Hamburg di Jerman. Kepada DW ia berbicara tentang optimismenya akan Tibet, situasi di Irak dan Suriah, serta bertambahnya populasi umat Buddha di Cina.

Berikut kami paparkan cuplikan dari hasil wawancara eksklusif reporter DW Matthias von Hein dengan Dalai Lama. Wawancara lengkapnya bisa Anda simak pada video di bawah.

Dalai Lama und Matthias von Hein in Hamburg 23.8.2014

Dalai Lama dan Reporter DW Matthias von Hein

"Saya sudah pensiun sepenuhnya dari tanggung jawab politik sejak 2011. Pertanyaan Anda cenderung politis. Tapi karena Anda menanyakannya: Ya, kekuatan ekonomi dan militer Republik Rakyat Cina terus bertambah. Tapi di waktu bersamaan, kita bisa melihat sejumlah warga Cina yang sangat mendukung hak dasar kami (warga Tibet-Red), karena kami tidak menuntut kemerdekaan."

"Populasi umat Buddha cukup besar di Cina. Sekitar tiga atau empat tahun lalu, universitas di Cina mensurvey ada berapa banyak umat Buddha di Cina. Angkanya mencapai lebih dari 300 juta. Banyak umat Buddha yang berasa dari kaum berpendidikan. Kini semakin banyak warga Cina yang tertarik terhadap Buddha Tibet. termasuk sejumlah anggota Partai Komunis Cina."

"Perjuangan kami adalah perjuangan antara kekuatan senjata dan kekuatan kebenaran. Dalam jangka pendek, kekuatan senjata lebih menentukan. Tapi saya percaya, bahwa dalam jangka panjang, kekuatan kebenaran akan lebih hebat lagi."

"Saya mempelajari psikologi Buddha. Saya juga percaya akan hubungan sebab akibat. Lalu ada kejadian-kejadian yang menyedihkan. Pembunuhan manusia, tanpa ampun. Anak-anak dan perempuan turut dibunuh. Menurut saya ini adalah hasil akibat tertentu. Krisis Irak: Jika kebijakan Amerika untuk menjatuhkan Saddam Hussein tidak dilakukan aksi kekerasan, saya rasa situasinya kini mungkin akan lebih baik. Saya yakin, krisis di awal abad 21 ini adalah hasil kesalahan di abad sebelumnya.

"Saat Hu Yaobang (pemimpin Partai Komunis Cina dan Republik Rakyat Cina 1980-1987 - Red) berkunjung ke Lhasa awal tahun 80an, pidato-pidato dan komentarnya sangat realistis. Saat itu semua pihak memiliki harapan besar. Saya masih percaya, jika Hu Yaobang memegang kekuasaan lebih lama, masalah Tibet sudah terselesaikan. Xi Jinping sepertinya mengikuti pendekatan yang senada. Jadi ada harapan. Namun, lebih baik memiliki harapan terbaik dan untuk sementara waktu mempersiapkan diri menghadapi yang terbaik."

Laporan Pilihan