1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Clinton dan Lavrov Tunjukkan Sikap Sepakat

Saat kunjungan Menlu AS Hillary Clinton di Moskow, pemerintah Rusia menyatakan sikap optimis, perundingan pengurangan senjata strategis akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

default

Menlu AS Hillary Clinton

Dalam kunjungan resmi pertamanya hari Selasa (13/10) di Moskow, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton benar-benar ingin melakukan awal yang serius. Kali ini ia dapat dikatakan berhasil dalam sejumlah isu penting. Misalnya yang berkaitan dengan kelanjutan perjanjian START 1 yang mengatur pembatasan senjata strategis nuklir. Perjanjian itu akan berakhir Desember mendatang.

Kini rancangan pertama perjanjian untuk penggantinya telah rampung dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergej Lavrov puas: "Kami mencatat kemajuan-kemajuan penting. Kami memang juga membicarakan masalah yang masih harus disepakati dan harus dirampungkan. Tetapi kami sepakat bahwa perjanjian START yang baru akan selesai pada waktunya, yaitu selambatnya Desember tahun ini."

Kesepakatan juga tercapai dalam soal penangkis rudal bersama. Sebelumnya, rencana AS untuk membangun sistem penangkis rudal di Eropa Timur sempat membuat keresahan yang cukup lama di Rusia. Kremlin berulang kali menegaskan, sistem itu merupakan ancaman bagi keamananannya.

Menyusul pembatalan pemasangan sistem anti rudal itu oleh Presiden AS Barack Obama baru-baru ini, Clinton hari Selasa (13/10) menunjukkan petanda, AS dalam hal ini ingin bekerja sama dengan Moskow: "Presiden Obama dan saya berpendapat bahwa hubungan yang ditandai oleh kerja sama dan tanggung jawab bersama benar-benar merupakan inti dari kemitraan antara AS dan Rusia pada abad ke 21 ini."

Memang masih ada isu-isu yang bertolak belakang antara kedua negara itu, misalnya mengenai konflik Georgia. Clinton kembali menegaskan bahwa ke depan pun, AS tetap tidak akan mengakui kedaulatan Abkhazia dan Osetia Selatan yang melepaskan diri dari Georgia.

Tetapi Washington kini menekankan pragmatisme. Dalam semua tema di mana kesepakatan mungkin tercapai, Moskow diharapkan dapat dilibatkan. Misalnya, masalah yang menyangkut Iran dan program atomnya yang kontroversial. Di Moskow, Menlu Rusia Lavrov kembali menentang gagasan untuk menerapkan ancaman melalui sanksi. Untuk saat ini, ini dinilai kontraproduktif. Tetapi AS tidak ingin melakukan tekanan dalam masalah ini. Kembali Lavrov: "Menyangkut Iran, kami sama sekali tidak memohon sesuatu. Memang janggal kalau tidak begitu, karena posisi kami mengenainya sama. Kami ingin menyelesaikan masalah yang menyangkut program atom Iran. Negara itu punya hak atas penggunaan energi nuklir secara damai. Tetapi berbareng dengan itu, Teheran harus menaati perjanjian Non-Proliferasi Nuklir."

Dari sudut pandang AS, pintu masih belum tertutup. Washington masih tetap bersedia untuk mencari penyelesaian diplomatik. Namun Menlu AS Clinton juga mengutarakan bahwa masih belum tiba waktunya untuk menerapkan sanksi. Dalam hal ini masih harus dilihat bagaimana sikap Washington nantinya, bila dalam isu program atom Iran tidak ditemukan ruang untuk perundingan. Di sini akan terlihat, sejauh mana Rusia dan AS dapat menunjukkan posisi yang sama.

Stephan Laack/Christa Saloh

Editor: Ging Ginanjar

Laporan Pilihan